Home / Inovasi / Kardus Bekas Susu itu Masih Bisa Menjadi Suvenir yang Banyak Peminatnya

Kardus Bekas Susu itu Masih Bisa Menjadi Suvenir yang Banyak Peminatnya

Celengan Ken

Segala sesuatu bila ditekuni, maka akan selalu ada jalannya. Apalagi, bila ketersediaan bahan bakunya tidak ada masalah. Seperti yang terjadi pada Nuning, yang awalnya hanya memanfaatkan kardus bekas susu menjadi celengan, tapi kemudian ditekuni dan berakhir menjadi bisnis yang serius

e-preneur.co. OmahKenKen terletak di kawasan Munjul, Cipayung, Jakarta Timur. Rumah kreativitas, tempat anak-anak bermain sambil belajar ini hadir pada 7 Oktober 2012.

Di sini, terdapat tempat untuk bermain, perpustakaan kecil, dan kantin kecil yang menyediakan makanan organik. Tapi, untuk produk-produknya yang berupa Celengan Ken, Kotak Serbaguna Ken, dan sebagainya sudah ada sejak akhir tahun 2010.

“Kendra minum ASI (Air Susu Ibu) sampai berumur 14 bulan. Sekitar Oktober 2010, ia sudah menolak ASI. Lalu, kami ganti dengan Susu Pasteurisasi,” kisah Wahyuning Widowati, tentang buah hati yang ditunggu kehadirannya selama delapan tahun itu.

Ketika perempuan yang akrab disapa Nuning itu melihat kotak susu itu, ia berpikir kotak susu itu bagus. Dalam arti, keras, diinjak sekali pun akan kembali ke bentuknya semula.

Lantas, ia mencuci bagian luar dan dalam kotak susu itu hanya untuk mengetahui apakah hancur atau tidak. Dan, ternyata tidak.

“Usai dikeringkan, aku juga tertarik dengan bentuknya yang lucu. Kemudian, aku bungkus dengan kertas Koran. Tapi, kok buntet. Akhirnya, aku lubangi dan…jadilah celengan,” lanjutnya.

Dalam sehari, Kendra bisa menghabiskan 1,5 lt susu. Sehingga, dalam sebulan, menyisakan sekitar 40 kotak susu.

“Pada awalnya, aku masih bisa mengerjakan sendiri, sepulang dari kantor. Lama-lama, merasa tidak sanggup dan akhirnya aku mencari orang untuk membantu membuatkan,” tuturnya.

Tidak ada masalah untuk ketersediaan bahan baku

Dan, ia menemukan warga di sekitar tempat tinggalnya yang kebetulan pengrajin janur. Selanjutnya, mereka membuat kesepakatan bagi hasil dari penjualan.

Lantas, Nuning memasukkan produk tersebut ke website miliknya (sebelum menghasilkan produk sendiri, Nuning sering mengikuti berbagai training internet marketing untuk mengetahui, misalnya, bagaimana caranya menjualkan produk orang lain melalui blog/website miliknya, red.). Selain itu, ia juga sounding ke teman-temannya.

“Akhirnya, mereka memesan baik untuk suvenir ulang tahun, sekadar hadiah untuk keponakan, suvenir lebaran, dan lain-lain. Hal ini, memicuku menjadikannya bisnis yang serius,” kata kelahiran Surakarta, 29 November 1977 itu.

Memang, pada awalnya, Nuning membuat Celengan Ken (nama produknya, red.) hanya untuk anak semata wayangnya itu. Untuk mendidik Kendra agar gemar menabung dari kecil.

Namun, dalam perkembangannya, ia berpikir mengapa tidak mengembangkannya menjadi usaha. “Kalau selama ini bisa menjualkan produk orang lain, mengapa aku tidak menjual produkku sendiri,” ujarnya. Berikutnya, ia mengganti bungkusnya dari kertas koran menjadi kertas kado dari yang harganya murah sampai yang mahal.

Berbicara tentang prospeknya, menurut sarjana public relations dari Universitas Mercu Buana ini, so far bagus. Kalau mau menekuninya, selalu ada jalan. Apalagi, secara bahan baku tidak ada masalah.

“Aku memperolehnya baik dari yang aku beli maupun dari yang memberiku gratis. Yang jelas, bahan bakunya dari sampah bersih di rumah,” pungkasnya.

Check Also

Cucian Bersih, Ekosistem Terjaga

Deterjen Minim Busa Isu ramah lingkungan membuat para pelaku usaha terus menggali ide untuk menciptakan …