Home / Profil / Kisah Sukses / “Dibandingkan Bisnis Pendidikan, Bisnis Makanan Dimungkinkan Menggenjot Laba Lebih Tinggi”

“Dibandingkan Bisnis Pendidikan, Bisnis Makanan Dimungkinkan Menggenjot Laba Lebih Tinggi”

Susanty Widjaya (Bakmi Naga)

Pengalaman adalah guru paling berharga. Hal itu, setidaknya telah dibuktikan oleh Susanty Widjaya. Setelah sukses menangani ekspansi franchise sebuah lembaga pendidikan selama 13 tahun, ia kembali menorehkan kesuksesan pada Bakmi Naga. Bisnis keluarga ini pun dibuatnya menggurita dengan skema franchise

e-preneur.co. Banyak jalan menuju milyarder. Salah satunya yakni menjadi pengusaha.

Namun, ada sebagian orang yang memilih jalan berbeda. Mereka memutuskan menimba ilmu terlebih dulu di perusahaan orang lain.

Mereka menjadi karyawan profesional, sesuai dengan pendidikan yang ditempuh. Selanjutnya, dengan jiwa intrapreneur yang dimiliki, mereka gigih memikirkan keuntungan bagi perusahaan tempat mereka bekerja. Imbasnya, posisi puncak dalam perusahaan pun berhasil mereka raih.

Namun, ternyata, posisi yang didamba semua karyawan itu bukan akhir bagi mereka. Sebab, ada mimpi lain yang ingin mereka wujudkan yakni menjadi pengusaha dengan mengembangkan usaha sendiri.

Mimpi itulah, yang kemudian membuat Susanty Widjaya mundur sebagai Direktur Franchise dan Marketing sebuah lembaga pendidikan Bahasa Inggris. Sebelumnya, ia telah berhasil mengangkat lembaga pendidikan tersebut yang semula hanya memiliki tujuh cabang menjadi lebih dari 80 jaringan franchise.

Kemampuan dalam ekspansi franchise itulah, yang kemudian membuatnya mudah melakukan ekspansi gerai Bakmi Naga, sebuah bisnis keluarga yang telah hadir sejak tahun 1979. “Saya dipercaya keluarga untuk membesarkan nama Bakmi Naga dan saya mempunyai komitmen untuk mengembangkannya seluas mungkin,” tuturnya.

Selama lebih dari 30 tahun, Bakmi Naga hanya berekspansi di kalangan keluarga sendiri. “Bila kami tidak mempunyai keluarga di Sumatra, Sulawesi, atau Kalimantan berarti tidak ada cabang Bakmi Naga di sana,” jelas generasi ketiga Ny Liong, pendiri Bakmi Naga.

Bisnis makanan mampu mengantongi keuntungan hingga 50%

Kemudian, berbagai strategi pemasaran seperti halnya menyukseskan franchise di lembaga pendidikan itu juga ia terapkan di Bakmi Naga. “Ketika pertama kali akan mengembangkan pemasaran di lembaga pendidikan itu, saya mengubah strategi pemasarannya yakni dengan mengembangkannya melalui jalur franchise dan pemisahan antara cabang dengan outlet franchisee dengan membentuk perusahaan,” paparnya.

Ketika strategi itu ia terapkan di Bakmi Naga, terjadi antrean panjang di setiap gerainya. Selain itu, setiap bulan, Bakmi Naga membuka satu gerai franchisee sejak Maret 2011. Bahkan, pada Oktober 2011, dibuka empat gerai franchisee sekaligus.

Menurut Susanty, pada masa transisi menjadi perusahaan franchisor yang memiliki integritas tinggi dan baik, serta berjalan dengan komitmen penuh, diperlukan banyak waktu, tenaga, dan biaya. Setelah tahap tersebut dilewati, bisa dipastikan bisnis franchise itu akan berkembang ke seluruh Nusantara. Bahkan, sampai ke mancanegara. “Sebab, franchise merupakan salah satu bagian dari strategi marketing,” ujarnya.

Namun, ia menambahkan, mem-franchise-kan bisnis food and beverage tentu berbeda dengan bisnis pendidikan. “Karena beda bidang, walau yang saya jual sama yaitu franchise business. Saya tetap harus banyak belajar,” ucapnya.

Tapi, ia beranggapan bisnis yang sedang ia tangani ini mempunyai banyak sekali varian, lebih menguntungkan, dan banyak peminatnya. “Saya sangat bersyukur, karena adanya dukungan penuh dari keluarga. Khususnya dari komisaris, yang juga mempunyai keahlian di bidang quality control dan tim yang solid untuk mengembangkan ini semuanya,” katanya.

Pasarnya juga begitu luas, sebab semua orang membutuhkan makanan. Apalagi, bakmi boleh dikata sudah menjadi pengganti makanan pokok. Jadi, tinggal bagaimana menjaga standarisasi kualitas dan brand yang selayaknya dipilih bagi yang ingin membeli franchise-nya. 

Setelah membuka peluang franchise pada akhir tahun 2010, aplikasi yang masuk sangat banyak. “Tapi, rata-rata, yang berminat itu tidak memiliki lokasi yang memenuhi syarat,” katanya.

Di sisi lain, franchise ini sangat selektif. Sebab, bukan hanya mensyaratkan mampu dari sisi modal, melainkan juga harus mempunyai passion menjalankan bisnis ini. Pengalaman menunjukkan banyak franchisee gagal lantaran tidak mengurusi bisnisnya dengan serius dan hanya mengandalkan kemampuan modalnya.

Menurut Susanty, dibandingkan bisnis pendidikan, bisnis makanan dimungkinkan menggenjot laba lebih tinggi. Bahkan, mampu mengantongi keuntungan hingga 50%.

Hal itu, membuatnya semakin yakin bahwa investasi franchise di Bakmi Naga tidaklah sia-sia. Sebab, bukan hanya franchisee yang akan mendapatkan keuntungan, tapi juga si franchisor.

“Bisnis kita akan dengan cepat berekspansi di setiap wilayah, bahkan hingga ke luar negeri. Tentunya, dengan tetap mempertahankan kualitas dan standarisasi, serta keunikan dari nature bisnis yang kita miliki,” pungkasnya.

Dari perputaran gerai franchise itu, tentu investasi milyaran rupiah diharapkan berhasil balik modal seiring berjalannya waktu. Dan, melalui Bakmi Naga, Susanty mempunyai visi ingin memperkenalkan brand franchise lokal Indonesia di belahan dunia.

Check Also

“Siapa pun yang Bekerja Keras Pasti Bisa Berhasil!”

Muhadi Setiabudi (Pemilik PO Dedy Jaya) Merintis usaha dari berdagang es lilin hingga menjadi kondektur …