Home / Celah / Peluang Bisnisnya Masih Terbuka Lebar

Peluang Bisnisnya Masih Terbuka Lebar

Abon Tuna

Abon Tuna juga bergizi dan lezat. Lebih dari itu, sebagai produk yang lain daripada yang lain, celah bisnisnya masih terbuka lebar

e-preneur.co. Abon dari Ikan Tuna (baca: Abon Tuna, red.) merupakan lauk warisan nenek moyang yang masih sangat jarang ditemui. Padahal, bagi masyarakat luar Jawa, terutama yang tinggal di dekat laut, Abon Tuna menjadi makanan sehari-hari sekaligus makanan tradisional yang harus ada dalam acara-acara tertentu. Misalnya, lebaran.

Kondisi ini ditangkap sebagai celah usaha oleh Sulimah, Ketua Kelompok Marlin yang bermarkas di kediamannya, Rawa Badak Selatan, Koja, Jakarta Utara (Jakut). “Kebetulan, mertua saya berasal dari Ujung Pandang (sekarang: Makassar, red.). Setiap lebaran, kami memiliki tradisi makan buras (Makassar: semacam lontong, red.) dengan bajabu (Makassar: Abon Tuna, red.),” kisah perempuan berdarah Jawa‒Aceh ini.

Pada tahun 2004, Suku Dinas (Sudin) Perindustrian Jakut datang ke Kelurahan Rawa Badak Selatan dengan mencanangkan program pengolahan ikan. Seperti, nugget ikan, baso ikan, dan lain-lain.

“Waktu itu, saya mendapat 1 kg Ikan Kakap yang lantas saya olah menjadi abon ikan. Responnya, dua minggu kemudian, Sudin Perikanan Jakut membawa seller ikan dengan maksud agar saya terus memproduksi abon ikan tersebut,” tuturnya.

Dinilai menghasilkan produk yang lain daripada yang lain, Sulimah yang semula dibina oleh Sudin Perikanan Jakut, diambil alih oleh Dinas Perikanan DKI Jakarta. Melalui pembinaan dan temu karya inilah, Ibu lima anak yang awalnya membuat Abon Tuna secara seadanya ini, selanjutnya membuatnya dengan cara yang lebih baik.

Tuna lebih pas diolah menjadi abon karena ikan ini hidup di tengah laut. Sehingga, bebas polusi dan gizinya masih tinggi

“Contoh, sebelum mengolahnya, saya membersihkan kotorannya atau melakukan penyortiran terlebih dulu,” jelas Sulimah, yang “mengambil” Ikan Tuna dari Muara Angke dan Laboratorium Perikanan Jakut.

Sebenarnya, ia melanjutkan, abon ikan dapat dibuat dengan  menggunakan jenis ikan apa pun. Tapi, biasanya, diolah dari tuna. Karena, satwa air ini hidup di tengah laut. Sehingga, bebas polusi dan gizinya masih tinggi. “Jika waktu itu saya menggunakan kakap, sebab ikan itu yang mereka berikan,” katanya.

Dalam perjalanannya, Sulimah menggunakan tuna untuk abonnya. Abon Tuna itu ia modifikasi menjadi berbagai macam rasa, agar berbeda dengan pesaing. Contoh, Abon Tuna Manis yang diberi label biru untuk anak-anak, Abon Tuna Pedas (label merah) untuk orang dewasa, dan Abon Tuna Asin (label kuning).

Abon Tuna yang dikemas dalam toples plastik berbobot 1,5 ons ini, tidak menggunakan bahan pengawet. Seperti, yang diwajibkan oleh pembina.

“Sebenarnya, bumbu-bumbu yang kita gunakan saat memasak itu sudah mengandung bahan pengawet alami. Misalnya, gula,” ujar perempuan, yang hanya mengecap bangku kelas 2 SMP ini. Untuk itu, agar mampu bertahan 3 bulan–1 tahun, maka harus ditutup dan disimpan dengan rapi dan benar.

Kini, bisnis yang dibangun dengan modal awal Rp500 ribu ini sudah dipasarkan ke seluruh Jabodetabek. “Di samping itu, melalui bazar dan perjalanan dinas, produk saya juga sudah diterima di seluruh Indonesia. Bahkan, di Jakarta Fair beberapa waktu lalu, ada orang-orang dari Belanda, Australia, dan Singapura yang membeli abon saya hingga 50 toples,” ucap Sulimah, yang pernah membuka outlet di UKM Center Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Bukan cuma itu, orang-orang mancanegara itu juga mengajak kerja sama atau memesan dalam jumlah besar. “Namun, saya tolak. Karena, saya kuatir mutunya tidak terjamin. Bisa jadi justru reputasi saya yang jatuh. Maklum, lain koki lain hasil masakannya. Saya juga pernah menolak pesanan sebanyak ½–1 ton. Sebab, dalam bentuk curah,” kata perempuan, yang lebih mengutamakan mutu abonnya daripada sekadar materi ini.

Kendala lain, beberapa koperasi yang diajaknya kerja sama memasarkan produknya memilih untuk menjual dengan sistem titip jual, sedangkan ia menginginkan sistem beli putus. “Ini artinya ‘kan modal saya mati di sana. Padahal, modal saya tidak banyak dan harus terus berputar,” jelas kelahiran Ambarawa, Jawa Tengah, itu.

Meski demikian, Sulimah yang setiap bulan mengolah 100–200 kg tuna (di luar pesanan, red.) untuk dijadikan 30 kg abon ini, tidak patah semangat. Sebab, dari bisnisnya itu, ia dapat menjelajah seluruh wilayah Indonesia secara gratis.

Lebih dari itu, ia mendapat kepuasan batin dengan menularkan ilmunya kepada generasi muda. Seperti, yang pernah dilakukannya terhadap 200 peserta kursusnya di Bangka‒Belitung atas rekomendasi BAPPENAS. “Harapan saya, mereka dapat tumbuh menjadi pengusaha muda yang sukses,” pungkasnya.

Check Also

Permintaan Terus Ada

Genteng Tanah Liat Meski konvensional, genteng dari tanah liat relatif lebih aman, sehat, dan awet, …