Home / Kiat / “Dalam Bisnis Apa pun harus Mempunyai Mindset Bisnis itu Ada Prospeknya”

“Dalam Bisnis Apa pun harus Mempunyai Mindset Bisnis itu Ada Prospeknya”

Indrawanto (Direktur CV Diva Maju Bersama)

Semakin senja usia, semakin kreatif. Mengapa Tidak? Seperti yang dialami Indrawanto, yang merasa semakin lama semakin kreatif dan banyak ide meski tidak muda lagi. Imbasnya, setelah bisnis Arenga Palm Sugar-nya mengalir, dalam benaknya ada 15 bisnis lain yang ingin ia garap. Karena, dalam bisnis apa pun ada prospeknya

e-preneur.co. Nafsu kuat, tenaga kurang. Begitulah, kurang lebih gambaran Indrawanto ketika ingin membangun bisnis.

Pada umur 38 tahun, Indra, sapaan akrabnya, sudah ingin membangun bisnis. Ia sudah mencari-cari bidang bisnis apa yang nantinya akan dibangun.

Tapi, tidak pernah terwujud. Tinggal ide demi ide yang sulit dilaksanakan. Mengingat, kesibukan kerja yang membelit dan membutuhkan konsentrasi penuh, yang pada akhirnya hanya menyisakan kelelahan badan dan pikiran. Sementara, menurutnya, membangun bisnis itu harus serius.

Tahun 2006, di saat usianya sudah lebih dari 45 tahun, karena satu dan lain hal ia harus mengundurkan diri dari tempatnya bekerja. Selanjutnya, kelahiran Talang Padang, Lampung, 2 Juni 1961 itu tidak ingin bekerja lagi. “Umur saya semakin beranjak tua, stamina juga sudah tidak mendukung,” kisah mantan business unit manager (setingkat general manager, red.) sebuah perusahaan permen itu.

Begitu berhenti bekerja, Indra pun tancap gas mewujudkan keinginannya untuk memiliki bisnis sendiri. “Saya menyukai dunia agrobisnis dan hal ini didukung oleh paradigma saya bahwa agrobisnis merupakan bisnis yang dibutuhkan oleh manusia sepanjang hidup mereka,” paparnya.

Manusia, ia melanjutkan, membutuhkan makanan dan minuman. Sementara, jumlah manusia di dunia ini dari waktu ke waktu semakin bertambah banyak. Artinya, kebutuhan mereka terhadap makanan dan minuman juga bertambah banyak. “Nah, di sinilah, saya melihat adanya peluang di gula aren,” tuturnya.

Menurutnya, gula aren mempunyai sisi yang menarik. Sebab, selama ini, kita hanya mengenal gula aren sebagai gula cetak yang banyak dijual di pasar dengan sebutan gula merah, tidak peduli itu terbuat dari kelapa atau aren. Di sisi lain, dibandingkan dengan gula putih yang dikatakan sebagai gula yang kurang sehat, gula aren merupakan gula sehat yang bisa dikonsumsi oleh penderita diabetes sekali pun, bisa pula untuk detoks, anak-anak autis, dan lain-lain.

“Dari sinilah, kami berpikir mengapa tidak memulai bisnis dari ini. Saya melihat adanya celah bisnis di sini. Tapi, saya tidak ingin membuat gula aren cetak, melainkan gula aren yang sudah dihancurkan atau dikristalisasi seperti gula pasir. Sehingga, mudah dikonsumsi,” ujarnya.

Begitu pilihan bisnis sudah ditetapkan, Indra yang berpartner dengan sang istri, Evi, mencari sumber bahan bakunya sampai ke pelosok-pelosok untuk bertemu dengan petaninya. Bahkan, suatu ketika, tinggal beberapa kilometer dari tempat yang dituju—di sebuah kaki pegunungan di Jawa Barat—mereka ditertawakan penduduk setempat. Karena, seharusnya mereka menggunakan truk, tapi malah menggunakan sedan. Akhirnya, mereka memutuskan pulang dan mencari sumber lain yang agak dekat perkotaan yaitu di sebuah koperasi.

Prospek bisnis ini menjanjikan

Indra tidak pernah menyangka bahwa banyak koperasi zaman sekarang hanya bertujuan mencari uang, dengan menghalalkan segala cara. Pada awalnya, ia merasa akan lebih mudah dengan bekerja sama dengan koperasi itu. Dengan kepercayaan penuh, ia menaruh modalnya sebesar Rp75 juta—yang dirogoh dari kantongnya sendiri—ke koperasi itu untuk pembelian bahan baku.

“Enam bulan kemudian, saya mendapat order sebanyak 1 ton. Tapi, ternyata, pihak koperasi tidak memberikan bahan baku yang telah kami beli dan mereka janjikan. Sehingga, kami tidak bisa memenuhi pesanan itu,” ucapnya.

Imbasnya, ia dilanda stres hingga tidak bisa tidur. “Meski, dari tabungan, saya masih bisa menghidupi keluarga beberapa bulan lagi,” tambahnya.

Namun, Indra mencoba berbesar hati dengan menganggap modal Rp75 juta yang bablas itu sebagai modal belajar gula. Karena, yang membuatnya lebih stres sebenarnya ketidakmampuan memenuhi order. Sehingga, menghilangkan kepercayaaan konsumen. Tapi, pantang putus asa, ia merogoh kantongnya lagi kurang lebih Rp100 juta.

Pada tahun ketiga, ia mulai menjual gula aren tersebut ke pasar dengan nama Arenga Palm Sugar. Sementara orang Indonesia lebih mengenalnya sebagai gula semut/sarang semut. Bahkan, mereka hanya mengenal gula aren sebagai gula cetak. Sehingga, mereka tidak memahami produk yang ia jual.

“Untuk mengedukasi pasar ini setengah mati susahnya. Padahal, selain mengedukasi konsumen, saya juga harus mengedukasi petani agar mereka membuat kelompok-kelompok tani yang bisa membuat gula aren dengan proses organik,” ucap Direktur CV Diva Maju Bersama, perusahaan yang memproduksi Arenga Palm Sugar.

Selanjutnya, dalam satu bulan, CV Diva Maju Bersama yang berlokasi di kawasan Alam Sutera, Serpong, Tangerang, ini bisa memproduksi 10 ton palm sugar. Produk ini, selain dapat ditemui di Ranch Market dan Farmers Market, juga bisa dicari ke berbagai tempat yang menjual produk-produk organik atau memesannya.

Di samping itu, sebagai imbas dari kreativitasnya, CV Diva Maju Bersama juga memproduksi palm sugar berbentuk liquid. “Kami ingin membuat  kemasan praktis untuk mereka yang akan menyantap putu mayang, serabi, es cendol, dan lain-lain dengan gula sehat,” tambahnya.

Selain itu, sejak tahun 2009, CV Diva Maju Bersama juga mengeluarkan produk madu yang diberi nama Arenga Madu Hutan. Pada awalnya, Indra hanya menjualkan produk madu dari Lampung milik seorang petani. “Tapi, dengan munculnya kreativitas, maka saya tambahkan bee pollen untuk menjadi madu anak dan propolis menjadi madu propolis,” ujarnya.

Pemasaran Arenga Palm Sugar juga berkembang, dari semula hanya ke berbagai industri, kemudian merambah ke pasar ritel. “Dari berbagai pameran dan artikel yang ditulis istri saya, masyarakat mulai mengetahui kalau Indonesia mempunyai gula sehat. Jadi, mengapa kita justru tidak mengonsumsinya?” katanya.

Namun, tidak berarti tidak ada kendala. Kendala itu berupa pertama, edukasi pasar yang masih dilakukan secara terbatas. Kedua, produksi gula aren juga masih terbatas. Mengingat, selama ini Pohon Palem belum dibudidayakan.

“Sehingga, ketika kami mendapat banyak permintaan, maka tidak ter-cover atau harganya melonjak tinggi. Hingga, akhirnya, kami justru tidak bisa menjual produk kami atau tidak dapat berproduksi secara rutin,” kata sarjana teknik mesin dari Institut Sains dan Teknologi Nasional ini.

Karena itu, Indra berharap suatu saat membuka perkebunan aren sendiri, di samping tetap bekerja sama dengan petani. “Setidaknya, produksi mereka dijual ke kami dengan harga yang pantas,” lanjutnya.

Namun, ia menambahkan, apa pun kendalanya, prospek bisnis ini menjanjikan. “Dan, sebagai pebisnis, kami harus berpikir seperti itu. Sebab, kalau kita tidak berpikir ada prospek, maka semangat kita akan kendor. Dalam bisnis apa pun, kita harus mempunyai mindset bahwa bisnis ini ada prospeknya!” tegas pria yang tidak berhenti bersyukur pada Tuhan, karena tidak pernah putus harapan dan semakin senja usianya, semakin kreatif.

Check Also

“Naik Kelas” dengan Mengganti Gerobak Dorong dengan Outlet Permanen Berkonsep Restoran

Bakmi Gila Usaha kakilima banyak diminati para pelaku usaha. Selain itu, konsep PKL mempunyai potensi …