Home / Kiat / Dulu Tidak Tertangkap, Kini Tertangkap Sebanyak-banyaknya

Dulu Tidak Tertangkap, Kini Tertangkap Sebanyak-banyaknya

Mizan MBS

Berjualan buku memang berbeda dengan berjualan makanan. Bila makanan itu ada, kosumen dapat langsung membeli. Sedangkan untuk membeli buku, konsumen harus dirangsang dulu minat bacanya. Meski, bukunya sudah berada di hadapan konsumen tersebut. Sebab itu, berkutat dalam (bisnis) buku harus aktif dan Mizan MBS merupakan sebuah terobosan. Hingga, yang dulu tidak tertangkap pun, kini dapat tertangkap sebanyak-banyaknya

e-preneur.co. Untuk memperluas pasar, berbagai macam gaya pemasaran dan promosi pun dilakukan oleh sebuah perusahaan. Misalnya dengan menggunakan mobil, seperti yang dilakukan PT Mizan Media Utama (PT MMU) atau Mizan, perusahaan penerbitan buku-buku bernuansa Islam.

Hal itu, bermula pada tahun 2003 di mana Mizan yang berkantor pusat di Bandung membuka cabang di Jakarta. Guna mencari celah atau peluang lain ―selain mendistribusikan buku-buku terbitan Mizan melalui toko buku― Rudi Ridwan yang saat itu menempati posisi Division Manager Mizan Jakarta, berinisiatif menggunakan mobil boks yang biasanya digunakan untuk mengangkut buku-buku Mizan juga digunakan untuk menjual buku.

“Waktu itu namanya Box Book Sell (BBS) dan belum mencantumkan nama Mizan. Kami beroperasi setiap Sabtu dan Minggu di Senayan, meniru cara dagang orang-orang yang biasanya menggelar dagangan mereka di Senayan setiap Sabtu-Minggu,” kisah Rudi. 

Ternyata, pilot project Mizan Jakarta ini membawa hasil yang lumayan. Tindakan serius pun segera diambil manajemen Mizan.

Dengan investasi hampir Rp100 juta, enam bulan kemudian, mobil boks tersebut diganti dengan Suzuki Carry. Dan, BBS pun berubah menjadi Mizan Mobile Book Store (MBS) dengan cara kerja mirip mobil toko.

“Tujuan kami, melalui Mizan MBS, yakni menjual buku-buku terbitan Mizan. Setidaknya, mendekatkannya dengan konsumen,” ujarnya.

Saat itu, Toko Buku Keliling Mizan ini memberi diskon 10% untuk pembelian langsung mencapai Rp150 ribu. Sedangkan untuk pembelian masal (misalnya, untuk melengkapi  koleksi perpustakaan, red.) atau pembelian lebih dari Rp5 juta, Mizan memberi diskon 20%.

Tidak ke mana-mana, tapi ada di mana-mana

Sementara semua buku yang dipajang di Mizan MBS merupakan buku baru, best seller, atau fast moving. “Kami tidak membawa buku murah atau yang sudah lama diterbitkan. Tapi, bila konsumen sudah mempunyai daftar bukunya, kami akan mencarikannya di toko buku kami dan membawakannya keesokan harinya dengan HALAL (Harga Langka Lho, red.),” ungkapnya.

Dalam perkembangannya, Mizan MBS juga menjadi perpustakaan keliling dengan program MOCAMI (Mobil Baca Mizan, red.). Program MOCAMI ini, memberi fasilitas membaca buku secara gratis. “Jadi, sekarang, jualan jalan, perpustakaan (gratis) juga jalan,” tambahnya.

Mizan MBS yang mampu menampung 200 judul buku anak-anak dan 100 judul buku untuk orang dewasa ini, setiap hari nongkrong di sekolah, kampus, perkantoran, masjid, perkumpulan pengajian, dan sebagainya. Untuk itu, Mizan Jakarta menugaskan dua karyawannya untuk bekerja dengan cekatan.

Mereka harus mampu mengganti koleksi buku (sesuai dengan jam dan lokasi yang akan disinggahi) dalam waktu 15 menit. Setiap hari buku harus diganti dan setiap tiga bulan dilakukan stock opname.

Sebenarnya, Mizan MBS hanya ada satu. Tapi, karena mobil ini berkeliling ke seluruh penjuru Jakarta, maka terkesan sangat banyak dan hal ini meningkatkan nilai promosi.

“Rencananya, kami ingin menyebar ke seluruh Jabotabek dan setiap tahun menambah jumlah mobil. Tapi, sejauh ini, kondisinya belum memungkinkan,” ujarnya.

Sebab, Mizan yang memiliki 13 divisi ini masih merasa perlu untuk mengevaluasi apakah Mizan MBS sebaiknya dimasukkan ke divisi pemasaran atau promosi. “Sejauh ini, dari segi promosi memang sangat berhasil. Mereka yang semula tidak begitu mengenal Mizan, kini mengenal Mizan dengan baik. Sebab, Mizan MBS tidak ke mana-mana tapi ada di mana-mana,” ucapnya.

Sedangkan dari segi marketing, selain terjadi perluasan pasar, tanpa disengaja Mizan menemukan toko-toko buku baru dan bertemu dengan orang-orang yang lalu membeli dalam jumlah besar untuk disumbangkan atau menambah koleksi perpustakaan mereka. “Istilahnya, yang dulu tidak tertangkap, kini tertangkap sebanyak-banyaknya,” lanjutnya.

Dari segi omset pun terjadi kenaikan hingga 50%. “Di samping itu, dibandingkan toko buku yang laporan keuangannya baru kami terima 1–1,5 bulan kemudian, di Mizan MBS, kami menerima setoran setiap hari,” katanya. Dengan Mizan MBS pula, akses ke pembeli juga dapat diketahui secara langsung. Karena, pembelilah yang mendatangi Mizan.

Di sisi lain, Mizan MBS harus berkejaran dengan waktu. “Setiap hari, kami diberi target berada di tiga tempat. Tapi, karena macet, seringkali kami hanya bisa mendapatkan satu tempat. Sementara waktu yang tersedia, sudah sangat sempit dan lokasinya tidak strategis. Padahal, daya beli di tempat itu kemungkinan tinggi,” ujarnya.

Selain itu, ia melanjutkan, harus berhadapan dengan pemalak, preman, tukang parkir, satpam, polisi, dan sebagainya. Meski, sudah membawa surat keterangan. Sedangkan dari segi kelengkapan judul buku, Mizan MBS juga kurang komplit

“Namun, yang jelas, misi utama kami yaitu mengkomunikasikan Mizan sudah tercapai. Bahkan, para polisi di kawasan Sudirman pun mengenal kami. Sebab, Mizan MBS sudah pernah dua kali tertangkap. Kami lebih mementingkan ke mana kami berada daripada berapa jumlah kami,” pungkasnya.

Check Also

“Naik Kelas” dengan Mengganti Gerobak Dorong dengan Outlet Permanen Berkonsep Restoran

Bakmi Gila Usaha kakilima banyak diminati para pelaku usaha. Selain itu, konsep PKL mempunyai potensi …