Home / Kiat / “Inovasi adalah Kunci bagi Pelaku Usaha Martabak untuk bisa Menjadi Miliader”

“Inovasi adalah Kunci bagi Pelaku Usaha Martabak untuk bisa Menjadi Miliader”

Suhanto Alim (Martabak Alim)

Martabak bukan sekadar jajanan pinggir jalan. Sebab, dengan sedikit kreasi, mampu membuat pelaku usahanya menjadi miliader. Seperti terobosan fenomenal yang dilakukan Alim, yang pada akhirnya menjadikannya miliarder pertama dalam usaha ini

e-preneur.co. Martabak. Hampir semua orang pernah menyantap makanan ringan yang terdiri dari Martabak Telur dan Martabak Manis ini. Apalagi, martabak sangat gampang dijumpai. Sebab, kebanyakan dijajakan di pinggir jalan oleh para pedagang kakilima.

Seperti rasanya yang menggoda selera pembeli, usaha ini juga diminati para pelaku usaha pemula. Sayang, kehadiran mereka tak lebih dari mengekor martabak yang telah ada di pasaran.

Sehingga, sudah bisa dipastikan tidak ada perbedaan yang signifikan antara penjual martabak yang satu dengan yang lain. Seperti, ukuran, harga, dan varian rasanya.

Sebut saja untuk Martabak Manis, hanya ada pilihan cokelat, keju, atau kacang. Demikian pula dengan Martabak Telur, yang tanpa modifikasi sama sekali. Imbasnya, meski laba terus mengalir, tapi belum mampu mengangkat pelaku usahanya menjadi miliarder.

Berbeda, dengan yang dilakukan Suhanto Alim. Ia sangat tajam membaca kebutuhan pasar martabak. Ia tidak mau menjiplak usaha martabak yang telah ada. Untuk itu, sekitar 43 rasa Martabak Manis (baca: martabak, red.) berbagai bentuk dibuatnya.

“Harga martabak saya bukan hanya seukuran loyang pada umumnya, tapi juga tersedia yang berukuran mini,” ungkap Alim, sapaan akrabnya. Meski terobosan itu dianggap menjatuhkan harga pasar, namun kemudian mengantarkannya menjadi miliarder martabak di Tanah Air. 

Inovasi tersebut, Alim bertutur, bermula ketika ia bertandang ke sebuah toko roti waralaba asing bersama temannya. Di toko tersebut, ia sangat terkejut ketika melihat antrean panjang para pembelinya.

Karena penasaran, ia mengamati lebih dekat penyebab antrean tersebut. “Saya melihat bahan dasar roti tidak ada yang berubah. Hanya, menambahkan berbagai pilihan topping yang sangat banyak. Selain itu, bentuknya juga bermacam-macam,” kisah kelahiran Bangka ini. 

Dari situ, ia berpikir bahwa sama halnya roti, martabak juga hanya satu. Jadi, bila roti bisa menjadi bermacam-macam rasa itu lantaran pilihan topping-nya banyak. Martabak pun bisa begitu.

Tanpa pikir panjang lagi, Alim pun mewujudkan mimpi besarnya mendirikan usaha martabak dengan brand Martabak Alim pada tahun 2007. Untuk itu, ia berhutang Rp98 juta sebagai modal awal usaha.

Di gerai yang semula berukuran 2 m² x 3 m² itu, ia mulai membuat martabak dengan cetakan yang ia pesan secara khusus. “Semua rasa buah dan variasi warna ada dalam martabak saya,” ucapnya. Dalam perjalanannya, gerai yang berlokasi di Jalan Agus Salim, Bekasi, itu mencatat rekor baru dalam percaturan usaha martabak di Tanah Air.

Sebulan berjalan, gerai itu semakin banyak pengunjungnya. Sebab, varian rasa, harga, dan bentuknya sangat menggoda pembeli. Lalu, banyak pembeli yang bercerita dari mulut ke mulut tentang martabaknya. Bahkan, di dunia maya, Martabak Alim juga hangat diperbincangkan.

Jika roti bisa mempunyai bermacam-macam rasa, martabak manis pun bisa

Imbasnya, antrean panjang di gerainya membuat sepanjang Jalan Agus Salim kerap padat merayap. “Bahkan, saya sering dimaki ‘monyet’ oleh pengguna jalan. Lantaran, dianggap sebagai biang kemacetan jalan tersebut,” lanjutnya.

Inovasi dan kemacetan itu, ternyata menjadi berita menarik untuk diketahui semua orang. Tak pelak, sebuah stasiun televisi swasta nasional mengangkatnya menjadi sebuah topik berita bisnis ter-hot di tahun tersebut. “Lalu, diikuti publikasi media massa lainnya,” tambahnya. 

Akibatnya, kemacetan semakin bertambah. Di sisi lain, ia sampai kehabisan stok bahan baku. Terkadang, supaya adil, ia memberi masing-masing satu martabak kepada tiga pembeli.

Dalam perkembangannya, jumlah pembeli terus meningkat. Sementara ketersediaan bahan baku martabak, tidak mampu memenuhi semua permintaan. Selain itu, tidak seharusnya pembeli yang ingin menikmati martabaknya dari seantero Nusantara harus datang  ke gerai itu.

Karena itu, lalu ia berekspansi dengan pola kemitraan. “Setahun kemudian, seorang kawan menawarkan diri untuk menjadi mitra. Setelah deal, gerai mitra pun dibuka,” paparnya.

Dan, sejak saat itu, permintaan menjadi mitra kian meningkat hingga pembukaan gerai mitra gencar dilakukan tahun itu. Tercatat, ia memiliki 206 gerai mitra di hampir semua kota provinsi di Indonesia.

Namun, ia sempat berhenti membuka peluang kemitraan pada tahun 2009−tahun 2010. Sebab, tak sedikit pelaku usaha martabak menjiplak Martabak Alim.

“Saya ingin memberi kesempatan kepada mereka. Monggo, silahkan Anda kalau punya ide jalan dulu. Kalau Anda kompetitor sehat, silahkan buat martabak sesuai dengan ide sendiri. Tapi, ternyata melempem. Sampai tahun 2011, sama sekali tidak ada yang mempunyai ide original. Cuma bisa meniru saya,” ujarnya.

Lantas, ia kembali membuka kesempatan kemitraan hingga bertambah tujuh gerai lagi. “Saya juga membuka peluang kemitraan dalam bentuk gerai menggunakan mobil. Sebab, membantu meminimalkan biaya sewa tempat,” jelasnya.

Imbasnya, perputaran bahan baku martabak dari semua mitranya membuat Alim yang dulu kuli panggul menjadi tinggal menikmati aliran kas hingga miliaran rupiah ke kantong pribadinya. “Kini, tugas saya yakni membuat martabak seperti roti. Dalam arti, bisa dimakan pagi, siang, dan malam. Bukan hanya musiman (bisa dimakan sore atau malam saja, red.), tapi juga di waktu cuaca dingin. Dan, yang lebih penting, saya ingin mengangkat kelas martabak menjadi kelas internasional yang bisa diterima di mancanegara,” pungkasnya.

Check Also

Pecel Lele Bukan Lagi Makanan Murah di Pinggir Jalan

Pecel Lele Lela Selama ini, Pecel Lele identik dengan warung tenda yang berlokasi di pinggir-pinggir …