Home / Kiat / “Menjerat” Konsumen dengan “Memanjakannya”

“Menjerat” Konsumen dengan “Memanjakannya”

Permak Blazer

Banyak cara untuk bisa memenangkan persaingan, saat memasuki bisnis yang disesaki banyak pemain. Salah satunya yakni memanjakan konsumen agar mereka tidak kabur ke tempat lain. Seperti yang dilakukan Pritta, dalam memasarkan blazer-blazer reject-nya 

e-preneur.co. Sebuah bisnis akan mengalami stagnasi jika tidak ada taktik untuk menumbuhkembangkannya. Apa lagi, jika bisnis itu sudah banyak pemainnya.

Imbasnya, bisnis yang sedang dijalankan bukan cuma mentok, melainkan bisa lenyap karena tergilas oleh persaingan. Demikian pula, dengan bisnis blazer.

Kita semua mengetahui bahwa di hampir semua pusat perbelanjaan selalu terdapat outlet yang menjual pakaian kerja ini. Bahkan, jumlahnya bisa mencapai lebih dari 10 outlet dalam satu blok mal.

Hal ini disadari pula oleh Pritta Satyanti, pemilik gerai blazer yang memajang dagangannya di lantai 2 ITC Kuningan, Jakarta Selatan. Karena itu, sejak membuka Qiu-Qiu, demikian nama tokonya, ia sudah menggunakan strategi mematok blazer-nya dengan harga yang terjangkau yaitu Rp54.000,-.

“Pertimbangan saya saat itu, blazer-blazer ini selain ditujukan bagi konsumen kalangan menengah ke bawah, juga untuk mereka yang baru lulus kuliah dan langsung masuk ke dunia kerja. Dengan kondisi seperti itu, tentu gaji mereka masih sangat kecil. Jadi, blazer-blazer ini saya bandrol dengan harga yang terjangkau bagi keuangan mereka,” jelas Pritta, yang membuka outlet pertamanya itu tahun 2004.

Setahun kemudian, Pritta membuka fasilitas permak. “Dengan demikian, Qiu-Qiu bukan sekadar menjual produk melainkan juga memberi solusi kepada konsumen. Misalnya, ketika blazer yang mereka beli kebesaran atau ada beberapa bagian yang tidak pas di tubuh mereka, maka kami akan mempermaknya sampai terasa fit di badan mereka,” ujar Pritta, yang menanamkan modal sebesar Rp15 juta di bisnis ini.

Dalam perkembangannya, permak ini bukan hanya untuk memperkecil, melainkan juga untuk memperbesar. Tentunya, sampai batas-batas tertentu yaitu tidak lebih dari 4 cm.

Fasilitas permak juga dihadirkan untuk mengatasi “masalah” kurang lengkapnya ukuran blazer-blazer ini. Artinya, jika konsumen menginginkan suatu model blazer dengan ukuran tertentu, maka Qiu-Qiu tidak bisa memberinya. “Apa yang kami pajang ya itulah yang kami jual. Saya tidak mempunyai stok barang,” ucap alumnus Universitas Sahid, Jakarta, ini.        

Bukan sekadar menjual produk, melainkan juga memberi solusi kepada konsumen

Untuk permak lengan (memendekkan), konsumen tidak perlu membayar. Tapi, kalau ingin rombak total, konsumen akan dikenai biaya Rp16 ribu/blazer seharga Rp54.000,- (umumnya biaya rombak total Rp100 ribu/blazer, red.) atau Rp7 ribu/dua blazer. Sementara, untuk perombakan tiga blazer atau lebih, justru gratis. Untuk sekadar memendekkan lengan dibutuhkan waktu 20 menit−1 jam, sedangkan untuk rombak total perlu waktu maksimum seminggu.

Diakuinya, kekuranglengkapan ukuran blazer-nya disebabkan blazer-blazer ini sebenarnya stok lama. Bahkan, sebagian besar di antaranya produk reject atau lebih tepatnya cacat produksi. Misalnya, lubang kancingnya belum dilubangi, jahitannya belum selesai, dan sebagainya. Sehingga, sebelum dilempar ke pasar, Qiu-Qiu akan “membereskannya” terlebih dulu.

“Jadi, harap maklum kalau harganya jauh lebih murah ketimbang blazer-blazer pada umumnya. Meski begitu, ini produk impor. Hal ini, bisa dilihat dari bahan dan jahitannya,” kata Pritta, yang memperoleh barang dagangannya ini dari supplier.

Tahun 2007, ia membuka satu harga lagi yaitu Rp99.000,-. Lantaran, ada kenaikan di sana-sini, seperti harga barang, nilai sewa toko, gaji karyawan yang jumlahnya makin banyak, dan lain-lain.

Dua tahun berikutnya, ia menambah item barangnya berupa blazer-blazer eksklusif atau yang memiliki merek yang telah mendunia, seperti Armani dan Boss. Blazer-blazer yang ditujukan bagi kaum pria ini dipatok dengan harga Rp180.000,- sampai Rp225.000,-.

“Dalam satu bulan, saya memperoleh pasokan sebanyak 600–700 blazer dengan sistem beli putus. Sementara dalam penjualannya, yang telah saya patok dengan harga Rp54.000,- dan Rp99.000,- rata-rata terjual sebanyak 500 blazer. Sedangkan yang saya patok dengan harga Rp180.000,- dan Rp225.000,-, terjual sebanyak 80 blazer,” jelasnya.

Setelah masa satu bulan display berakhir, ia menambahkan, blazer-blazer yang tersisa akan turun harga. Misalnya, yang seharga Rp99.000,- akan turun menjadi Rp54.000,-. Sedangkan, yang seharga Rp54.000,- akan dimasukkan ke dalam kotak dan berubah harga menjadi Rp36.000,-.

Kiat Pritta memanjakan sekaligus “menjerat” konsumennya, tidak berhenti sampai di situ. Ia menjalin kerja sama dengan sebuah laundry. “Berdasarkan pengalaman saya sebagai karyawati di mana waktu luang sangat terbatas, biasanya para karyawati itu tidak memiliki waktu untuk mampir ke sana kemari. Berkaitan dengan itu, Qiu-Qiu menerima permintaan laundry dan pengiriman barang setelah di-laundry,” ungkap mantan sekretaris direktur investasi PT Jamsostek (Persero) ini.

Untuk laundry, konsumen dikenai biaya sekitar Rp6 ribu/blazer. Sementara untuk pengiriman barangnya, digunakan jasa Tiki. “Tapi, kalau tempat tinggal konsumen tidak jauh dari tempat tinggal lima karyawan saya (Kebayoran Baru, Depok, Pasar Minggu, Tebet, dan Bintaro), barang itu akan mereka antarkan sampai ke kediaman konsumen, gratis!” tambahnya.

Sementara untuk pemakaian angka sembilan pada setiap harga barangya, ia hanya beralasan menyukai angka sembilan. “Di sisi lain, saya memberi harga produk yang mengacu pada angka sembilan hanya agar terasa lain bagi konsumen. Sehingga, mereka akan terus mengingatnya (brand image). Selain itu, ternyata eye catching ketika dipasang ke mannequin,” ujarnya.

Hasilnya, memang efektif. Banyak pengunjung ITC ini yang ketika melewati Qiu-Qiu akan berhenti sejenak. Karena, merasa aneh dengan harga yang tercantum. Kemudian, mereka mampir, memilih-milih, membeli, dan mendapat penawaran-penawaran lain yang menarik seperti tersebut di atas.

Imbasnya, toko yang semula hanya satu itu, kemudian berkembang menjadi empat dan berhadap-hadapan. Selain itu, konsumennya pun berkembang yang semula dari kalangan menengah ke bawah, kini juga dilanggani beberapa direksi perusahaan-perusahaan besar, kaum ekspatriat, dan dari berbagai instansi pemerintah.

“Untuk kalangan ekspatriat, mungkin hal ini disebabkan mereka kesulitan ketika akan menjahitkan blazer pada tukang jahit. Sementara, karyawan-karyawan saya bisa berbahasa Inggris secara sederhana. Di samping itu, kami juga profesional dan ter-organize dengan menyediakan lembar-lembar working order yang berisi penjelasan kapan blazer tersebut selesai dipermak, blazer-nya yang mana, siapa pembelinya, siapa yang mempermak, dan lain-lain,” ungkap Pritta, yang juga memiliki pelanggan dari Jepang, Korea, Rusia, Amerika, Inggris, dan Malaysia.

Ke depannya, Pritta hanya ingin mempertahankan apa yang sudah diraihnya. Mengingat, mulai banyak toko di sekitarnya yang menyomot sebagian strateginya.

“Dulu, saya hanya ingin membentuk brand image. Sekarang, saya tinggal me-maintain pelanggan agar tidak kabur ke tempat lain. Omsetnya tidak besar tidak apa-apa, yang penting survive,” pungkasnya.

Check Also

Menembus Pasar Roti dengan Menghadirkan yang Tidak Ada Menjadi Ada

Roti Malam Menghadirkan yang tidak ada menjadi ada merupakan salah satu strategi bisnis, yang mampu …