Home / Senggang / Resto Area / Unik dan Tidak Instan

Unik dan Tidak Instan

Angkringan Mukti

Mengusung konsep interior yag unik, serta menyediakan makanan dan minuman yang tidak instan, agar bisa merambah konsumen di semua kalangan. Keinginan Angkringan Mukti ini, pelan namun pasti, mulai terwujud

e-preneur.co. Angkringan Mukti mempunyai bentuk bangunan yang lebih mirip resto dengan konsep klasik ketimbang angkringan. Begitu masuk ke dalam ruangan-ruangannya yang bercahaya redup, dijumpai berbagai meja dan kursi yang berbeda satu sama lain.

Uniknya, kalau boleh dibilang begitu, setiap meja memiliki nama. Seperti, Risban Anyar, Risban Bodol, Risban Endep, Risban Duwur, Meja Glondongane, dan sebagainya.

“Meja-meja yang ada di sini tidak kami beli atau pesan dari perusahaan furniture, tapi kami beli dari pemiliknya―yang notabene orang-orang zaman dulu―yang kebetulan sudah tidak dipakai lagi. Karena itu, berbeda satu sama lain,” jelas pengelola Angkringan Mukti.

Risban, ia melanjutkan, dalam bahasa ngapak atau Banyumasan berarti kursi panjang yang terbuat dari kayu atau bambu dan biasanya digunakan untuk bersantai di teras atau ruang tamu. Atau, secara umum, kita kenal dengan istilah balai-balai.

“Jadi Risban Anyar berarti risban baru, Risban Bodol (risban rusak/lama), Risban Endep (risban pendek), dan Risban Duwur (risban tinggi). Sementara Glondhongane berarti kepala dusun. Sehingga, Meja Glondhongane berarti meja milik kepala dusun,” lanjutnya.

Di sini, juga terpajang dokar (delman, red.) yang diberi nama Dokar Warisane Mbah Hardjo. Mengingat, dulu, Mbah Hardjolah pemiliknya. Selain itu, juga ada kentongan, alu (alat penumbuk yang terbuat dari kayu bulat dan panjang, red.), lumpang (sejenis lesung, red.), dan sebagainya.

Membangkitkan kenangan para pelanggan yang sudah berumur, memancing keingintahuan kaum milenial

Pemberian nama dan kehadiran benda-benda tersebut, bukan tanpa maksud. “Kami berusaha menarik perhatian dengan membangkitkan kenangan para pelanggan yang sudah berumur terhadap benda-benda, yang pernah mereka pakai atau kenal di masa lalu. Sedangkan bagi kaum milenial, untuk memancing keingintahuan atau memberi tahu mereka bahwa di masa lalu ada lho benda-benda ini,” ungkapnya.

Selain menonjolkan konsep interiornya yang tradisional/klasik dipadukan dengan semi moderen dan suasana yang nyaman, Angkringan Mukti, laiknya sebuah tempat makan juga menonjolkan makanannya. Di sini, tersedia makanan yang sama dengan angkringan pada umumnya. Seperti, segala macam sate, nasi kucing, wedang jahe, teh manis, dan sebagainya.

Demikian pula, dengan harganya. Bahkan, beberapa di antaranya mempunyai harga yang lebih murah, tanpa mengurangi citarasanya.

Sementara menu best seller-nya berupa nasi bakar, bakso bakar, wedang jahe susu, dan wedang uwuh. Selain itu, di angkringan yang berdiri di atas lahan seluas sekitar 200 m² juga tersedia Kopi Gemplong yang diracik menjadi kopi tubruk, kopi saring, es kopi gula aren, dan es kopi matcha (teh hijau bubuk, red.).

“Kami ingin merambah semua kalangan. Karena itu, di samping makanan angkringan pada umumnya yang biasanya menyasar masyarakat kalangan bawah, kami juga menyediakan beberapa makanan yang diharapkan menarik minat masyarakat kalangan menengah atas atau anak-anak muda yang sedang menyukai kekinian,” bebernya.

Namun, semua makanan dan minuman di sini tidak ada yang instan. Contoh, untuk gorengan, tidak dihangatkan, tapi begitu dipesan langsung digorengkan. Untuk minuman herbal (kunir asam, jahe, kencur, dan sebagainya), bahan bakunya asli (bukan sirup). Sehingga, untuk membuatnya diproses dulu.

Imbasnya, dibutuhkan waktu hingga makanan dihidangkan. “Pada satu sisi, kami kewalahan menghadapi pengunjung yang tidak terbiasa dengan konsep penyajian angkringan semacam ini. Di sisi lain, hal ini, kami lakukan agar rasa tetap sama dan menghindari complaint dari konsumen yang menemukan rasa yang berbeda dari sebelumnya,” ujarnya.

Masalah berikutnya yang dihadapi angkringan yang menggunakan sistem pemesanan seperti resto atau dengan menggunakan buku/daftar menu ini yakni saat sepi pengungunjung. Sebab, omset bisa merosot hingga 22% per hari.

Untuk itu, pengelola mencoba mengatasinya dengan menyajikan live music dengan berbagai tema, dengan memberdayakan group musik setempat. Selain itu, sesekali mengadakan program diskon.

“Namun, saat sedangan ramai (dari Jumat malam hingga Senin malam), omset kami melonjak hingga 50%,” ucapnya.

Tertarik untuk nongkrong di Angkringan Mukti? Datang saja ke Jalan Pahlawan, Prumpung, Bumirejo, Kebumen, Jawa Tengah. Di sini, tersedia 36 meja (1 meja = 2‒4 kursi, red.) dan dapat di-booking untuk berbagai acara. “Tapi, meski sudah di-booking, konsumen tetap bisa datang kok. Karena, biasanya, hanya sebagian tempat yang digunakan,” pungkasnya.

Check Also

Bukan Sekadar Pasar

Pasar Gede Hardjonagoro Berbeda dengan pasar pada umumnya yang hanya difungsikan untuk tempat berjual beli, …