Home / Inovasi / Dari Limbah Menjadi Produk Fungsional

Dari Limbah Menjadi Produk Fungsional

Handicraft dari Bonggol Jagung (Dipar Craft)

Bonggol jagung, ternyata berbentuk serat. Tapi, dapat dipadatkan dan dibentuk menjadi apa saja. Dari fakta itu, melalui penelitian yang panjang dan membutuhkan biaya yang tidak sedikit, Edi Juandie berhasil menggunakan bonggol jagung sebagai bahan dasar untuk membuat berbagai handicraft serta produk-produk fungsional, yangbernilai jual terbilang tinggi dan digemari masyarakat mancanegara

e-preneur.co. Suatu hari, Edie Juandie dan teman-temannya yang kebetulan para sarjana desain produk, kongko-kongko sambil makan jagung di Lembang. “Waktu itu, sambil memegang dan menatap bonggol jagung, aku iseng bertanya kepada teman-temanku: enaknya dibikin apa ya bonggol jagung ini? Mereka serentak menjawab: dibikin apa saja. Unlimited!” kisah Edie.

Dari situ, Edie yang semula bergerak dalam usaha handicraft berbahan dasar kayu, mengalihkannya ke bonggol jagung. “Usaha ini, kalau dibilang tidak ada modalnya ya memang tidak ada. Sebab, untuk memperoleh limbah bonggol jagung, aku mencarinya sendiri di pasar-pasar alias gratis,” lanjut alumnus Institut Teknologi Nasional, Bandung, ini.

Tapi, itu bonggol jagung yang basah. Sedangkan untuk yang kering, ada yang menjualnya. “Sementara untuk jagungnya, aku tidak punya kriteria khusus. Meski menurut aku, yang bagus itu yang kecil atau baby corn (Jawa: janten, red.),” tambahnya.

Sementara kalau dibilang usaha tersebut sama sekali tanpa modal, ya tidak juga. Karena, sebelum produknya dimunculkan ke masyarakat, ia mengadakan penelitian. Untuk itu, ia mengundang para sarjana dari Institut Pertanian Bogor dan membeli berbagai buku, untuk menambah pengetahuan tentang bonggol jagung..

Dapat dibentuk menjadi apa saja

Penelitian yang memakan waktu lama dan menelan biaya (secara bertahap) sekitar Rp100 juta itu, juga dimaksudkan untuk mengetahui bagaimana caranya mengawetkan bonggol jagung. Mengingat, jagung berasal dari alam dan suatu saat akan kembali ke alam lagi. Untuk itu, harus digunakan bahan pengawet yang bisa memperpanjang “masa hidupnya”.

Untuk mengawetkan bonggol jagung, ia menggunakan dua cara perendaman. Pertama, setelah dibersihkan dari berbagai kotoran, bonggol jagung itu direndam dalam berbagai bahan kimia untuk mematikan berbagai bakteri atau organisme, yang kemungkinan ada dalam bonggol jagung dan bisa mempercepat kehancurannya. Kemudian, dijemur sampai kering.

Kedua, setelah kering, direndam secara alamiah untuk membuang racun-racun yang kemungkinan ada dan membahayakan, baik pada bonggol jagungnya maupun orang-orang yang memiliki kerajinan dari bonggol jagung ini.

Proses itu, berlanjut ke proses melubangi bonggol jagungnya. “Bonggol jagung itu sebenarnya rapuh. Sehingga, tidak masalah jika proses melubanginya dilakukan secara handmade. Tapi, karena aku ingin proses ini berjalan dengan cepat, maka aku menggunakan mesin bor,” ungkap kelahiran Jakarta, 5 Juli ini.

Di sisi lain, ia juga menemukan fakta-fakta yang menakjubkan dari bonggol jagung. Salah satunya yaitu bonggol jagung itu berbentuk serat, tapi dapat dipadatkan dan dibentuk menjadi apa saja.

Semua proses tersebut di atas, membutuhkan waktu 2 bulan−3 bulan, tergantung cuaca. Sementara untuk produk yang dihasilkan—seperti sudah dikatakan di atas yaitu bisa berbentuk apa saja—di antaranya aneka lampu, sketsel atau penyekat ruangan, barang-barang yang berhubungan dengan fashion, carano (tempat sirih dalam upacara adat masyarakat Minangkabau, red.), dan bahkan casing Ipad.

Dalam perkembangannya, usaha yang dimulai tahun 2009 itu telah menghasilkan kurang lebih 50 item yang dipasarkan made by order dan by online. Mereka yang berminat bisa datang ke workshop, sekaligus kediamannya di kawasan Kedung Halang, Bogor.

“Aku tidak menerima pesanan satuan. Aku hanya menerima pesanan untuk mengisi satu kafe, satu hotel, dan lain-lain. Aku juga tidak mau ada pesanan rutin dan lebih suka memberi pelatihan,” katanya, tanpa bermaksud sombong.

Kendati begitu, produk ini telah “terbang” ke Belanda dan Jepang. Selain itu, menyumbangkan pemasukan puluhan juta rupiah untuk sekali order.

Untuk pelatihan, pria yang menamai usahanya Dipar Craft ini memberi waktu lima hari. Untuk satu periode pelatihan, ia hanya mau melatih 20−30 orang.

“Ujung-ujungnya, mereka yang menghasilkan produk sesuai dengan kriteriaku, aku jadikan plasmaku. Dalam arti, hasil karya mereka kubeli kalau aku memperoleh pesanan,” pungkas Edie, yang saat ini telah memiliki enam kelompok plasma di Bogor, selain yang tersebar di Aceh, Kebumen, Gorontalo, Kalimantan, dan lain-lain.

Check Also

Cucian Bersih, Ekosistem Terjaga

Deterjen Minim Busa Isu ramah lingkungan membuat para pelaku usaha terus menggali ide untuk menciptakan …