Home / Agro Bisnis / Lezat Sebagai Bahan Baku Makanan, Manjur Sebagai Bahan Baku Obat

Lezat Sebagai Bahan Baku Makanan, Manjur Sebagai Bahan Baku Obat

Bulu Babi

Di Indonesia terdapat sekitar 40 jenis Bulu Babi. Namun, masyarakat nelayan, khususnya, cuma menganggapnya hama lautan. Padahal, di balik itu, tersimpan potensi ekonomi yang sangat besar. Seperti, hasil riset dan observasi kecil-kecilan yang dilakukan Graha Potensi Bahari, yang kemudian membudidayakan, mengolah, dan memasarkan hasilnya dengan segala keterbatasannya

e-preneur.co. Bulu Babi, selama ini, dianggap sebagai musuh lautan. Sebab, pertama, Bulu Babi merupakan predator bagi terumbu karang. Kedua, Bulu Babi, terutama yang hitam, mengganggu aktivitas manusia baik nelayan maupun turis.

Berkaitan dengan itu, banyak Bulu Babi yang dibuang begitu saja. Hingga, suatu ketika, sebuah acara di sebuah stasiun televisi menayangkan liputan tentang Bulu Babi di Sulawesi. Tayangan itu, menginformasikan bahwa Bulu Babi dapat dimakan.

Hal itu, membuat Yuri Pratama Widiyana penasaran untuk mencari informasi lebih lanjut. Ternyata, Bulu Babi mempunyai potensi ekonomi yang sangat besar.

“Di samping itu, dari hasil investigasi, kami mendapati bahwa di Indonesia ada sekitar 40 jenis Bulu Babi. Mengingat, Indonesia adalah negara tropis dan kaya akan terumbu karang,” tuturnya.

Selanjutnya, Yuri dan kawan-kawannya melakukan riset kecil-kecilan. Karena, bermaksud membudidayakannya. Selain itu, mereka juga ingin menjadikan Bulu Babi sebagai mata pencaharian sampingan para nelayan.

Dari hasil riset itu, diketahui bahwa ternyata yang dapat dibudidayakan hanya tiga jenis yaitu pertama, diadema setosum atau Bulu Babi Hitam dengan ciri mempunyai duri panjang dan beracun. Penyebarannya di seluruh pantai di negara-negara beriklim tropis.

Kedua, tripneustes gratilla atau Bulu Babi Manggisan dengan ciri mempunyai duri pendek dan tidak beracun, serta berwarna ungu, merah, cokelat, dan belang-belang. Penyebarannya di Indonesia Bagian Timur. Sebagian masyarakat pesisir sudah mengonsumsinya dan ternyata paling marketable.

Ketiga, echinometra mathei. Bulu Babi ini mirip dengan Bulu Babi Hitam, tapi bulunya lebih tebal. Penyebarannya di Indonesia Bagian Barat.

“Dalam perkembangannya, Bulu Babi Hitam yang kami budidayakan. Karena, paling banyak jumlahnya, paling gampang didapat, dan paling tidak dibutuhkan. Hal-hal itu, justru menjadi tantangan bagi kami,” lanjutnya.

Namun, dengan pemikiran bahwa tidak mungkin mampu menjalankannya sendiri, Yuri dan kawan-kawannya bekerja sama dengan jaringan mereka yang ada di Kepulauan Seribu. Pada Februari 2010, mereka memulai budidaya Bulu Babi di Pulau Tidung, Kepulauan Seribu, dengan hanya dibantu tiga nelayan.

“Untuk lahannya, kami bekerja sama dengan Kelompok Nelayan DPL (Daerah Perlindungan Laut) yang memiliki areal budidaya, tapi sebenarnya bukan untuk budidaya Bulu Babi. Karena itu, kami hanya mendapat lahan seukuran keramba pertama kami yaitu 2 m x 3 m yang mampu menampung 1.000 ekor Bulu Babi,” jelas sarjana administrasi niaga dari Universitas Indonesia ini.

Untuk itu, modal yang mereka keluarkan tidak lebih dari Rp2 juta dan itu hanya untuk pembuatan keramba. Sementara bibit Bulu Babi, mengambil dari alam.

“Tapi, kami tidak asal ambil. Kami mengambil yang ukuran cangkangnya kurang dari 5 cm. Hal itu, kami lakukan untuk menghindarkan Bulu Babi dari stres,” katanya. Untuk pembibitan ini, mereka melakukannya di Pulau Tikus, sementara untuk pembesaran dilakukan di Pulau Tidung dan Pulau Page.

Namun, dari learning by doing selama lebih dari setahun, secara finansial, Yuri dan kawan-kawannya merugi Rp50 juta. Sementara dari sisi Bulu Babi-nya, banyak yang mati lantaran stres atau kabur (mereka mempunyai kemampuan memanjat, red.).

“Bulu Babi yang kami panen berumur lebih dari 1 tahun 3 bulan. Hal itu, bisa diketahui dari diameter cangkang yang berukuran di atas 7 cm. Selain itu, pada umur itu, biasanya sudah memijah (bertelur) setidaknya sekali,” jelas kelahiran Jakarta, 15 Juli 1984 ini.

Yuri dan kawan-kawannya tidak menyarankan yang belum memijah untuk dipanen. Karena, tidak bagus bagi sustainability-nya. Mengingat, yang bersangkutan belum meninggalkan keturunan.

“Di samping itu, kondisi itu tidak bagus bagi kualitas gonadnya. Sebab, belum di-‘test drive’,” imbuhnya.

Sekadar informasi, sebuah sumber menyatakan bahwa gonad merupakan alat reproduksi pada Bulu Babi di mana baik pada jantan maupun betina itu sama. Gonad ini bisa kita jumpai dalam makanan Jepang yaitu sushi.

Jika gonad diambil berarti Bulu Babi itu harus dimatikan. Dan, itu yang menjadi salah satu alasan lagi mengapa Yuri dan kawan-kawannya membudidayakan Bulu Babi.

“Banyak yang bertanya mengapa harus dibudidayakan, ‘kan tinggal ngambil? Mereka tidak sadar kalau lama-kelamaan jumlah binatang ini akan habis kalau terus-menerus diambil, tanpa dibudidayakan. Seperti, yang terjadi pada tripang,” ujarnya.

Yuri dan kawan-kawannya menjual gonad Bulu Babi ke berbagai rumah makan Jepang, yang menyediakan sushi atau ke supermarket yang menjual bahan baku sushi. Tapi, sampling yang mereka ditolak.

Gonad Bulu Babi mengandungan protein, zinc, kalsium, dan sebagainya yang sangat tinggi, selain lezat sebagai bahan baku sushi

“Ternyata, untuk memasok gonad Bulu Babi ada banyak kriteria yang harus dipenuhi yang menyangkut kualitas, seperti grading, packaging, quality tester, hingga jenis bulu babinya,” ujar Yuri, yang usahanya akhirnya settle atau berani membuat SOP (Standard Operating Procedure) pada awal tahun 2012.

Akhirnya, mereka memutuskan tidak ngotot untuk ekspor dan memilih untuk fokus di pasar lokal sambil memperbaiki kualitas produk. Bahkan, mereka sempat berhenti untuk mengubah strategi. Di antaranya, jika semula menerapkan sistem gaji, berikutnya membentuk komunitas/plasma.

Selain itu, juga mengubah sistem pemasaran dari fresh menjadi dried atau dikeringkan. Sementara sistem pengeringannya, dilakukan dengan menggunakan teknologi ala nelayan atau dikeringkan di bawah sinar matahari langsung.

Berdasarkan informasi, diketahui bahwa gonad Bulu Babi memiliki kandungan protein, zinc, kalsium, dan sebagainya yang sangat tinggi. Bahkan, di dunia internasional, gonad diketahui mempunyai potensi sebagai obat. Tepatnya, untuk meningkatkan vitalitas dan perkembangan hormonal baik untuk pria maupun wanita.

Dari situ, Yuri dan kawan-kawannya pun mencoba masuk ke segmen farmasi. Ternyata, diterima. Tapi, pihak buyer meminta dalam bentuk yang sudah dikeringkan.

“Selain dalam bentuk dikeringkan, kami juga membuat dalam bentuk ekstraksi yang kami luncurkan dengan merek Seagra. Nantinya, kami juga akan membuatnya yang dalam bentuk kapsul,” ungkapnya.

Untuk yang dalam bentuk dikeringkan, ia melanjutkan, nantinya mengarah ke semacam obat-obatan Cina. Untuk saat ini, Yuri dan kawan-kawannya melempar gonad yang sudah dikeringkan ini ke Semarang yang notabene pusat jamu. Sementara dari sisi kapasitas produksi, mereka mampu memproduksi kurang lebih 200 kg–250 kg.

Untuk yang dalam bentuk ekstraksi/serbuk, mengarah ke farmasi moderen. Untuk itu, mereka melemparnya ke Medan, Surabaya, Semarang, dan Bandung dengan kapasitas produksi kurang dari 100 kg.

Yuri menekankan bahwa untuk kedua varian produk tersebut di atas, posisi mereka hanya sebagai penyedia raw material. Sementara pasar-pasar yang disebutkan di atas sebagai buyer.

Tapi, untuk kapsul yang merupakan perkembangan dari ekstraksi, mereka membuat jalur pemasaran sendiri dalam bentuk direct selling. Untuk produksinya, mereka juga membuat sendiri dengan menggandeng buyer yang berada di Bandung.

“Berkaitan dengan itu, kami membentuk perusahaan joint venture. Namun, lebih dari itu semua, produk yang kami launch Februari 2014 ini 100% terbuat dari gonad Bulu Babi,” tegasnya.

Selanjutnya, Yuri dan kawan-kawannya membentuk perusahaan dengan nama Graha Potensi Bahari yang bertugas sebagai penyalur, pemasar, dan pengolah gonad Bulu Babi. Selain itu, juga membentuk Urchi Indonesia yang merupakan komunitas para nelayan penyedia produk mentahnya. Mereka juga melempar 90% produknya ke pasar farmasi dan sisanya tetap ke pasar makanan.

Berbicara tentang prospek bisnisnya, menurur Yuri, di pantai mana pun di Indonesia, khususnya, kita dapat menjumpai Bulu Babi. Bahkan, dalam jarak 5 m–10 m dari garis pantai, kita sudah bisa menjumpainya.

“Artinya, potensinya sangat besar, meski belum ada yang mengetahuinya. Sementara yang sudah mengetahui, belum bisa mengolahnya dengan baik. Karena, ada banyak keterbatasan. Seperti kami, yang masih terbatasi dalam menjangkau semua pantai di Indonesia,” pungkas Yuri, yang sampai saat ini, jaringannya masih di seputar Pulau Jawa seperti Pulau Seribu dan Banyuwangi, di samping Madura dan Karimun Jawa.

Check Also

Menyehatkan Konsumennya, Menguntungkan Petaninya

Beras Hitam Organik Meski buruk rupa, tapi kaya manfaat kesehatan. Tidak mengherankan, bila peminat Beras …