Home / Liputan Utama / Bisnis Tertata, Rumah Tangga pun Tertata

Bisnis Tertata, Rumah Tangga pun Tertata

Wiwid Anggoro (Brahmani Batik)

Wiwid-2Rasa cinta Wiwid terhadap batik sama besarnya dengan rasa cintanya terhadap kedua jagoannya. Ketika keduanya disinergikan, lahirlah Brahmani Batik yang telah merambah ke seluruh Indonesia dan urusan rumah tangga yang tertata rapi

e-preneur.co. Pasangan suami istri yang bekerja akan menghadapi berbagai “masalah”, ketika anak-anak mulai hadir di tengah-tengah mereka. Setidaknya, waktu menjadi terasa semakin sempit, karena harus dibagi-bagi antara pekerjaan di kantor, urusan rumah tangga, dan hubungan antara Ibu–Ayah–anak. Hal ini, dialami pula oleh Wiwid Anggoro.

“Ketika anak sakit, misalnya, kami harus adu argumentasi terlebih dulu mengenai siapa yang akan mengantar ke dokter. Ujung-ujungnya, suamiku yang melakukan itu, sebab dia pegawai negeri sipil (baca: waktu kerjanya lebih fleksibel, red.). Dan, itu seringkali terjadi,” tutur Wiwid.

Saat hamil anak kedua, terpikir oleh Wiwid, kondisi semacam itu semakin sulit dijalankan. “Mengingat, nanti akan ada bayi, sementara Kakaknya masih belum mandiri. Akhirnya, aku mulai berpikir untuk resign dan membangun bisnis.Apalagi, sebelumnya, aku juga sudah sering berdagang di kantor,” lanjut Ibu dari Jagad Bramantyo Pratomoputro dan Satryo Dirgantara Arthadwiputro ini. Ternyata, sang suami pun men-supportkarena link-nya juga sudah terbentuk.

Lebaran 2010, Wiwid pulang ke Solo. Tepatnya, ke rumah Eyangnya yang juragan batik “bermerek” Wiryomartono. Di sini, kelahiran Jakarta, 1 Oktober 1983 ini tertarik dengan kain-kain batik sang Eyang, lalu mengambilnya (Jawa: kulakan, red.) untuk nantinya dijual ke Jakarta. Ternyata, usahanya berjalan lancar. Apalagi, sekitar tahun 2009–2010, batik sedang booming.

Dalam perjalanannya, di antara sekian pelanggannya, ada yang menanyakan apakah Wiwid juga menjual baju. “Sebenarnya tidak ada.Tapi, karena aku anggap ini peluang, aku bilang ada. Selanjutnya, bajunya aku ambil dari orang lain,” kisah Wiwid, yang membuat baju untuk dipakai sendiri dari kain-kain batik yang tidak terjual/tidak laku.

Namun, kemudian, para pelanggan tersebut “meminta” baju seperti yang dipakai Wiwid. “Dari situlah, aku mulai menerima pesanan yang berlanjut membuat baju untuk orang-orang yang ingin tampil muda dan memasarkannya secara online,” tambahnya.

Lalu, sekitar tahun 2011, Wiwid membuka outlet di Thamrin City, Jakarta Pusat, dengan nama Brahmani Batik. Pertimbangannya, sebagian dari orang-orang yang ingin memesan baju padanya pasti ingin datang ke rumahnya, lantas mereka akankesulitan mencari alamatnya, selanjutnya di rumahnyaakan bertemu dengan anak-anaknya, dan sebagainya.

“Tapi, sebenarnya, Brahmani Batik merupakan proyek idealisku. Aku berbisnis ini, karena kecintaanku terhadap batik. Kemudian, timbul keinginan untuk membuat kain batik menjadi busana, yang bisa dipakai anak-anak muda. Semacam busana ready to wear bagi mereka.Mengingat, selama ini, busana batik lebih banyak dipakai untuk ke kantor atau acara-acara resmi,” ungkap Wiwid, yang menanamkan modal sebesar Rp15 juta dalam usaha ini.

Jadi, sarjana ekonomi dari Universitas Indonesia ini melanjutkan, tidak hanya setelah mereka tua atau masuk dunia kerja baru memakai baju batik dan itu pun karena terpaksa. “Tapi, lebih karena mereka cinta batik dan melihatnya sebagai identitas bangsa mereka,” tegasnya.

Dengan target market anak-anak muda atau mereka yang berjiwa muda (berumur 20 tahun–30 tahun), namun juga masih pantas pula dipakai oleh mereka yang telah berumur 30 tahun ke atas, Brahmani Batik pun lebih banyak bermain di kasual dilihat dari warna, motif, dan desainnya.

“Untuk motif batiknya, bukan tradisional.Meski, ada juga motif sogan yang aku ambil dari Solo, lalu aku jadikan blazer. Batik yang tersedia di sini batik cap dan batik tulis.Sementara dari sisi warna, karena ditujukan bagi anak-anak muda, otomatis warna-warnanya pun cerah. Dan, untuk bahannya, hampir semuanya ada, seperti katun, doby (kain tenun dengan mesin), viscose, dan sutera,” jelas Wiwid, tentang produknya yang dibanderol dengan hargamulai dari Rp200 ribu.

Untukmengisi outlet ini,setiap bulan diproduksi sebanyak 60–70 pieces di mana 50%-nya diserap pasar, sementara sisanya diputar lagi dan dicampur dengan yang baru, karena modelnya sepanjang masa dan variatif. Sehingga, orang-orang bisa memakainya kapan saja.

Di luar itu, Brahmani Batik juga menerima pesanan seragam baik untuk seragam kantor, acara pernikahan, dan sebagainya dengan minimal order 50 pieces dengan motif, warna, dan desain terserah pemesan. Untuk itu, pemesanan harus dilakukan dua bulan sebelumnya.

“Semua baju ini dibuat di rumah.Sementara di rumah ada anak-anakku. Inilah dilema setiap Ibu Rumah Tangga. Untuk itu, aku membagi jadwal di mana setiap pagi aku mengurusi urusan produksi. Setelah itu, aku mengantar jemput sekolah si Kakak. Lalu, aku cek toko dan menyelesaikan urusan toko. Sore, aku pulang untuk ngecek e-mail. Aku juga menyediakan ruangan tersendiri untuk bisnisku,” paparnya.

Masalah-masalah teknis yang dulu sering muncul pun kini sudah tahu bagaimana cara mengatasinya. Demikian pula dengan masalah internal, yang sudah tahu cara cepat untuk menyelesaikannya. “Kalau ada pameran yang diselenggarakan akhir pekan, misalnya, suamiku mendukung. Maklum, karena dia juga mendukung usaha ini, maka dia juga konsekuen,” ungkap Wiwid, yang berencana membuka outlet lagi di lokasi yang sama dalam waktu dekat ini, dengan harga produk lebih mahal daripada yang ada di outlet yang lama. Dengan strategi seperti itu, kehidupan rumah tangga dan bisnisnya sama-sama tertata.

Check Also

Harus Pandai Membaca Karakter Orang

Fairuz (Redline Bags)   Membangun bisnis di dalam bisnis dan satu sama lain berhubungan itu …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *