Home / Celah / Prospek Bisnisnya Selalu Ada

Prospek Bisnisnya Selalu Ada

­­Sepatu Berhiaskan Bordir dan Batuan Alam

Hingga saat ini, sebenarnya bisnis sepatu masih mempunyai prospek yang bagus. Sepanjang, sepatu itu memiliki ciri khas. Seperti, sepatu-sepatu bermerek D & A ini

e-preneur.co. Mulanya, alas kaki—baik sandal maupun sepatu—sekadar alat untuk melindungi kaki dari rasa panas, dingin, benda tajam, dan sebagainya. Seiring dengan kemajuan zaman, faktor keindahan juga diperhatikan para perancang alas kaki.

Sekadar informasi, menurut sejarah, alas kaki terbagi menjadi dua tipe yaitu mokasin dan sandal. Mokasin yang berbentuk tertutup ini biasanya dipakai masyarakat subtropis. Sekarang, istilah mokasin populer disebut sepatu. Sementara sandal, lebih banyak dipakai masyarakat tropis.

Setelah mengalami beberapa perubahan, alas kaki mengalami puncak keemasannya pada abad XX. Sebab, untuk pertama kalinya dalam sejarah busana, alas kaki menjadi pusat penampilan.

Elemen alas kaki yang dapat mempengaruhi penampilan yaitu bahan, aksesori atasan, warna, bentuk bagian depan, tinggi hak, bawahan, dan pengunci. Semua itu dapat membentuk citra pada pemakainya, seperti feminin, maskulin, atau sporti.

Sedangkan ditilik dari tujuannya, alas kaki sering diberi hak (terutama untuk alas kaki wanita, red.). Beberapa jenis hak, di antaranya cuban louis, millitary, wedge, spring, dutch boy, dan trimmed.

Meski sepatu memiliki bidang relatif kecil, tapi bagi perancang merupakan sum­­ber inspirasi yang tidak akan habis. Tapi, lebih dari semua itu, alas kaki yang dibuat dengan aspek estetis, tidak lagi sekadar untuk melindungi kaki.

Harus ada ciri khasnya

Apalagi, alas kaki tidak lagi mengenal batas geografi atau budaya. Demikian pula dengan desain yang muncul, tidak lagi dibatasi di mana perancang tinggal atau siapa pemakainya.

Berkaitan dengan sepatu sebagai sumber inspirasi yang tiada habisnya, Ade Eva pun mengakui hal itu. Awalnya, mantan karyawan Bappenas ini hanya sering membuat sketsa bunga. Lalu, ingin membangun bisnis, tanpa tahu pasti bisnis apa yang pas dengan sketsa-sketsa bunganya.

“Pada umumnya, sketsa bunga larinya ke bisnis busana berbordir. Tapi, pada tahun 2002, entah ide dari mana, saya pikir sketsa bunga ini lebih menarik jika digunakan sebagai hiasan sepatu. Apalagi, tidak banyak sepatu yang menggunakan hiasan bordir,” tuturnya.

Lantas, ia membuat satu dua sepatu berbordir dengan hak berbentuk sampan, yang dipakainya sendiri. “Melalui hak itulah, hiasan bordir akan terlihat dengan jelas,” ungkapnya.

Ternyata, banyak yang tertarik dan langsung memesan. Jumlah pesanan makin lama makin banyak. Hal inilah, yang mendorongnya untuk berbisnis sepatu berbordir dengan label D & A pada tahun 2003. Untuk itu, ia merekrut dua karyawan yang kemudian berkembang menjadi 10 karyawan.

Untuk lebih dikenal masyarakat luas, tahun 2004, Ade mengikuti pameran. Ternyata, pameran ini menarik perhatian Pertamina dan kemudian perusahaan perminyakan ini menawarkan kerja sama untuk menjadi mitra binaannya. Dari hubungan kerja sama itu, D & A diikutkan ke berbagai pameran besar baik di dalam maupun luar negeri.

Di samping itu, Ade juga menjalin kerja sama dengan Badan Pengembangan Ekspor Nasional yang setiap bulan atau tahun mempromosikan produk-produk Indonesia ke luar negeri. “Saya terbantu sekali dengan kerja sama ini,” ucapnya.

Sehubungan dengan itu, tidak mengherankan bila ratusan pasang sepatu buatannya terjual setiap bulannya dan tersebar hingga ke Ambon, Palembang, Balikpapan, Singapura, Malaysia, dan Belanda. “Merek D & A sudah dipatenkan. Untuk itu, para pembeli sepatu-sepatu saya (yang lalu dijual lagi) di dalam negeri harus mencantumkan merek D & A. Sedangkan untuk pembeli dari mancanegara, boleh tidak menggunakan merek ini ketika mereka akan menjual lagi,” katanya, tanpa menjelaskan alasannya.

Penentuan harga sepatu buatan Ade ini, tergantung pada pertama, tinggi rendahnya hak. Di sini, tersedia sepatu dengan hak 35 cm‒43 cm untuk orang dewasa dan 0 cm‒12 cm untuk anak-anak. Kedua, bahan baku (kulit sapi atau kulit kambing, denim, kanvas, suede, dan kulit imitasi, red.). Ketiga, desain.

Setiap pekan, D & A yang dibangun dengan modal awal Rp1 juta, lalu meningkat menjadi Rp5 juta, dan akhirnya Rp10 juta ini memproduksi sepatu baik yang bermodel kasual, semi formal (untuk bekerja, red.), maupun formal (pesta, red.). “Sudah 105 model saya luncurkan ke pasar,” ujarnya.

Pada medio 2005, Ade juga memproduksi sepatu-sepatu berhiaskan batuan alam. Ide ini muncul kala ia membuat bros dari batuan alam, seperti gem stone, malachite, rose quartz, dan sebagainya yang dia ambil dari Sukabumi, Pacitan, Vietnam, Bangkok, dan Hong Kong.

Sejauh ini, menurut Ade, D & A belum memiliki pesaing. “Produk saya lebih halus dari yang ada di pasaran,” katanya, tanpa bermaksud merendahkan merek lain. Selain itu, bordir D & A selalu bergambarkan bunga rumput (dengan 15 sketsa yang berbeda), gambar bunga yang tidak akan ditemui di pasaran, dan kupu-kupu.

Pada dasarnya, Ade menambahkan, prospek bisnis sepatu hingga saat ini masih bagus. Sepanjang, produk itu memiliki ciri khas. Lebih dari itu, supaya lebih cepat dikenal dan berkembang, berbisnis tetap harus memiliki sponsor.

Check Also

Banyak Peminatnya

Rental Portable Toilet Kehadiran toilet umum—terutama yang bersih, nyaman, wangi, dan sehat—menjadi salah satu kebutuhan …