Home / Inovasi / Menembus Pasar dengan Konsep Upcycle

Menembus Pasar dengan Konsep Upcycle

Tas dari Limbah Perca Jins dan Katun (Control New)

Isu lingkungan, ternyata memunculkan banyak ide usaha. Terutama, di kalangan generasi milenial. Seperti Afif, yang meluncurkan produk tas desainnya sendiri dengan bahan baku limbah perca jins dan kantun. Dengan konsep upcycle dan Teknik Boro Sashiko, produk yang dilabeli Control New ini peminatnya terus ada

e-preneur.co. Isu lingkungan hidup menimbulkan banyak ide usaha, bagi mereka yang inovatif. Salah satunya Afif Mustapha, yang memutuskan terjun ke usaha pembuatan tas berbahan limbah perca jins dan katun.

“Kebetulan, di lingkungan sekitarku banyak limbah perca jins dan katun yang belum diolah. Di sisi lain, niatku yang ingin membangun usaha dan membantu lingkungan membuatku kecemplung di sini,” tuturnya.

Ide usaha yang muncul pada tahun 2017 itu, ia wujudkan pada awal tahun 2018. Sementara untuk modalnya, kelahiran Jakarta, 14 Maret 1995 ini mengistilahkannya step by step.

“Modalnya cuma Rp100 ribu. Aku membeli sebuah tas jadi, lalu aku hiasi atau tempelin limbah perca jins dan katun. Lantas, aku jual. Setelah laku, aku beli tas lagi, dihiasi lagi, dijual lagi. Begitu seterusnya sampai terkumpul modal yang cukup untuk membangun usaha. Jadi, kalau bicara modal awal, aku memang tidak ada persiapan. Apa yang bisa aku kerjakan ya aku kerjakan,” kisahnya.

Dalam perkembangannya, sarjana seni rupa dari Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur, ini mendesain sendiri tas yang diinginkan. Sementara bahan bakunya, sepenuhnya dari limbah perca jins dan katun.

“Tas ini terbagi menjadi tiga lapis. Untuk lapis pertama, polanya dari limbah perca katun, tapi yang berukuran besar. Lalu, pada bagian atas lapis pertama ini, diisi atau dihiasi dengan patchwork dari limbah perca jins. Sementara bagian dalam tas atau yang biasa disebut furing, menggunakan kain waterproof yang dibeli jadi. Karena, belum ada bahan yang cocok untuk dijadikan furing,” ungkapnya.

Memadukan celah, inovasi, dan strategi bisnis

Bahan baku tas ini, Afif melanjutkan, didapat dari tukang permak pakaian yang ditemuinya di pasar. Kemudian, bahan baku yang diperolehnya secara gratis itu diolah. Berikutnya, dikembalikan lagi ke tukang permak pakaian tersebut untuk dibentuk menjadi tas sesuai desainnya.

“Ada simbiosis mutualisme di sini. Di satu sisi, tukang permak itu tidak perlu membuang limbah kain, malah mendapat tambahan penghasilan. Di sisi lain, aku mendapat limbah kain secara gratis,” kata Afif, yang lantas menjalin kerja sama dengan tukang permak tersebut atas dasar pesanan.

Sebenarnya, ia menambahkan, konsep usaha ini bukan daur ulang (recycle), melainkan upcycle. Sebab, berasal dari bahan baku yang tidak dipakai, lalu ditingkatkan kualitasnya.

Sehingga, harus dimaklumi bila harga limbah bahan yang telah diolah lebih mahal dibandingkan dengan bahan baru. Sebab, ada proses dan peningkatan value. “Contoh outer yang full limbah kain ini, harganya lebih mahal ketimbang outer dengan bahan baru,” ujarnya.

Selain itu, ia juga sangat concern dengan kualitas produknya. “Aku sadar, tas ini berasal dari limbah. Kalau kualitasnya tidak ditingkatkan, pasti gampang rusak dan tidak butuh waktu lama akan menjadi limbah lagi,” lanjut Afif, yang memberi nama usahanya Control New.

Tentang Control New, saat ini telah memiliki 25 item. Di antaranya, berupa backpack, messenger bag, laptop bag, tote bag, sling bag, pouch, dan waist bag. Tas-tas yang secara fungsional unisex ini, dibandrol dengan harga Rp200 ribu‒Rp600 ribu.

Afif menyadari jika harga Control New terbilang mahal. Karena itu, agar orang-orang tidak pikir-pikir dulu untuk membeli produknya, ia menyarankan untuk mengunjungi Pasaraya (Jakarta) atau Selasar Sunaryo (Bandung).

Di sana, mereka bisa melihat langsung, memegang bahannya, mengetahui ukurannya, dan sebagainya. “Atau, bisa juga melalui instagram aku,” ujar Afif, yang mengaku pembelian lebih banyak secara online.

Ya, 50% dari total produksi terjual by online, sedangkan 50% yang lain dioper ke offline store dan diikutkan dalam berbagai event yang setiap bulan ia ikuti. “Di event-event itu, penjualannya lumayan,” tambah Afif, yang setiap bulan memproduksi sekitar 30 pieces‒50 pieces all item.

Bicara prospek, menurut Afif, ada banget. Sebab, semakin lama, isu lingkungan semakin gencar. Selain itu, orang-orang juga sudah semakin peduli lingkungan.

“Mereka tidak lagi sekadar membeli baju, tapi harus ada added value-nya. Imbasnya, dari tahun pertama sampai sekarang, peminat tasku terus ada. Meski, perlahan,” ucap Afif, yang menjadikan mereka dari kalangan menengah dan menengah ke atas, serta berusia 20 tahun‒50 tahun sebagai target market-nya.

Sementara berbicara tentang rencana ke depan, dengan percaya diri, Afif mengatakan akan terus berinovasi. Selain itu, akan terus mempertahankan idealismenya yaitu tetap menggunakan limbah, tapi produk yang dihasilkan mengikuti perkembangan.

“Kalau aku hanya membuat  tote bag, misalnya, aku tidak bisa bertahan. Jadi, aku harus mengikuti perkembangan. Aku harus mencari tahu tas seperti apa yang konsumen inginkan. Seperti, waist bag yang sekarang sedang tren atau outer yang sedang booming. Singkat kata, konsep tetap limbah kain, tapi produk mengikuti tren. Jadi, realistis sekaligus konsisten,” pungkasnya.

Check Also

Cucian Bersih, Ekosistem Terjaga

Deterjen Minim Busa Isu ramah lingkungan membuat para pelaku usaha terus menggali ide untuk menciptakan …