Home / Celah / Mengais Limbah, Mendulang Rupiah

Mengais Limbah, Mendulang Rupiah

Pengolahan Sampah ala Mittran

 

Sampah, baik dalam bentuk berserakan maupun ditumpuk, tetap saja tidak sedap dipandang. Lagi pula, bau yang ditimbulkannya sangat menyesakkan pernafasan. Karena itulah, banyak orang tidak mau direpotkan dan ketempatan barang yang satu ini. Kecuali Hidayat dengan Mittran-nya, yang justru mengolah dan menjadikannya sebagai uang bernilai puluhan juta rupiah

 

Sampah memang bau. Tapi, dibalik itu juga ada bau rupiah

 

e-preneur.co. Sampah, selama ini, keberadaannya diemohi setiap orang. Karena, berbau dan kotor. Sehingga, dianggap bisa memicu timbulnya penyakit. Bahkan, sampah juga diklaim sebagai penyebab banjir dan kerusakan lingkungan.

Ironisnya, sikap tidak bersahabat dan menyepelekan tersebut, justru datang dari manusia yang notabene biang kerok kehadiran barang-barang yang diperhalus istilahnya menjadi limbah itu.

Pemikiran bahwa sampah menjadi salah satu masalah lingkungan, juga dirasakan Hidayat. Namun, berbeda dengan orang-orang yang “menghasilkan” sampah tapi tidak mau direpotkan dan ketempatan, ia berpikir harus ada yang berinisiatif untuk mengatasi masalah ini.

Tidak disangka-sangka, keinginannya agar lingkungan sekitarnya bersih dari sampah, berkembang menjadi peluang usaha baginya. “Semula, untuk membersihkan lingkungan ini dari sampah, kami mengadakan rapat. Hasilnya, cuma adu argumentasi,” tutur Hidayat.

Lalu, ia berinisiatif dengan mengelola sampah dalam satu Rukun Tetangga secara collecting. “Lantas, saya menempatkan drum-drum sampah di setiap rumah, tanpa biaya pemungutan, selama tiga bulan. Kemudian, sampah-sampah itu kami proses menjadi kompos, recycle, dan energi,” lanjut Direktur PT Mitratani Mandiri Perdana (Mittran) ini.

Dari situ, masyarakat berpikir bahwa bila sampah diolah, maka lingkungan akan menjadi bersih. Selanjutnya, muncul demand dan Hidayat pun mulai menentukan harga.

“Kami ‘mengambil’ sampah-sampah rumah tangga dari masyarakat di sini (Pondok Gede, red.), setiap hari. Untuk itu, kami dibayar Rp50 ribu/bulan/drum sampah. Hingga, akhirnya, kami mengelola 3.000 rumah dengan sekitar 700 drum sampah. Itu artinya, setiap bulan kami membukukan Rp35 juta dari collecting sampah,” kisah pria, yang lebih suka disebut Praktisi Sampah ini.

Berikutnya, sampah-sampah itu diangkut dengan gerobak motor ke lahan miliknya yang semula hanya seluas 200 m² lalu meluas menjadi 1 ha, untuk diolah.

Dimulai dari pencacahan dengan mesin pencacah. Hasilnya berupa organik dan plastik.

Untuk hasil berupa organik, sebelum pada akhirnya menjadi kompos, harus difermentasi terlebih dulu dengan memasukkannya ke dalam karung selama 2−3 minggu. Setelah dikeluarkan dari karung, dilakukan pengayakan untuk memisahkan kompos murni dengan residunya.

“Sebenarnya, kompos murni ini masih berupa bahan baku kompos. Untuk menjadikannya kompos yang sesungguhnya dan agar kualitasnya lebih bagus lagi, harus dicampur dengan pupuk kandang,” ungkapnya.

Untuk kompos murni, perusahaan yang juga memiliki tempat pengolahan sampah di Cikarang ini pernah menjualnya dengan harga Rp400,-/kg dan Rp600,-/kg untuk kompos campuran. Setiap bulan, Mittran yang mampu menghasilkan 50 ton kompos telah “melempar” produk ini ke Bangka, Belitung, Balikpapan, Jakarta, dan Jawa Barat dengan kapasitas 30−100 ton/bulan, tergantung sedang musim tanam/tidak.

Sedangkan untuk hasil pencacahan yang berupa plastik, setelah dipisahkan dan dicuci, kemudian di-press dan dipilah-pilah antara HD (tas kresek) yang dijual dengan harga sekitar Rp1.100,-/kg, PE (plastik gula) dengan harga kurang lebih Rp2.500,- sampai Rp3.000,- per kilogram, dan PP (plastik yang kalau dirobek agak liat) dengan harga kira-kira Rp1.500,-/kg. Plastik-plastik ini, nantinya oleh perusahaan yang membelinya akan diolah menjadi biji plastik yang merupakan bahan baku ember, polybag, dan lain-lain. “Kami memasok plastik-plastik ini ke berbagai pabrik di kawasan Cakung dan Bantar Gebang,” jelas sarjana ekonomi dari Universitas Indonesia ini.

Sementara residu seperti tersebut di atas, digunakan sebagai bahan bakar/energi pengganti kayu bakar, batubara, minyak tanah, dan lain-lain. “Dengan demikian, secara konsep, usaha ini sudah zero waste. Karena, tidak ada yang dibuang,” tegas kelahiran Magelang, 26 Agustus 1963 ini.

Dari penjualan hasil pengolahan sampah yang dilakukan selama tiga tahun belakangan saat usaha ini baru berjalan 10 tahun, dibukukan omset Rp15 juta/bulan. Namun, usaha yang juga “menjual” konsep pengolahan sampah dalam bentuk pelatihan selama tiga malam dua hari dengan biaya sekitar Rp1,5 juta/orang ini, belum berhenti sampai di situ.

Mittran yang dibangun pada tahun 2002 ini, juga terinspirasi untuk membuat mesin pengolahan sampah (pencacah dan pengayak). Untuk itu, Mittran telah menghasilkan mesin pengolahan sampah dengan kapasitas 15 kubik/hari, 30 kubik/hari, dan 100 kubik/hari. Mesin-mesin ini juga sudah “dilempar” ke Surabaya, Kalimantan, dan lain-lain.

Dari sini, kita dapat menarik kesimpulan bahwa perusahaan yang mempekerjakan kurang lebih 60 karyawan ini sangat prospektif. Apalagi, belum ada pesaingnya.

Tapi, tidak berarti masalah sampah tuntas. Hal ini terjadi, karena, jumlah sampah sangat banyak dan sebagian besar anggota masyarakat cuma berpikir jika sampah itu bau. Di sisi lain, peraturan tentang sampah belum ada. Jadi, jangan lagi Anda membuang sampah sembarangan. Sebab, Mittran sanggup membeli sampah yang Anda kumpulkan.

 Catatan:
  • Dalam sehari, bisa dikumpulkan 30 kubik sampah/hari.
  • Dalam proses pengolahan, terjadi penyusutan 50%.
  • Proses pengambilan dan pengolahan sampah ini berlangsung setiap hari selama 26 hari kerja.
  • Dibandingkan dengan penjualan kompos yang tidak menentu, penjualan plastik lebih pasti.

Check Also

Banyak Peminatnya

Rental Portable Toilet Kehadiran toilet umum—terutama yang bersih, nyaman, wangi, dan sehat—menjadi salah satu kebutuhan …