Home / Celah / Dari Limbah Menjadi Rupiah

Dari Limbah Menjadi Rupiah

Tenun Lurik Kertas Koran

 

Anda mempunyai koran bekas? Jangan buru-buru diloakkan. Sebab, di tangan Yoga, kertas-kertas itu dapat ditenun laiknya benang hingga menghasilkan produk jadi yang fungsional dan bernilai jual. Sebuah celah usaha yang menjanjikan, bukan?

 

[su_pullquote]Karena dalam proses memilin dilakukan dengan sangat kuat, maka kertas tidak akan mudah robek. Dengan demikian, hasil karya dari tenunan kertas koran tersebut dijamin awet [/su_pullquote]

e-preneur.co. Di tangan orang-orang yang kreatif, limbah dapat berubah menjadi barang yang fungsional dan bernilai. Salah satunya, seperti yang dilakukan Sandiyo.

Yoga, begitu ia akrab disapa, “menciptakan” tenun lurik dari koran bekas. “Bertahun-tahun saya langganan koran. Hingga, koran-koran yang habis dibaca itu berserakan di mana-mana dan membuat kotor. Kebetulan, saya mempunyai usaha tenun lurik. Akhirnya, saya padukan tenun lurik dengan koran-koran bekas tersebut,” tutur Yoga.

Di sisi lain, sebenarnya, ketika membangun usaha tenun lurik pada tahun 2004, Yoga melakukannya, boleh dikata, dengan agak nekat. Karena, tenun lurik tidak setenar batik. Sehingga, daya saingnya sangat rendah.

“Namun, saya optimis tenun lurik bisa setenar batik. Sebab itu, saya melakukan banyak pengembangan. Salah satunya, ‘menciptakan’ tenun lurik dari kertas koran ini,” imbuhnya.

Dengan inovasi yang ia lakukan, Yoga berharap mampu menarik perhatian pecinta batik, serta pedagang dan pengusaha batik. Sehingga, bisnisnya akan semakin menjanjikan.

Sejatinya, lurik didominasi motif dasar garis-garis atau kotak-kotak, dengan warna-warna suram yang diselingi aneka warna terang. Untuk itu, sebelum ditenun, kertas koran harus dipilin terlebih dulu hingga berbentuk pipih panjang seperti lidi.

Dari warna dan corak asli kertas koran itu, pada akhirnya dihasilkan motif garis-garis. Tapi, jika ingin ada warna lain, tinggal mewarnai kertas korannya. Yoga, bahkan menyanggupi pesanan dengan motif tulisan dari koran itu sendiri, yang dibuat lebih menyolok.

Dalam sehari, para penenun yang dipekerjakan Yoga yang kebanyakan sudah paruh baya itu, mampu menghasilkan tenun lurik kertas koran sepanjang 6−8 meter. Tenunan tersebut, sudah bisa langsung dijual. Mengingat, ada pembeli yang mau membeli dalam bentuk meteran seperti itu dengan harga jual mulai dari Rp8 ribu/meter. Sementara yang dalam bentuk barang jadi, seperti tas, dompet, taplak meja, dan tatakan piring dibanderol mulai dari harga Rp5 ribu.

Tentang keawetan produk, karena dalam proses memilin dilakukan dengan sangat kuat, maka kertas tidak akan mudah robek. Dengan demikian, hasil karya dari tenunan kertas koran tersebut dijamin awet.

“Mungkin, orang-orang meragukan kekuatan kerajinan dari tenun kertas koran ini. Lantaran, sifat asli asli kertas yang mudah rusak. Tapi, dengan kemampuan menenun dan proses pengerjaan yang baik, hasil akhirnya pun akan sempurna,” pungkasnya.

Untuk pemasarannya, Yoga menjualnya melalui galeri miliknya yang khusus menjajakan kain lurik baik dalam bentuk pakaian, aksesori, maupun hiasan untuk interior ruangan. Di samping itu, ia juga berpromosi melalui berbagai pameran.

Check Also

Banyak Peminatnya

Rental Portable Toilet Kehadiran toilet umum—terutama yang bersih, nyaman, wangi, dan sehat—menjadi salah satu kebutuhan …