Home / Celah / Disukai Konsumen Kelas Menengah ke Atas

Disukai Konsumen Kelas Menengah ke Atas

Washi Doll

Katakan dengan boneka. Mengapa tidak? Sebab, boneka-boneka yang dibuat zaman sekarang bukan sekadar mainan atau penghias ruangan, melainkan juga untuk meningkatkan prestise pemiliknya. Seperti washi doll buatan Josephine ini, yang disukai konsumen kelas menengah ke atas dari Asia dan Eropa

e-preneur.co. Dalam sejarah kehidupan manusia, boneka mempunyai peran yang sangat penting. Merunut ke belakang, pada awalnya, boneka bukan cuma berfungsi sebagai mainan atau penghias ruangan, melainkan juga digunakan sebagai obyek berbagai ritual keagamaan atau hal-hal yang berbau ilmu hitam.

Boneka, dalam kaitannya dengan upacara atau festival keagamaan, tidak mungkin pula dilepaskan dari hal-hal yang menyangkut kutukan atau mantera. Singkat kata, manusia dan boneka memiliki hubungan yang sangat erat.

Sama halnya dengan kebudayaan-kebudayaan lain, Jepang juga menggunakan boneka sebagai obyek ritual keagamaan sekaligus penghias ruangan. Hal ini, tampak dari model rambut dan gaya berbusana boneka-boneka Jepang yang dipajang di lemari hias atau digantung di dinding.

Semula, boneka-boneka ini dibuat dengan menggunakan kayu dan kain. Dalam perkembangannya, juga menggunakan washi (kertas yang terbuat dari lapisan kulit bagian dalam Pohon Mulberry, Mitsumata, dan Gampi, red.) dan clay (sejenis kertas tradisional Jepang, red.) atau styrofoam. Sehingga, lebih dikenal dengan nama boneka washi.

Boneka washi yang setiap bagian tubuhnya (wajah, rambut, dan pernak-pernik lainnya) dibentuk dari kertas washi ini, muncul di Jepang beberapa abad lampau. Boneka buatan tangan dan berbentuk pipih ini, biasanya mengambil karakter atau adegan dalam sandiwara Kabuki—sehingga wajahnya pun putih dan tanpa ekspresi—atau berbagai upacara tradisional Jepang.

Ada yang memakai berbagai pakaian adat di Indonesia juga lho

Kini, penggemar dan pembuat boneka washi tidak hanya bisa ditemui di Jepang, tapi juga di Indonesia. Salah satunya yakni Josephine Tjen, pengrajin boneka washi yang (melalui tangan kedua) telah “melempar” hasil karyanya ini hingga ke Kanada dan Australia. Bahkan, ke Jepang.

Ia memulai bisnisnya tahun 1997, dengan modal sekitar Rp80 ribu. “Pertama kali membuat kostum washi doll, saya menggunakan kertas kado. Karena, saya belum tahu di mana harus membeli material sebenarnya. Bentuknya memang bagus, tapi hasilnya kurang bagus,” kisahnya.

Informasi pun ia peroleh. Di Singapura—tempat di mana ia untuk pertama kalinya menemukan buku tentang boneka washi—Josephine pun membeli washi.

“Pada pembuatan washi doll yang kedua, saya menggunakan washi. Sedangkan untuk bagian kepala dan badannya, saya menggunakan clay,” ungkapnya.

Washi, Josephine melanjutkan, bervariasi harganya. Berkaitan dengan itu, harga untuk membuat satu boneka dengan karakter sederhana (hanya memerlukan selembar washi, red.) lebih murah daripada untuk yang berkarakter rumit (membutuhkan washi dalam jumlah banyak, red.).

“Berapa banyak bahan baku yang digunakan atau modal yang harus dikeluarkan, tergantung pada sederhana rumitnya karakter boneka washi ini. Sebab, boneka semacam ini memang sangat ditentukan oleh karakternya,” jelasnya.

Josephine menjual washi doll berikut bingkainya dengan harga Rp500 ribu‒Rp4,1 juta. Sedangkan untuk modifikasinya (mengenakan kostum adat di Indonesia, red.), boneka yang berkarakter anak laki-laki dan anak perempuan ini dijual dengan harga Rp50 ribu‒Rp300 ribu.

Mahal? “Seni tidak bisa dinilai dengan uang, bukan?” ucapnya, bernada retoris. Untuk itu, washi doll ini hanya bisa dijumpai di beberapa hotel di Jakarta dan Bali, atau (melalui tangan kedua) di beberapa toko di Bandung, Surabaya, dan Makassar.

Meski boneka-boneka ini disukai oleh para konsumen kelas menengah ke atas dari Asia, tapi untuk meraih lebih banyak konsumen, Josephine juga memodifikasinya dengan karakter berbagai pakaian adat di Indonesia. Misalnya, sepasang Pengantin Batak dengan tetap menggunakan washi.

Dan, respon besar datang dari para konsumen kelas menengah ke atas dari Eropa, di samping Asia tentunya. Tak pelak, omset puluhan juta rupiah per bulan bisa ia raup dari boneka-boneka mungil ini.

Saat ini, perempuan yang dalam sehari dapat membuat 20 pasang boneka ini,

telah membuat 20 kostum daerah untuk washi doll yang disebutnya Boneka Nusantara. “Washi doll, saya buat limited edition atau satu daerah untuk satu boneka. Jadi, harganya lebih mahal. Bukan karena mahal murahnya washi (yang harganya di Indonesia lebih mahal daripada di Jepang, red.), melainkan lebih pada rumitnya proses pembuatan,” pungkasnya.

Check Also

Banyak Peminatnya

Rental Portable Toilet Kehadiran toilet umum—terutama yang bersih, nyaman, wangi, dan sehat—menjadi salah satu kebutuhan …