Home / Celah / Kagak Ade Matinye

Kagak Ade Matinye

Usaha Pembuatan dan Penjualan Boneka

Dunia anak-anak adalah dunia bermain. Salah satu mainan kesukaan mereka yakni boneka. Tidak mengherankan, bila usaha pembuatan atau penjualan boneka, boleh dikata, kagak ade matinye

e-preneur.co. Katakan dengan boneka. Begitulah tren mengungkapkan rasa sayang yang berlaku sekarang, sebagai pengganti “katakan dengan bunga” yang sudah—meminjam istilah anak gaul—basi. Mengapa? Sebab, boneka tak kenal usia, jenis kelamin, awet, dan harganya terjangkau.

Kondisi ini dirasakan pula oleh Ajeng Raviando, yang pernah memilik usaha pembuatan dan penjualan boneka. Untuk itu, ia membuka outlet mungil di Tebet Barat dan Jalan Lamandau Raya, Jakarta Selatan.

Dengan modal Rp200 ribu, dia membeli 200 boneka sisa ekspor dari seorang pengusaha Korea yang mempunyai pabrik boneka di Sukabumi, Jawa Barat. “Saya melihat peluang ini sangat besar. Buktinya, semula saya hanya membawa boneka sebanyak satu kantung besar, lalu satu karung, dan akhirnya saya kewalahan memenuhi permintaan teman-teman saya,” kata Ajeng, yang memulai usahanya pada tahun 1995.

Ketika krisis moneter datang, banyak pabrik bangkrut dan boneka pun menghilang di pasaran. Padahal, permintaan masih banyak.

Untuk memenuhi permintaan pasar, tahun 1999, sarjana psikologi dari Universitas Indonesia ini berinisiatif membuat boneka sendiri dengan modal berputar Rp50 juta. Lalu, boneka-boneka beraneka ukuran dan bentuk tersebut dijualnya dengan harga Rp20 ribu–Rp385 ribu.

Boneka itu tidak kenal usia, jenis kelamin, awet, dan harganya terjangkau

“Penetapan harga ini dimaksudkan agar boneka-boneka saya tidak mudah dijiplak. Mengingat, boneka sangat mudah dibuat dan ditiru. Apa lagi, Orang Indonesia ‘kan pintar banget niru,” ujarnya.

Awalnya, 70% boneka yang ia jual merupakan produksinya sendiri. Tapi, lama kelaman dia merasa “ngos-ngosan” dalam memasarkannya.

Kemudian, Ajeng mencampuradukkan produksinya dengan produk impor dengan perbandingan 50:50 atau 40:60. “Seminggu sekali, pasar selalu menginginkan barang baru. Sementara kemampuan menyediakannya dan diserap pasar secara cepat tidak terpenuhi,” jelasnya.

Sedangkan untuk boneka-boneka yang belum laku terjual, padahal trennya sudah berubah, Ajeng menjualnya ke Time Zone yang membutuhkan mainan dalam jumlah ribuan dengan harga di bawah harga produksi. “Namanya juga dagang, kadang rugi kadang laba, daripada barang mati di gudang,” kata perempuan, yang membangun usaha ini bersama kedua sohibnya.

Selain melayani pembelian yang membanjir sehabis gajian dan event-event khusus seperti Valentine’s Day, Ajeng juga “melempar” boneka-bonekanya ke ITC Mangga Dua. Ia juga menerima pemesanan dari berbagai perusahaan seperti, CitiBank, Standard Chattered, Bank Niaga, dan berbagai perusahaan farmasi dengan minimal pemesanan 500 boneka berukuran sedang dan 1.000 boneka berukuran kecil.

“Saat Valentine, omset saya bisa naik hingga 2,5 kali lipat dari biasanya. Sedangkan bila Natal tiba, kenaikan omset saya hanya 1,5 kali lipat,” pungkasnya.

Check Also

Banyak Peminatnya

Rental Portable Toilet Kehadiran toilet umum—terutama yang bersih, nyaman, wangi, dan sehat—menjadi salah satu kebutuhan …