Home / Kiat / Penjualan Meningkat dengan Website dan Katalog

Penjualan Meningkat dengan Website dan Katalog

Bisnis Kebaya

Apa pun adat yang digunakan atau tema yang diangkat dalam pernikahan, selalu ada yang menggunakan kebaya. Tidak mengherankan, bila bisnis penjualan kebaya (baik yang sudah jadi maupun yang masih berbentuk kebaya) selalu ada prospeknya, di samping juga harus mengetahui kiat-kiatnya dalam menghadapi berbagai masalah. Seperti Budi, yang berhasil meningkatkan penjualan kebayanya dengan website dan katalog

e-preneur.co. Menikah merupakan angan-angan setiap orang. Ketika masa ini tiba, tak jarang mereka merayakannya dengan pesta pora dan tampil secantik mungkin. Dan, bila kita cermat mengamati, apa pun adat yang digunakan atau tema yang diangkat dalam pernikahan itu, selalu saja ada yang menggunakan kebaya.

Berlatar belakang itulah, binis kain kebaya bisa menjadi bisnis yang menggiurkan. Hal inilah pulalah, yang menjadi salah satu pemancing Parlaungan Reynhard Budiawan Hutasoit, mantan sales sebuah perusahaan perkapalan, untuk beralih profesi menjadi pedagang kain kebaya di Pasar Tanah Abang, Jakarta.

Untuk itu, bersama dengan seorang teman yang sudah lama berbisnis kebaya, pada awal tahun 2002, mereka menyewa ruangan seluas 2 m x 4 m di Blok F Pasar Tanah Abang. Tapi, pada tahun kedua, setelah berbagi rugi dan laba, keduanya sepakat untuk berpisah dan mendirikan bisnis sendiri-sendiri.

Selanjutnya, untuk menopang bisnisnya yang dinamai Ina Collection, pria yang biasa disapa Budi ini meminjam modal ke banyak pihak. Sementara untuk pasokan bahan kebaya yag semula dipasok oleh koleganya, setelah mereka berpisah, Budi mengambilnya dari para sales yang wira-wiri di sekitar Pasar Tanah Abang.

Kemudian, bahan kebaya yang terbuat dari brokat, sutera, kashmir, Serat Nanas, dan sebagainya itu ia bawa ke sentra pengrajin bordir di Tasikmalaya. Atau, para pengrajin bordir yang sering bersliweran di Pasar Tanah Abang untuk menawarkan jasa mereka.

“Motifnya bisa datang dari si tukang bordir itu, bisa juga datang dari saya. Risiko yang tak bisa dielakkan yaitu kemungkinan besar motif kebaya saya sama dengan kios-kios lain di lokasi ini,” ungkap sarjana perikanan dari Institut Pertanian Bogor ini.

Dalam perjalanannya, banyak konsumennya yang mencari kebaya dari Serat Nanas. Padahal, sebelumnya, kebaya berbahan kashmir yang merajai.

Ada kenaikan permintaan 10%‒20%

“Sebenarnya, tidak ada perbedaan yang signifikan antara kebaya dari Serat Nanas dengan bahan-bahan lain. Kecuali, kebaya yang terbuat dari Serat Nanas lebih bagus tekturnya dan lebih ringan bahannya. Selain itu, ya, sekadar tren,” jelasnya.

Namun, tak ada pesta yang tak usai. Banyaknya peristiwa yang terjadi di Pasar Tanah Abang khususnya dan Jakarta pada umumnya, yang membuat omset para pedagang menurun drastis.

Di samping itu, munculnya pesaing yang begitu banyak, yang membuat Budi pusing tujuh keliling. Sebab, mereka menjual bahan, motif, warna, dan model yang sama. “Kalau selisih Rp1.000,- atau Rp2.000,- saja ditahan, ya bablaslah konsumen,” ungkapnya.

Padahal, dari setiap bahan yang dijual, ia hanya mengambil keuntungan 10%‒13%. Tapi, tidak berarti pula bisa dengan mudahnya menurunkan harga. “Kecuali, jika lagi butuh uang,” lanjutnya.

Untuk mengatasi masalah ini, strategi yang ia gunakan yaitu masuk ke milis (mailing list, red.) sebuah majalah. “Saya terinspirasi oleh seorang pengusaha busana muslim, yang profilnya pernah ditulis majalah tersebut. Kebetulan, ia pernah konsultasi dengan seorang konsultan bisnis dan disarankan untuk menggunakan website sebagai sarana untuk meningkatkan penjualan. Dan, saya pun mengikuti jejaknya,” paparnya.

Ternyata, tanggapan dari masyarakat lumayan bagus. Dari “iklan” yang baru ia pasang di website, ia mendapat 10 permintaan melalui e-mail. Di antaranya, datang dari Bali dan Malaysia.

Imbasnya, penjualan pun meningkat lagi secara perlahan. “Ada kenaikan permintaan 10%‒20% dari lima potong bahan yang terjual,” kata Budi, yang sebulan sekali selalu memperbaharui koleksinya.

Di samping itu, Budi yang pernah kursus memotret juga membuat katalog yang berisi foto-foto produk hasil jepretannya. Sehingga, konsumen tidak perlu repot-repot mengunjungi Pasar Tanah Abang.

Menurut Budi, apa pun kendala yang menghadang bisnis ini, tidak berarti tidak ada prospek. Apalagi, tidak semua toko mempunyai masalah yang sama. Terutama, toko-toko yang sudah mempunyai pelanggan tetap.

“Selama masih ada orang yang menikah, selama memakai kebaya tidak dilarang, selama kaum perempuan masih mau memakai kebaya, bisnis ini masih tetap prospektif,” pungkasnya, optimis.

Check Also

“Naik Kelas” dengan Mengganti Gerobak Dorong dengan Outlet Permanen Berkonsep Restoran

Bakmi Gila Usaha kakilima banyak diminati para pelaku usaha. Selain itu, konsep PKL mempunyai potensi …