Hilwa Saleh Alwaini
(CEO Nurtura Aesthetic & Wellness)
Meski terus tumbuh bak jamur di musim di hujan, keberadaan klinik estetika di Jakarta, khususnya, tetap dibanjiri klien. Namun, setiap klinik tetap harus memiliki keunggulan, seperti Nurtura Aesthetic & Wellness. Klinik kecantikan di bawah komando dr. Hilwa Saleh Alwaini ini, selalu berusaha memberi yang terbaik bagi klien maupun karyawannya agar tidak kalah dalam persaingan
e-preneur.co. Terlahir sebagai putri pemilik Al-Jazeerah (Al-Jazeerah Signature), tidak mengherankan jika Hilwa Saleh Alwaini diminta sang Ayah untuk turut mengelola restoran yang mengusung konsep suasana dan menu Timur Tengah itu. Tapi, sebagai dokter, ia lebih tertarik dengan dunia medis.
Tidak kurang akal, sang Ayah memintanya untuk juga mengelola sebuah rumah sakit milik keluarganya. Meski bersedia, tapi Hilwa masih bersikukuh hanya akan menangani bagian medisnya.
Lambat namun pasti, Hilwa mulai tertarik untuk ikut mengembangkan rumah sakit tersebut. Dari sinilah, ketertarikannya pada dunia bisnis mulai tumbuh.
Dan, berikut, percakapan perempuan muda dan cantik ini dengan e-premeur.co tentang kiprahnya dalam dunia bisnis. Khususnya tentang Nurtura Aesthetic & Wellness, klinik estetika yang dibangunnya bersama partner-nya, dr. Soraya.
Apa yang membuat Anda tertarik dengan dunia bisnis?
Sebenarnya, saya sangat passionate dengan dunia kedokteran (Hilwa merupakan dokter lulusan Universitas Indonesia, Jakarta, red.). Dan, ingin pure, benar-benar mau menjadi clinician. Tapi, waktu itu, saya diminta oleh Ayah untuk membantu di rumah sakit milik keluarga (Rumah Sakit Menteng Mitra Afia di Cikini, Jakarta Pusat, red.).
Saya sempat tidak mau. Maksud saya, tidak mau ke business side-nya. Saya minta ditempatkan di bagian IGD (Instalasi Gawat Darurat) saja, sebagai dokter umum. Ayah saya mengatakan, “Ya sudah di IGD dulu. Nanti, kasih tahu Aba (Ayah, red.) apa yang kurang”.
Namun, lama-lama kok timbul sense of belonging. Sehingga, memacu untuk melakukan pembenahan. Saya merasa kok seru juga ya di managerial. Akhirnya, posisi saya naik dari IGD ke ruangan, lalu menjadi asisten direktur pelayanan medis, direktur pelayanan medis, sampai akhirnya menjadi wakil direktur utama.
Saya merasa semakin lama semakin seru di sini dan mulai menyadari bahwa ternyata saya cocok berada di sini dibandingkan di klinis. Meski belum pure, tapi saya involved di business process-nya mulai dari pengembangan, cash flow, dealing dengan calon investor, dan sebagai. Dan, saya menikmatinya. Tapi, sejak tahun 2016, sudah saya tinggalkan walau belum sepenuhnya.
Bagaimana dengan klinik estetika ini?
Saya merasa ter-challenge, dalam arti, ingin memiliki karya sendiri. Sebab, di umur saya sekarang (Hilwa lahir di Jakarta, 15 Juni 1987, red.) yang notabene usia produktif, tidak mungkin stagnant di bisnis yang notabene milik orang tua.
Saya perlu membuat sesuatu yang hasil karya saya sendiri. Kayaknya kurang challenging deh kalau cuma stagnant di situ.
Lalu, saya mengajak teman saya, Dokter Soraya, untuk bersama-sama membuka klinik estetika. Karena, dia mempunyai knowledge di bidang kedokteran estetika, sementara saya dari sisi bisnisnya.
Mengapa klinik estetika?
Waktu itu, saya ingin mengambil spesialisasi bedah plastik. Lalu, saya mengambil medical research di bidang bedah plastik di Melbourne, Australia. Lantas, magang di Perhimpunan Dokter Spesialis Bedah Plastik selama setahun. Mengikuti semacam kursus di The Aesthetic Anti-Aging Fellowship di American Academy of Anti-Aging Medicine, yang tersebar di Singapura, Kuala Lumpur, Bangkok, dan sebagainya.
Namun, karena keasyikan mengurusi rumah sakit, semetara kalau sekolah lagi membutuhkan waktu lima tahun lagi, di umur saya yang sudah segini, kalau dihitung-hitung usia produktif saya akan terbuang di sekolah. Akhirnya, lantaran merasa sudah memiliki knowledge di situ, sudah sempat magang di bidang itu, lalu combined dengan Dokter Soraya, maka kami pun membuat klinik estetika yang dinamai Nurtura Aesthetic & Wellness (baca: Nurtura, red.). Singkat kata, karena memang skill kami di situ.
Di sisi lain, meski jumlah klinik estetika sudah banyak, tapi demand-nya jauh lebih banyak. Jadi, tidak akan mungkin kehabisan pasien. Selain itu, selama perempuan masih ada, adanya lifestyle di Jakarta, khususnya, dan adanya tuntutan dari masyarakat ditunjang oleh pengaruh social media (sosmed), maka pasien tidak akan ada habisnya. Kendati, di Jakarta, setiap bulan dibuka satu klinik estetika.
Tapi, saya percaya, kalau kita mempunyai keunggulan. Kita be the best at something, nggak akan kalah saing dengan yang lain.
Prospek bisnis klinik estetika sangat bagus, sepanjang mau struggle dan keeping up to date dengan tehnologi
Jadi, apa keunggulan Nurtura?
Ide mendirikan Nurtura muncul pertengahan tahun 2016. Sembilan bulan kemudian, tepatnya 11 Februari 2017, kami mewujudkannya.
Nurtura dibangun dengan modal awal sekitar Rp7 milyar−Rp8 milyar, dengan alokasi terbesar pada pembelian peralatan dan renovasi tempat. Sementara tempatnya, sudah ada yaitu di lantai 3 Al-Jazeerah Signature.
Nurtura memiliki beberapa keunggulan, seperti peralatan yang digunakan top of the range. Saya tidak berani menggunakan peralatan yang serba tanggung. Sebab, saya tidak mau men-deliver hasilnya yang tanggung juga ke pasien-pasien saya.
Selain keunggulan dari sisi fasilitas, Nurtura juga mengedukasi pasien dengan membuka konsultasi apa yang dibutuhkan pasien, concerned-nya apa. Kami menggali lebih dalam, sekaligus memotivasi. Misalnya, pasien ingin kurus. Maka, kami akan menanyakan ingin kurus yang bagaimana, apa insekuritasnya dengan badannya. Jadi, lebih ke personal approach.
Di Nurtura, juga tidak ada operasi/pembedahan. Peralatan di sini tidak membuat luka, aman. Boleh dikata, pagi treatment, malam sudah bisa jalan-jalan di luar.
Di sini, juga tidak digunakan obat-obatan yang “aneh”. Yang kami sediakan ada label BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) atau tersertifikasi, tidak akan membuat kecanduan. We believe slow process, slow progress as long as pasien enjoy menjalani prosesnya.
Obat-obatan di sini beresep. Obat-obatan tersebut dapat dibeli lagi, setelah konsultasi dengan dokter. Melalui konsultasi tersebut, akan diketahui apakah cukup dengan membeli obat-obatan saja atau harus menjalani treatment lagi.
Apa jaminan yang Nurtura berikan kepada pasien?
Nurtura tidak memberi jaminan apa pun. Nurtura hanya akan memberi tahu minimal atau maksimalnya seperti ini yang akan pasien peroleh. Hasil yang akan diperoleh pasien yang satu berbeda dengan pasien yang lain, karena sangat tergantung pada faktor internal badan pasien. Jadi, kalau toleransi tubuhnya baik, maka hasilnya juga akan lebih baik.
Contoh, untuk program slimming. Pasien harus bolak-balik selama tiga hingga lima bulan, tergantung pada kondisi intrinsik dan ekstrinsik pasien, pada kepatuhan pasien dalam menjalankan diet yang disarankan, dan sebagainya. Singkat kata, keberhasilan sangat tergantung pada pasien sendiri, Nurtura hanya memfasilitasi.
Sebagai gambaran, untuk program slimming tergantung dari berat badan dan target pasien untuk menurunkan berat badannya. Misalnya, dengan bobot 80 kg dan ingin turun hingga 55 kg itu ʻkan lumayan lama. Sebab, terlalu cepat ‘kan nggak boleh, sebulan maksimal hanya boleh turun 6 kg.
Untuk itu, minimal pasien datang selama tiga bulan. Pada bulan pertama, pasien datang seminggu sekali. Lalu, kami pantau perkembangannya. Kalau berhasil, pada bulan kedua, pasien datang dua minggu sekali. Tapi, kalau tidak ada perkembangannya ya kembali seminggu sekali lagi.
Berapa tarifnya?
Nurtura memiliki fasilitas yang mencakup tiga item yaitu face, body, dan dental di mana masing-masing memiliki sub item hampir 10. Tarif mulai dari Rp350 ribu.
Nurtura juga memiliki fasilitas mini gym. Untuk mini gym, per kelas dibebankan tarif Rp100 ribu−Rp150 ribu. Selain itu, di sini juga terdapat salon yang menyediakan haircut, hair spa, manicure, pedicure, blow dry, dan sebagainya dengan tarif mulai dari Rp80 ribu.
Kehadiran kedua fasilitas terakhir itu untuk melengkapi fasilitas utama. Sehingga, sesuai dengan tagline Nurtura: One Stop Beauty and Lifestyle Experience.
Siapa target market Nurtura?
Pada mulanya, Nurtura menyasar para perempuan yang sudah mature (umur 35 tahun ke atas). Karena, secara psikologis sudah lebih mature, sudah tidak demanding lagi.
In reality, yang datang juga mereka yang berumur 16 tahun−17 tahun. Mungkin, awalnya, mereka mendengar Nurtura dari Mama mereka atau sosmed. Untuk itu, kami memberi perawatan sesuai dengan umur mereka.
Saya pernah mendapat pasien berumur sekitar 19 tahun atau 20 tahun yang minta botox. Saya tanyakan ke dia apa yang mau di-botox, karena memang belum perlu. Lalu, saya sarankan untuk facial terlebih dulu, sebab lebih aman. Selain itu, saya juga memberi penjelasan, mengingat anak muda sekarang lebih kritis.
Akhirnya, Nurtura tidak memiliki niche market.
Jika Nurtura menjalin hubungan secara personal touch dengan pasien, bagaimana dengan para karyawan?
Nurtura memiliki 24 karyawan di mana dua di antaranya laki-laki. Saya happy dengan mereka. Saya juga mencoba membuat mereka happy. Misalnya, kalau ada rezeki karena sudah mencapai target, maka kami membeli makanan atau minuman untuk kami nikmati bersama. Sehingga, semangat dan muncul rasa kekeluargaan. Kadangkala, kami juga bercanda.
Tapi, Nurtura memiliki tata tertib, peraturan perusahaan di mana jika mereka melanggarnya ya sudah nggak bisa diapa-apain lagi. Meski para karyawan saya baik-baik, tapi turnover-nya lumayan tinggi.
Nurtura tidak bertoleransi terhadap pelanggar peraturan. Sekali Nurtura bertoleransi terhadap peraturan perusahaan atau tata tertib yang mereka langgar, pasti mereka akan melakukan pelanggaran lagi. Bahkan, kemunginan menular ke karyawan-karyawan lain. Saya zakelijk saja.
Punishment itu diberikan dalam bentuk SP (Surat Peringatan) 1, 2, dan 3. Sementara untuk reward-nya, orang Indonesia lebih suka dalam bentuk bonus (uang, red.) ketimbang penghargaan berupa sertifikat yang dipasang di dinding. Dan, Nurtura lumayan generous di situ, dengan syarat mereka stick to the rule.
Apakah kriteria yang ditetapkan Nurtura dalam rekrutmen karyawan?
Mereka direkrut sesuai bidang mereka masing-masing, minimal harus D-3 keperawatan. Selain perawat dan terapis, Nurtura juga menerima bidan. Sebab, mereka diperbolehkan menyuntik dan memberi infus. Singkat kata, tergantung batas kompetensi legal mereka.
Karena background saya dari rumah sakit, maka saya juga menerapkan sistem rumah sakit di klinik ini. Meski klinik tidak ada akreditasi, tapi why not mengikuti standar yang sudah baku dan lebih baik
Adakah kiat untuk memasarkan dan mempromosikan Nurtura?
Nurtura lebih banyak menggunakan word of mouth dan sosmed. Meski begitu, overwhelm, take over-nya bagus. Klien kami cukup banyak, dalam setahun terkumpul 1.000 orang. Saat ini, jumlah klien terus bertambah sekitar 200−500 orang.
Apa target yang ingin dicapai?
Awalnya, target Nurtura tentu saja omset, selain brand position dan memiliki database klien sejumlah tertentu. Alhamdulillah achieved semuanya.
Selanjutnya, kami menargetkan untuk expansion, bukan dengan membuka cabang, melainkan invest di peralatan baru. Mengingat, peralatan dalam kedokteran estetika sangat cepat perkembangannya. Jadi, kami harus keep updating di situ.
Sementara target pribadi saya yang nantinya relate ke klinik yaitu membuat training center untuk esthetic nurse. Kebetulan, adik saya sekolah keperawatan. Saya ingin berintegrasi dengan sekolah keperawatan, bekerja sama dengan sertifikasi estetik untuk menyekolahkan perawat-perawat tersebut di bidang estetika, yang nantinya bisa di-outsource.
Itu sisi bisnisnya. Karena, hal seperti itu belum ada. Selama ini, masing-masing klinik estetika independent dalam melatih para perawat mereka. Sehingga, lumayan capek. Apalagi, turnover karyawan merupakan masalah yang besar dalam dunia bisnis apa pun.
Dalam arti, kalau setiap karyawan masuk harus kita training dari awal itu membuang biaya dan waktu. Karena, tidak bisa cepat. Misalnya, untuk mengajari facial saja membutuhkan waktu tiga bulan. Kemudian, ketika yang bersangkutan sudah menguasai keterampilan itu, dia langsung keluar.
Jadi, akhirnya, diputuskan untuk membuat sekolah training saja yang ada sertifikasinya, dengan bekerja sama dengan suatu institusi. Dalam arti, “mengawinkan” institusi yang satu dengan institusi yang lain untuk akhirnya “melahirkan” produk yang kompeten di bidangnya. Sehingga, klinik-klinik yang mengalami masalah yang sama berkaitan dengan karyawan akan teratasi masalahnya.
Target ini belum bisa diwujudkan, lantaran berhubungan dengan pihak lain. Untuk itu, membutuhkan waktu yang relatif lama agar kami bisa klik. Itu akan kami jadikan target berikutnya dan Nurtura akan menjadi klien pertama.
Bagaimana prospek bisnis klinik estetika pada umumnya?
Secara umum, jika kita mau struggle dan keeping up to date dengan teknologi dan yang lain akan sangat bagus sekali prospek bisnisnya. Syaratnya, jangan mau ketinggalan informasi, harus aktif mengejar informasi dengan misalnya mengikuti berbagai seminar, workshop di luar negeri. Karena, semua ilmu up to date ada di situ.
Seperti kami, yang meski sudah dokter, masih harus terus belajar. Setiap tahun, salah satu dokter di Nurtura dikirim ke luar negeri untuk mengetahui apa yang baru di luar sana.
Bagaimana tanggapan Anda tentang salon-salon kecantikan di bawah pengawasan dokter?
Pada dasarnya, Nurtura tidak dapat dipersaingkan secara head to head dengan salon-salon kecantikan, sekali pun berada di bawah pengawasan dokter. Tapi, kalau ditanya apakah image negatif salon-salon tersebut berpengaruh atau tidak bagi klinik-klinik kecantikan seperti Nurtura, saya jawab berpengaruh.
Seringkali muncul pandangan negatif terhadap klinik kecantikan, dengan menyamakannya dengan salon yang juga menawarkan pelayanan medis. Tapi, keberadaan mereka tidak bisa dihindari. Jadi, biarkan saja.
Kami hanya bisa menghindari dengan bersikap lebih profesional, dengan berbagai peralatan di bawah izin kementerian kesehatan, obat-obatan berlabel BPOM. Sehingga, kalau berhadapan dengan klien yang kritis, kami bisa menunjukkan/membuktikannya.
Jadi, kalau klien lebih observant, pastilah bisa membedakan mana yang benar dan mana yang abal-abal. Kebetulan, klien-klien kami berada di usia produktif. Sehingga, kritis dan educated, serta mau spend uang sesuai dengan fasilitas yang tersedia. Menurut saya, masing-masing sudah ada porsinya, sudah ada pasarnya.
Saya justru kesal dengan para pelaku bisnis yang nakal, yang mengklaim peralatan buatan Cina sebagai buatan Jerman. Misalnya, saya benar-benar menggunakan peralatan buatan Jerman dengan harga Rp2,5 juta, sementara mereka menggunakan peralatan Cina yang diakui peralatan Jerman dengan harga Rp250 ribu. Yang seperti ini, yang lebih merusak pasar dan pembodohan publik.
Kendala?
Kami tidak memiliki kendala. Karena, kami dibatasi oleh kompetensi dan tidak ingin melebihi itu. Untuk masalah-masalah lain ya kami hire mereka yang lebih kompeten.
Misalnya, kami memiliki dokter kulit. Jadi, kalau ada yang mempunyai masalah kulit ya kami oper ke dokter kulit. Demikian pula, kalau ada yang mempunyai masalah gizi ya kami oper ke dokter gizi.
Intinya, jangan ngoyo dengan uang. Setiap orang memiliki rezekinya masing-masing, yang penting orang-orangnya happy, bekerja dengan semangat. In return, semua ada effect-nya, termasuk dalam finansial.