Home / Liputan Utama / Menjadi Pengusaha Tanpa Perlu Keluar Rumah

Menjadi Pengusaha Tanpa Perlu Keluar Rumah

Fatmah Bahalwan (Natural Cooking Club)

Bagi mereka yang pandai menangkap peluang, musibah pun bisa mereka ubah menjadi berkah. Seperti Fatmah, yang mengubah nasibnya sebagai “korban” krismon dengan menjadi foodpreneur yang namanya diperhitungkan dalam kancah bisnis kuliner

Ftmahe-preneur.co. Krisis moneter (krismon) yang melanda Indonesia pada tahun 1997–1998, berdampak luas pada semua kalangan. Salah satu dari mereka yang terkena imbas krismon ini adalah Fatmah Bahalwan, pengusaha catering dalam “bendera” Natural Catering, pemilik mailing list (milis) Natural Cooking Club (NCC), sekaligus pengajar kursus masak dan pembuatan kue.

Saat itu, mantan sekretaris eksekutif sebuah bank di kawasan Sudirman, Jakarta Selatan, ini dihadapkan pada gaji kantor yang semakin lama semakin tidak mencukupi dan karir yang mentok, sehingga ia merasa harus putar otak. Dengan keahliannya berkutat dengan bumbu-bumbu dapur, Fatmah memutuskan untuk berjualan kue ke rekan-rekan kerja dan pimpinannya.

“Eh, kok laku dan berkembang. Lalu, saya mencari identitas dan saya temukan kesimpulan bahwa usaha makanan kagak ade matinye. Buktinya, dari berjualan kue hasil dapur saya sendiri yang semula hanya empat loyang, berkembang menjadi ratusan loyang. Bahkan, pada akhirnya, saya mengembangkannya menjadi usaha katering untuk event-event khusus. Kondisi ini memantapkan saya untuk berhenti kerja pada tahun 2004,” kisah Fatmah.

Dengan kata lain, perempuan yang kini berusia 51 tahun ini merintis usaha yang dinamai Natural Catering (merek ini mengacu pada masakan dan kue yang sesedikit mungkin menggunakan bahan kimia dan halal atau tanpa alkohol, red.) ini, masih dalam kondisi bekerja. Hal ini, ia lakukan untuk menancapkan kukunya terlebih dulu dalam kancah bisnis makanan yaitu dengan cara membentuk pasar dan menciptakan jaringan pemasaran yang menyenangkan.

Fatmah“Sebagai sekretaris eksekutif, otomatis saya berteman dengan sesama sekretaris selevel. Perlu diketahui, sekretaris adalah penentu makanan di berbagai kegiatan kantornya. Melalui teman-teman saya itulah, kami berbagi info. Termasuk, saling menawarkan makanan hasil karya kami sendiri. Jadi, pekerjaan beres, jualan lancar,” jelas perempuan, yang suatu saat ingin memiliki culinary school ini.

Di samping membangun bisnis katering dengan modal Rp50 juta yang ditanamkan secara bertahap, pada tahun 2004 itu Fatmah juga membentuk NCC. Saat ini, milis ini telah memiliki ribuan member. “Di sini, saya memberikan semangat kepada para member dan mereka yang ikut kursus bahwa cuma dengan memasak dan membuat kue, kita bisa mencetak uang. Hasilnya, banyak member NCC yang akhirnya menjadi pengusaha makanan dan kue, tanpa perlu keluar rumah,” ujar wanita, yang juga menjadi penulis tetap tentang kuliner di salah satu media online ini.

fatmah-saat-demo-masakYa, Fatmah juga mengajarkan kursus memasak dan membuat kue setiap hari, dengan biaya kursus Rp250 ribu−Rp3 juta dan jumlah peserta maksimal 30 orang. Dari sini, istri dari Wisnu Ali Martono ini ikut berperan dalam mencetak para foodpreneur baru. Bahkan, kemudian, bersama dengan mereka, Fatmah yang peralatan kursusnya kini dibantu sponsor ini menerbitkan beberapa buku resep masakan.

Komentar keluarga? “Waktu saya menjalankan bisnis ini sambil bekerja, suami sempat complain. Saya terima complain-nya dengan menunjukkan hasil uplek saya di dapur, pada akhir bulan. Setelah melihat hasilnya, suami sangat mendukung. Anak-anak juga sempat complain, karena justru pada akhir pekan, saya sibuk luar biasa. Tapi, saya mengganti waktu dengan mereka pada hari-hari lain. Jadi, nggak ada masalah lagi,” ucap ibu tiga anak ini.

Check Also

Harus Pandai Membaca Karakter Orang

Fairuz (Redline Bags)   Membangun bisnis di dalam bisnis dan satu sama lain berhubungan itu …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *