Home / Agro Bisnis / Lunak Cangkangnya, “Keras” Prospek Bisnisnya

Lunak Cangkangnya, “Keras” Prospek Bisnisnya

Kepiting Soka

Berapa pun kepiting cangkang lunak yang dihasilkan oleh “peternakan-peternakannya” di Indonesia, ternyata tetap belum mampu memenuhi “pasar” dalam negeri sekali pun. Ditambah, harga jualnya tiga kali lipat lebih mahal ketimbang kepiting biasa. Itu artinya, prospek bisnis hewan bercapit ini sangat bagus

e-preneur.co. Kepiting cangkang lunak yaitu kepiting yang semua organ tubuhnya lunak. Sehingga, mudah diproses menjadi masakan apa pun dan dimakan semua bagian tubuhnya. Meski, dari segi harga juga jauh lebih mahal.

Kepiting soka, begitu nama populernya, pada dasarnya sama dengan kepiting cangkang keras atau yang hanya biasa disebut kepiting. Dalam arti, dilihat dari siklus hidupnya, binatang yang dapat dijumpai di semua samudera dunia ini dimulai dari telur, zoea, megalope, juvenile, hingga kepiting dewasa.

Perubahan dari siklus yang satu ke siklus yang lain, akan membuat kepiting mengalami pergantian kulit (cangkang, red.) yang disebut moulting. Pada saat moulting itulah, binatang ini akan menghasilkan cangkang baru yang masih lunak.

Sekadar informasi, moulting dilakukan hewan dari infraordo brachyura (Yunani: brachy = pendek, ura = ekor, red.) atau yang memiliki “ekor” sangat pendek ini, sebagai tanda bahwa tubuhnya telah tumbuh dan berkembang. Selain itu, moulting juga dilakukan Mister Crab (salah satu tokoh dalam kartun SpongeBob SquarePants, red.) ini, untuk reproduksi (melakukan perkawinan) dan mempertahankan diri dari kondisi yang kurang menguntungkan.

“Dalam kondisi lingkungan hidup yang tidak menguntungkan, kepiting akan mengalami stres. Nah, pada saat seperti itulah, ia akan segera berganti kulit agar dapat survive,” ungkap Reny Sri Rahayu, pebisnis kepiting cangkang lunak.

Moulting juga dipengaruhi oleh faktor hormon. “Pada tangkai mata kepiting terdapat MIH (Moulting Inhibing Hormone), yang berfungsi mengatur pergantian kulit. Hormon ini juga mengatur dan menghambat kerja MH (Moulting Hormone), yang berfungsi menstimulasi pergantian kulit,” jelas peraih penghargaan The Best Team of Sampoerna Young Enterpreneur Challenge 2007 ini.

Berkaitan dengan itu, para pebisnis kepiting cangkang lunak biasanya memanipulasi lingkungan yang tidak disukai kepiting. Tujuannya, tentu saja supaya “saudara sepupu” dari ketam dan rajungan ini segera berganti cangkang.

Selain itu, dengan memotong tangkai mata kepiting, maka efek MIH akan menghilang. “Sehingga, kepiting dapat segera berganti kulit,” lanjut Reny, yang membangun bisnisnya di Pertambakan Tritih Kulon, Cilacap, Jawa Tengah.

Pemotongan kaki jalan, ia menambahkan, juga dapat digunakan untuk mempercepat moulting. Di samping itu, pematahan atau pemotongan kaki jalan dan capit juga untuk menghindarkan kepiting keluar dari keranjang, saling memangsa, atau merangsang pertumbuhan organ baru.

Harga jualnya tiga kali lipat lebih mahal daripada kepiting biasa!

Dengan demikian, ada banyak metode untuk mempercepat moulting. Metode-metode itu masih akan terus bertambah banyak. Mengingat, sampai sekarang masih dilakukan berbagai penelitian untuk mempercepat moulting.

Sekadar informasi, secara normal, kepiting melakukan pergantian kulit setiap 1–2 bulan sekali. Tergantung pada umur atau ukuran tubuh mereka. Tapi, dengan berbagai metode tersebut di atas, pergantian kulit dapat terjadi hanya dalam waktu 14–25 hari.

Untuk bisnisnya yang diberi nama Ghodam Project, ia menggunakan Kepiting Bakau (Scylla sp.) berbobot 70 gr–150 gr. “Karena, benih kepiting jenis ini mudah diperoleh dari alam. Sedangkan dilihat dari bobotnya, pada bobot segitu, kepiting cepat moulting dan memang begitulah permintaan pasar,” ujar sarjana biologi dari Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah, ini.

Sehingga, ia melanjutkan, dalam 1 kg bisa diperoleh 8–12 ekor. “Perlu diketahui, setelah moulting, kepiting akan bertambah bobot tubuhnya mencapai ¼–½ dari berat semula,” jelasnya.

Dalam “memproduksi” kepiting cangkang lunak ini, Reny langsung memasukkan kepiting ke dalam keramba (wadah buah klengkeng, red.) yang berukuran 50 cm x 35 cm x 15 cm. “Tapi, sekarang, setelah pemotongan kaki, kami memasukkannya terlebih dulu ke dalam kolam pemeliharaan. Setelah 1–2 minggu baru dipindahkan ke saung pemanenan (bentuk kolamnya mirip dengan kolam pemeliharaan, tapi ukurannya lebih kecil dan airnya lebih dangkal, red.),” papar pemenang Shell Business Start-Up Awards 2008 ini.

Selanjutnya, sebagian dari binatang yang mempunyai alat gerak berupa sepasang capit, tiga pasang kaki jalan, dan sepasang kaki renang ini dipindahkan ke keramba agar keramba yang sudah ada tidak mubazir. “Di dalam setiap keramba itu, dimasukkan 10 ekor kepiting,” tambah kelahiran Jakarta itu.

Dengan cara tersebut, kepiting menjadi lebih sehat, lebih berisi, angka kematian berkurang, dan (menurut mereka yang pernah memakannya dan mengetahui perbedaan rasanya) lebih gurih. “Yang lebih penting dari itu semua yaitu mengurangi biaya produksi. Karena, investasinya lebih murah ketimbang menggunakan keramba dan lebih tahan lama (nilai penyusutannya kecil),” kata Reny, yang dalam pembudidayaan ini menggunakan lahan seluas 4.800 m² dan 500 keramba.

Namun, berapa pun hasil “produksinya”, Ghodam project masih tetap belum mampu memenuhi pasar dalam negeri. Kepiting soka-nya baru bisa mengisi beberapa “pasar” dengan harga tiga kali lipat lebih mahal per kilogramnya ketimbang kepiting biasa, dengan bobot yang sama (100 gr–200 gr).

Masih banyak permintaan yang belum terpenuhi, sementara permintaan terus meningkat, menunjukkan jika prospek bisnis kepiting soka sangat bagus.

Check Also

Menyehatkan Konsumennya, Menguntungkan Petaninya

Beras Hitam Organik Meski buruk rupa, tapi kaya manfaat kesehatan. Tidak mengherankan, bila peminat Beras …