Home / Agro Bisnis / Bisa Dipelihara, Bisa Pula Dibisniskan

Bisa Dipelihara, Bisa Pula Dibisniskan

Guinea Pig

Bukan babi, melainkan sejenis tikus. Tidak berasal dari Guinea, tapi dari Andes. Semula bahan makanan, namun lantaran imut, berbulu tebal dan tidak berekor, serta bersifat jinak, maka statusnya berubah menjadi hewan peliharaan. Itulah, Guinea Pig yang sangat diminati para hobiis mancanegara dan mulai menular ke para hobiis dalam negeri

e-preneur.co. Seiring dengan perkembangan zaman, binatang-binatang yang tidak lumrah dipelihara, kini juga dipelihara. Salah satunya, Guinea Pig (Latin: cavia porcellus, red.).

Guinea Pig (GP) bukanlah babi, melainkan sejenis tikus. Karena, sama halnya tikus, GP merupakan anggota keluarga hewan pengerat (caviidae) yang berasal dari Amerika Selatan.

Karena itu, di Indonesia, ia lebih sering disebut tikus Belanda. Padahal, GP juga tidak berasal dari Guinea (sebuah negara di Afrika Barat, red.), apa lagi Belanda, tapi dari Andes (sebuah kawasan di Amerika Selatan, red.).

Di negara-negara Andean (begitu sebutan bagi negara-negara yang berada di kawasan tersebut, red.), GP dijadikan sumber makanan, obat-obatan, dan juga bagian dari upacara keagamaan. Konon, sampai sekarang, sebagian dari tujuh negara tersebut (Kolombia, Ekuador, Peru, dan Bolivia) masih menjadikannya sebagai makanan.

Selain itu, GP juga sudah dijadikan binatang peliharaan sejak lebih dari 5.000 tahun sebelum masehi. Sebab, binatang yang juga mirip marmut tapi dalam ukuran yang lebih kecil ini terkesan imut-imut.

Maklum, berat badan maksimalnya hanya 1 kg. Selain itu, GP memiliki bulu tebal dan tidak berekor, bersifat jinak, serta mudah pakan dan perawatannya.

GP juga terbagi menjadi dua jenis. Pertama, GP long hair, seperti peruvian, silkie, texel, alpaca, dan coronet. Kedua, GP short hair, seperti american, teddy, white crested, dan abyssinian.

Di samping itu, lantaran dianggap memiliki nilai estetika yang tinggi, binatang yang diperkenalkan para pedagang Eropa pada abad ke-16 itu pun berubah menjadi hewan peliharaan, sekaligus sahabat manusia. Bukan cuma itu, di kalangan masyarakat Barat, GP telah meraih popularitas yang luas sebagai hewan peliharaan keluarga. Hingga, didirikan beberapa organisasi yang khusus menternakkan GP dengan berbagai variasi dan komposisi warna bulu.

Namun, di negara kita, GP belum mempunyai banyak peminat. Karena, banyak orang yang belum memahami bagaimana memeliharanya.

Sudah layak jual, meski anakannya baru berumur 45 hari

Menurut Suraji Nugraha, peternak GP di Yogyakarta, untuk makanannya, cukup diberi rumput. Selain itu, berikan pula timothy hay (sejenis rumput yang sudah dikeringkan, red.) dan pellet yang terbuat dari Rumput Alfafa. Karena, makanan itu mengandung protein dan asam amino.

Di samping itu, GP juga hewan yang membutuhkan sayuran yang bervariasi. Sehingga, agar gizinya cukup, sediakanlah 1/8 bagian paprika, jagung manis segar, wortel, buncis, dan selada.

Sementara untuk menternakannya, pria yang menamai peternakannya Guinea Pig Super ini menyarankan untuk menyiapkan kandang yang terbuat dari bambu, besi, atau kayu. Idealnya, kandang itu berukuran minimal 60 cm x 70 cm x 50 cm. Sehingga, hewan yang biasa hidup berkelompok di dataran berumput ini dapat berkembang biak dengan baik dan melakukan berbagai aktivitas lainnya.

Lantas, kawinkan si jantan dengan si betina pada umur (idealnya) tujuh bulan dengan “komposisi” satu GP jantan dan lima GP betina. Selanjutnya, si betina akan bunting dan melahirkan 2−3 bayi GP.

“Dalam setahun, sebaiknya si induk melahirkan tiga kali saja. Pengaturan demikian, dimaksudkan untuk menjaga kesehatannya dan agar dalam perawatannya dapat berlangsung dengan maksimal,” jelas Suraji, yang membangun bisnisnya dan memasarkan “produknya” sejak tahun 2008 ini.

Apa lagi, ia menambahkan, seiring dengan bertambahnya umur (umur 4−5 tahun, red.), produktivitas si induk akan menurun hingga hanya mampu melahirkan 1−2 ekor saja. “Setelah masa reproduksi berakhir, GP tetap menjadi hewan kesayangan sampai akhir hayatnya (minimal umur tujuh tahun, red.). Bahkan, ia masih bisa dijual ke orang-orang yang memang senang memeliharanya,” tutur pria, yang mengeluarkan Rp2,5 juta−Rp3 juta sebagai modal awal usahanya.

Sementara anak-anak yang dilahirkan, dengan perawatan yang baik, 85% di antaranya mampu bertahan hidup. Karena, secara fisik, anakan GP mempunyai kelengkapan sebagai seekor GP.

Dalam hitungan jam, mereka sudah dapat makan sendiri dan secara naluriah sang induk akan merawat anak-anaknya. “Walau begitu, tetap diperlukan campur tangan manusia yaitu dengan memberi perhatian lebih pada induk GP yang sedang menyusui dan membantu anakannya agar memperoleh asupan gizi yang cukup,” jelas pemilik 200 indukan GP long hair ini.

Ketika berumur minimal 45 hari, anakan-anakan GP sudah layak jual. Sebab, pada umur itu, mereka sudah dianggap mandiri atau mampu memenuhi kebutuhan makannya sendiri. Selain itu, secara fisik, tidak lagi tergantung pada susu induknya.

Harga anakan dan indukan GP sangat tergantung pada jenis kelaminnya. Contoh, GP betina dihargai lebih tinggi ketimbang yang jantan. Sebab, si betina mampu berproduksi.

“Di samping itu, juga dipengaruhi oleh warna, bulu, corak, dan jenisnya. Karena, dianggap memiliki keunikan tersendiri bagi para hobiis,” kata pemilik tujuh jenis GP yaitu peruvian, silkie, alpaca, texel, abbyruvian, american, dan abyssinian ini.

Kendati belum banyak orang di negara ini yang meminati GP, tidak berarti tidak ada peminatnya. Sebab, fakta mengatakan bahwa Suraji melalui Guinea Pig Super-nya terus melayani permintaan dari para hobiis (dan peternak) dari seluruh Indonesia. Terutama, dari Jakarta, Bandung, Surabaya, Makassar, dan Medan, serta Malaysia dan Brunei Darussalam. Hingga, sarjana seni rupa dari Institut Seni Indonesia, Yogyakarta, ini, berani memperkirakan bahwa prospek GP masih akan terus ada.

Check Also

Meski Imut, tapi Prospek Bisnisnya Besar

Landak Mini Sama sekali tidak berbahaya, unik, eksotis, dan lain daripada yang lain. Sehingga, memelihara …