Home / Celah / Mulai Dilirik Penyuka Busana Berkualitas dengan Harga Terjangkau

Mulai Dilirik Penyuka Busana Berkualitas dengan Harga Terjangkau

Busana Tempo Doeloe

Mengenakan busana vintage adalah bagian dari gaya hidup, yang mementingkan eksklusivitas. Karena itu, butik vintage hanya didatangi oleh kalangan-kalangan tertentu. Dan, ini adalah peluang usaha baru bagi dunia bisnis fashion Indonesia

e-preneur.co. Di Indonesia, busana vintage masih terdengar asing. Tak terkecuali, di kalangan jetset yang sering berbelanja di butik.

Untuk itu, harus ada edukasi pasar untuk mengenalkan konsep vintage couture kepada pengunjung butik. Seperti, yang dilakukan Yeani Christanto.

“Tak jarang, saya harus menjelaskan panjang lebar mengenai konsep vintage kepada pengunjung. Sebab, banyak pengunjung yang menyamakan vintage tak ubahnya pakaian bekas. Atau, menganggap semua yang kuno adalah vintage,” ungkap Yeani.

Barang vintage, Yeani melanjutkan, berarti busana atau aksesoris yag telah berusia lebih dari 20 tahun. Di Indonesia, masih sulit menemukan pemilik pakaian yang bernilai vintage dengan kondisi yang masih layak pakai.

Sehingga, untuk memenuhi kebutuhan butiknya, Yeani mengimpor langsung dari estate seller (pembeli barang antik dari gudang keluarga) di Amerika Serikat, Inggris, dan Kanada. Mitranya di tiga negara tersebut, secara rutin mengirimkan foto barang melalui e-mail. Lantas, Yeani memilih barang mana yang akan ia ambil.

Busana vintage bukan busana bekas

Ketiga negara tersebut, menurut Yeani, memiliki karakter barang yang berbeda-beda. “Barang dari Amerika Serikat, range usia pakaiannya lebih beragam. Dari tahun 1930an pun ada. Kalau dari Inggris, banyak model hippie. Sedangkan yang dari Kanada, barangnya high-end, seperti baju pesta atau jika itu kasual pun barangnya bagus dan rapih,” jelasnya.

Selanjutnya, pesanan dikirim melalui Pos. Tapi, beberapa kali pesanan itu tidak sampai ke tangannya.

Risiko itu sudah disadarinya. Namun, ia tetap memilih pengiriman melalui jasa pos ketimbang pengiriman swasta. Sebab, dengan cara itu, dana pengiriman lebih murah. Sehingga, harga jual barangnya tidak terlalu tinggi.

Koleksi vintage yang dimiliki Yeani beragam seperti gaun, ikat pinggang, sepatu boot, sepatu wanita, dan aksesoris (cameo, rhinestone, charm bracelet). Koleksi dari desainer ternama tahun 1970an, seperti Bill Blass, Oleg Cassini (desainer Jackie Kennedy), Anne Fogarty pun terpampang di butiknya. Selain itu, juga dijual barang yang disebut new old stock (barang tua yang masih dalam kondisi baru).

Busana vintage memiliki keunikan. Sehingga, tidak mungkin dikenakan orang lain. Selain itu, tak seperti usia busananya yang sudah uzur, penggemar vintage yakni orang-orang yang sadar fashion, kebanyakan dari kalangan remaja dan mereka yang menginjak usia 30an tahun.

Dalam industri fashion, pasar bisnis vintage itu minoritas. Karena, belum banyak orang yang memahami konsep yang real vintage. “Pasar vintage sangat kecil dibandingkan apa yang ditawarkan industri fashion saat ini. Pasar vintage itu niche,tidak mass,” paparnya.

Sementara karakter konsumen Indonesia, ia melanjutkan, agak berbeda.

Banyak konsumen yang belum bisa menerima cacat yang terdapat pada barang yang dijual. Misalnya, warnanya agak pudar atau terdapat sedikit lubang.

“Padahal, yang namanya barang second hand, apa lagi yang umurnya sudah puluhan tahun, tentu kondisinya tidak 100% sempurna. Berbeda dengan di luar negeri, ketidaksempurnaan itu justru menambah nilai. Karena, terlihat nilai sejarahnya,” jelasnya.

Meski begitu, Yeani tetap berharap masyarakat Indonesia akan melirik vintage sebagai alternatif membeli busana berkualitas yang murah, tapi tetap bergaya.

Check Also

Banyak Peminatnya

Rental Portable Toilet Kehadiran toilet umum—terutama yang bersih, nyaman, wangi, dan sehat—menjadi salah satu kebutuhan …