Home / Inovasi / Ketika Belimbing Diolah Menjadi Makanan Ringan

Ketika Belimbing Diolah Menjadi Makanan Ringan

(OmaBling)

Belimbing bukan buah yang mudah diolah menjadi makanan ringan. Namun, dengan tekad agar orang-orang yang berkunjung ke Demak bisa membeli oleh-oleh, Bambwi melakukan trial and error selama hampir dua tahun terhadap buah berkadar air tinggi ini. Hasilnya, aneka camilan yang digemari masyarakat baik dalam negeri maupun mancanegara

e-preneur.co. Berbicara tentang Demak, maka yang terlintas dalam benak selalu salah satu masjidnya yang memiliki bentuk bangunan unik. Ya, Masjid Agung Demak yang dibangun pada abad ke-15 Masehi oleh Raden Patah dibantu Walisongo itu memiliki bentuk serupa bulus di mana bentuk tersebut mempunyai banyak makna filosofis.

Namun, Demak bukan hanya dikenal karena masjid tersebut, melainkan juga belimbingnya yang merupakan buah unggulan Indonesia. Tapi, selayaknya buah yang terbatas ketahanannnya, Belimbing Demak, begitu buah ini disebut, tidak dapat dijadikan oleh-oleh bila orang-orang berkunjung ke Demak.

“Saya pernah menjadi manajemen sekolah. Ketika akan mengadakan suatu kunjungan, saya kebingungan membawa oleh-oleh. Kalau sekadar buah (baca: Belimbing Demak, red.), tiga empat hari kemudian sudah busuk. Tapi, saya terus berusaha mencari olahan khas Demak, meski belum juga ketemu,” tutur Bambwi Ruriyati.

Ketika ia resign (tahun 2017), barulah tercetus ide untuk membuat olahan jambu dan belimbing. Selanjutnya, ia melakukan trial and error selama 1‒1,5 tahun.

“Karena, belimbing susah diolah, buah ini mudah beroksidasi, dan vitamin C-nya lebih tinggi daripada lemon. Jadi, ketika diolah menjadi makanan cepat basi,” jelasnya.

Dalam trial and error yang dilakukan agar makanan yang dibuat menjadi awet itu, ia berusaha menurunkan kadar air dalam belimbing. Setelah cukup kering, baru dimasukkan ke dalam olahan kering hingga bisa menjadi makanan yang tahan hingga enam bulan.

“Setelah menjadi produk olahan, untuk yang kering rata-rata bisa sampai enam bulan seperti onde-onde ketawa, brownies kering, dan stick. Kalau dalam bentuk minuman bisa tahan sampai tiga bulan dalam chiller, sedangkan dalam suhu ruang hanya tujuh hari,” lanjutnya.

Untuk itu, modal yang dikeluarkan terbilang besar yakni sekitar Rp25 juta yang dibelanjakan untuk Belimbing Demak yang harganya memang terbilang mahal dan peralatan manual. Sementara makanan yang pertama kali diproduksi yaitu strudel, brownies, dan bolen.

Tahan hingga enam bulan

“Kue-kue basahlah. Karena, saya tidak berpikir akan membuat makanan yang tahan lama, melainkan yang bisa langsung dimakan,” kisahnya.

Makanan-makanan kering baru dimunculkan ketika terjadi pandemi. Sebab, makanan-makanan basah tersebut di atas tidak tahan lama dan mahal (di atas Rp45 ribu, red.).

“Agak berat harga itu di masa pandemi. Karena itu, saya membuat makanan-makanan yang kering dan tahan lama, serta harganya tidak terlalu mahal. Seperti, brownies kering, stick, dan onde-onde ketawa,” kata perempuan, yang membandrol brownies keringnya dengan harga Rp25 ribu dan berat kemasan 80 gr, onde-onde ketawa dengan bobot kemasan 150 gr dijual dengan harga Rp18 ribu, untuk stick—yang sudah tersedia di Indomaret seluruh Kabupaten Demak—dijual dengan harga Rp13 ribu, nastar belimbing dengan harga Rp25 ribu, dan untuk minumannya dibandrol Rp10 ribu.

Produk-produk makanan itu setiap hari diproduksi. “Namun, bergantian. Misalnya, ketika onde-onde ketawa dirasa sudah cukup pasokannya (100 bungkus, red.), saya akan memproduksi stick atau produk makanan lain yang sedang ada permintaan tapi stoknya habis. Mana dulu yang sedang habis, maka itulah yang diproduksi. Minimal, saya memproduksi 50 bungkus/hari dan diserap pasar 60%‒76%,” paparnya.

Jumlah produksi itu di luar permintaan dari Ganjar Pranowo. Sang Gubernur Jawa Tengah tersebut memesan untuk hamper sebanyak lebih dari 1.000 bungkus.

Untuk penjualannya, ia melanjutkan, pada hari Senin sampai Kamis agak kurang. Berbeda dengan akhir pekan, yang agak ramai dibeli untuk oleh-oleh para ibu muda, khususnya, yang menjadi target market produk ini. Lantaran, mereka biasanya hobi jalan-jalan dan ngemil. Sementara lonjakan penjualan terjadi pada hari raya.

“Dua tiga tahun terakhir, setiap lebaran sampai kewalahan. Karena item kami banyak, maka ketika ada permintaan yang lain menjadi kewalahan. Pada hari raya, saya bisa memproduksi hingga 500 kemasan/hari,” ujarnya.

Dalam pemasarannya, camilan yang diberi “merek” OmaBling ini sudah merambah Sabang hingga Merauke, bahkan juga sudah sampai ke Taiwan dan Hong Kong. Selain itu, sebagian produk makanan ini sudah masuk ke Bandar Udara Internasional Jendral Ahmad Yani, Semarang. Sementara untuk pembelian produk, dapat melalui online shop, facebook, dan instagram, atau mengunjungi tokonya yakni Bambwi Jaya di Kadilangu, Demak.

Berbicara tentang prospek, ia hanya menyebutkan stabil. Karena, pada satu sisi ada masa-masa sepi, pada sisi yang lain belum ada competitor. “Mengolah belimbing menjadi makanan itu sulit. Kadar airnya terlalu tinggi. Sehingga, untuk mengeringkannya membutuhkan biaya tersendiri atau penambahan cost. Sementara untuk menjualnya dengan harga tinggi juga susah,” pungkas Bambwi, yang membukukan omset sekitar Rp120 juta/tahun.

Check Also

Bukan Sekadar Rekam Jejak Sebuah Perjalanan Cinta

Animasi Wedding Lebih hemat biaya dan waktu, serta tingkat kemiripan wajah dengan aslinya mencapai 85%. …