Home / Inovasi / “Playgroup” Untuk Pasien Paska Stroke

“Playgroup” Untuk Pasien Paska Stroke

Sekolah Stroke

Dikategorikan sebagai pembunuh manusia ketiga setelah penyakit jantung dan kanker. Itulah stroke, yang bisa menyerang kapan saja, di mana saja, dan pada siapa saja dengan dampak yang paling ringan yaitu kecatatan. Tapi, kecacatan ini masih bisa dipulihkan, salah satunya melalui Karmel Stroke Center yang diibaratkan sebuah “playgroup” bagi pasien paska stroke

e-preneur.co. Tahun 2007 mencatat: sekitar 1 juta orang pernah atau sedang terkena stroke di negara kita. Sementara menurut Yayasan Stroke Indonesia, jumlah ini akan terus bertambah setiap tahunnya.

Apa lagi, diperkirakan, terdapat setidaknya 60 orang yang terkena stroke setiap harinya di kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi saja. Selain itu, akhir-akhir ini, stroke juga menunjukkan kecenderungan “menyerang” generasi muda yang notabene masih berada di usia produktif. Imbasnya, Indonesia menempati posisi sebagai negara ketiga di dunia yang memiliki penderita stroke terbanyak.

“Pembunuh” manusia yang menempati peringkat ketiga setelah penyakit jantung dan kanker ini, akan menyebabkan 50% penderitanya menderita cacat baik yang bersifat ringan (tangan kaku, jalan pincang atau diseret) maupun berat (hanya mampu berbaring di tempat tidur hingga ajal menjemput, tidak mampu berkomunikasi atau berbicara). Tapi, tidak berarti mantan penderita stroke tidak akan bisa pulih seperti sediakala.

Bahkan, untuk mereka yang segera dibawa ke dokter kurang dari tiga jam setelah terjadinya serangan, akan terbebas dari kelumpuhan. “Datanglah ke dokter 3−6 jam setelah serangan. Setidaknya, hari itu terkena stroke, hari itu pula segera dibawa berobat. Lewat periode itu, kemungkinan sembuh juga tetap ada, tapi prosesnya lebih lama,” jelas Hermawan Suryadi, dokter spesialis syaraf sekaligus salah satu pendiri dan pemilik Karmel Stroke Centre (baca: Sekolah Stroke, red.).

Namun, Hermawan melajutkan, problemnya bukan hanya pada lama atau sebentarnya kesembuhan pasien, cepat atau lambatnya penanganan, melainkan juga bagaimana keluarga pasien menanganinya setelah yang bersangkutan pulang dari rumah sakit. Sebab, biasanya, para penderita stroke tidak mendapat perawatan yang baik dari keluarganya.

Di satu sisi, keluarga mereka juga tidak tahu harus berbuat apa. Dibawa ke dokter pun hanya akan diberi resep. Dan, itu tidak cukup. Karena, mereka juga harus menjalani rehabilitasi dan revitalisasi.

Di sisi lain, fasilitas terapi stroke yang dimiliki hampir semua rumah sakit di Indonesia tidak terpadu dan tertata manajemennya. “Dengan alasan itulah, kami mendirikan Sekolah Stroke ini,” tuturnya.

Sekolah stroke adalah sekolah rehabilitasi dan revitalisasi untuk penderita paska stroke. Konsepnya, mereka yang menjadi muridnya (penderita paska stroke dan keluarganya) harus menjalani pendidikan bagaimana belajar hidup sebagai penderita stroke dan bagaimana mengurusi penderita stroke. Sehingga, tercipta interaksi. “Mirip playgroup-lah,” jelasnya.

Di sini, mantan pasien stroke diajari atau dilatih mengikuti program pemulihan dan revitalisasi berupa fisioterapi, terapi okupasi/berbicara, terapi memori, dan lain-lain. Selanjutnya, mereka juga diajari berkesenian, bermain, dan berbagai aktivitas lain.

“Layaknya konsep sekolah, mereka juga diberi pekerjaan rumah. Seperti, berlatih menggerakkan tangan. Bila sudah mahir, mereka harus menggunakannya. Misalnya, untuk mengelap meja atau membantu memasak,” ujarnya.

Menciptakan interaksi antara penderita paska stroke dan keluarganya

Sementara keluarganya diajari bagaimana menolong pasien, memandikan, menyuapi, mengetahui makanan yang boleh atau dilarang dimakan, dan sebagainya. Sedangkan pihak Sekolah Stroke—melalui dokter dan terapisnya—akan mengawasi, mengobati, mengontrol tekanan darah dan gula darah, dan lain-lain.

Selain itu, juga melakukan evaluasi terhadap jantung, ginjal, hati, paru-paru, dan sebagainya. Mengingat, silent killer ini selalu berimbas pada organ-organ vital ini. “Kami juga memiliki family therapy di mana antara pasien dan keluarganya, dokter, serta terapis akan bersinergi dan berinteraksi agar dapat saling mengenal dan membantu si pasien,” jelasnya.

Berapa lama mereka harus bersekolah? Sangat tergantung pada berapa derajat keparahan akibat stroke. Di samping itu, juga tergantung pada interaksi antara pasien dan keluarganya. “Karena, faktor ini sangat mendukung proses edukasi cepat selesai,” ucapnya.

Untuk itu, sesuai dengan konsepnya, pasien akan dievaluasi setiap kali bersekolah. Sementara waktunya bisa setiap hari atau hanya pada tahap-tahap awal, seminggu sekali, atau dua kali seminggu.

“Kami memberi mereka ‘buku rapor’, yang harus diisi setiap kali mereka masuk sekolah. Rapor ini, untuk mengevaluasi sejauh mana kemajuan mereka, adakah keluhan baik yang datang dari si pasien, keluarga, maupun pengasuhnya (care giver), dan sebagainya. Kami tidak melakukan kunjungan (home visit), kecuali diminta,” ungkapnya.

Dilihat dari biayanya, relatif murah. Harapannya, orang tidak mampu pun bisa bersekolah di sini. Tapi, biaya ini di luar biaya-biaya lain, seperti fisioterapi. Sedangkan waktu sekolahnya cukup dua kali seminggu, selama sekitar 1−3 bulan.

Perlu diketahui, stroke dapat berulang. Orang yang mengalami stroke untuk pertama kalinya berisiko enam kali lipat terkena stroke berikutnya dibandingkan mereka yang belum pernah terkena stroke.

Stroke juga bukan dominasi mereka yang telah berusia paruh baya, melainkan juga bisa menyerang anak-anak, remaja, dan orang dewasa. Tapi, dengan derajat keparahan stroke yang sama, mereka yang berumur relatif lebih muda akan lebih cepat pulih dari kecacatan, dengan tetap mempertimbangkan faktor-faktor lain.

Namun, semakin sering stroke berulang, semakin banyak kecacatan yang didapat pasien. Jadi, cukup sekali saja terkena stroke.

Karena itu, stroke harus dicegah. Seandainya sudah telanjur terkena stroke dan cacat, masih ada harapan untuk dipulihkan. Salah satunya melalui Sekolah Stroke ini.

“Dengan demikian, dari segi bisnis, Sekolah Stroke ini cukup prospektif. Sebab, semua pasien paska stroke dari seluruh Jakarta tumplek bleg di sini. Harapan kami, nantinya, Sekolah Stroke semacam ini juga tumbuh di kota-kota lain,” kata Hermawan, tanpa bermaksud meneguk di air keruh. Saat ini, Karmel Stroke Centre yang berganti nama menjadi Karmel Stroke Centre And Revitalization dapat dijumpai di Jalan Kemanggisan Raya, Kebun Jeruk, Jakarta Barat.

Check Also

Cucian Bersih, Ekosistem Terjaga

Deterjen Minim Busa Isu ramah lingkungan membuat para pelaku usaha terus menggali ide untuk menciptakan …