Home / Senggang / Resto Area / Tawarkan Sensasi Menyantap Menu Sehat di Rumah Petani

Tawarkan Sensasi Menyantap Menu Sehat di Rumah Petani

Coffee Kebon’s

Menyantap berbagai menu lokal memang dapat dilakukan di tempat-tempat makan yang mengusung konsep tradisional. Tapi, mungkin hanya di Coffee Kebon’s, pengunjung juga dapat menyantap menu ndeso sekaligus sehat dalam suasana seperti di pedesaan atau rumah petani asli

e-preneur.co. Jika melintas di Jalan Area Sawah, Desa Kabekelan, Prembun, Kebumen, Jawa Tengah, cobalah layangkan sejenak pandangan Anda ke sebuah rumah yang unik. Bangunan yang bertuliskan Coffee Kebon’s itu, ternyata bukan sekadar gambaran rumah petani di pedesaan, melainkan juga sebuah tempat makan.

“Semula, saya hanya sekadar membangun rumah kebun yaitu sebuah rumah tinggal untuk keluarga saya dengan kebun di halaman belakang. Lalu, di kebun itu, saya menanam berbagai tanaman baik itu buah-buahan maupun sayuran,” tutur Wasiat Sugianto.

Pada saat yang hampir bersamaan, Wasiat mulai merintis Coffee Kebon’s. Sehingga, hasil kebun tersebut, bukan cuma menjadi menu makanan keluarganya, melainkan kemudian juga menjadi menu makanan di kafe-nya itu. “Hanya begitu impian saya,” lanjut Wasiat, yang membuka Coffee Kebon’s pada tahun 2020 atau saat pandemi.

Coffee Kebon’s menyediakan menu-menu tradisional yang tentu saja lebih sehat, dengan harga terjangkau. Seperti, Oseng-oseng (Tumis) Genjer, serta Lodeh Lumbu dan Jantung Pisang yang disediakan secara prasmanan dalam panci gerabah. Sementara lauknya berupa Tahu dan Tempe Bacem, serta Iwak Kali (ikan air tawar).

“Menu favorit di Coffee Kebon’s yakni Ingkung Bakar yang dibadrol dengan harga Rp28 ribu. Ini menu paling mahal. Kalau menu yang murah itu seperti mendoan dan singkong goreng, yang dibandrol dengan harga Rp9 ribu. Sementara minuman favoritnya yaitu kopi dan rempah-rempah,” kata sarjana pertanian dari Universitas Diponegoro, Semarang, Jawa Tengah, ini.

Hampir semua bahan makanan dan minuman di sini berasal dari kebun sendiri

Selanjutnya, para tamu akan menyantap makanan mereka di kursi dan meja yang dibuat dari kayu yang dulu digunakan oleh Kakek dan Nenek kita di desa, di dalam ruangan yang sudah terang benderang tanpa perlu cahaya lampu dan sejuk meski tanpa pendingin ruangan. Sementara sejauh mata memandang, yang tampak tanaman padi yang menghijau dan berbagai bunga. “Perabotan yang ada di sini masih asli. Saya mendapatkannya dengan hunting ke berbagai tempat,” jelasnya.

Berbicara tentang para tamu, menurut Wasiat, selalu ada. Misalnya, pada pagi hari Coffee Kebon’s akan dikunjungi mereka yang usai berolahraga sepeda. Sementara pada pada siang hari, para karyawan berdatangan untuk makan siang. Sore hari, dikunjungi oleh keluarga. Sedangkan pada malam hari, dikunjungi anak-anak muda. Sekadar informasi, Coffee Kebon’s beroperasi dari jam 10.00 sampai 22.00 setiap hari.

“Setiap hari selalu ada pengunjung. Tapi, tingkat keramaiannya berbeda-beda. Artinya, kadang biasa-biasa saja, kadang sangat ramai. Maklum, ini wilayah kecil. Masyarakat sekitar belum berkunjung ke sini, karena daya dukung mereka belum memungkinkan,” ujar Wasiat, yang menjalankan usaha ini bersama sang istri, Wuri Kisdiyati.

Uniknya, kalau boleh dibilang begitu, kebanyakan pengunjung justru datang dari kota (Kebumen) atau luar kota (Purworejo). Mereka mengetahui keberadaan Coffee Kebon’s melalui informasi dari mulut ke mulut, media sosial milik pengunjung atau youtuber, dan review dari pengunjung, serta media.

Untuk menambah jumlah tamu, Wasiat berencana melakukan penataan parkir. Sebab, dengan parkir yang tertata diharapkan akan banyak kendaraan travel yang berkunjung.

Selain itu, membangun sarana ibadah, menyediakan menu-menu yang praktis, dan membuka toko oleh-oleh. Mengingat, dengan luas lahan 3,25 ha, baru sekitar 1.500 m²‒2.000 m² yang digunakan untuk rumah kebun.

Check Also

Bukan Sekadar Pasar

Pasar Gede Hardjonagoro Berbeda dengan pasar pada umumnya yang hanya difungsikan untuk tempat berjual beli, …