Home / Agro Bisnis / Bernilai Jual Tinggi dan Berbobot Lebih Berat

Bernilai Jual Tinggi dan Berbobot Lebih Berat

Belimbing Madu Organik

 

Ternyata, menanam pohon buah-buahan secara organik bukan hanya membuat buah yang dihasilkan bagus untuk kesehatan, melainkan juga bernilai jual tinggi dan berbobot lebih berat. Hal itu, sudah dibuktikan oleh Kemin terhadap Pohon-pohon Belimbing Madu-nya

 

e-preneur.co. Belimbing Madu yang dikategorikan sebagai buah meja (baca: untuk hidangan, red.) merupakan satu dari lima jenis belimbing yang paling layak dibudidayakan. Sebab, buah ini mempunyai rasa semanis madu jika sudah matang sempurna.

“Kalau sudah matang pohon, akan keluar airnya. Air itu berwarna cokelat pekat seperti madu,” jelas Kemin, petani Belimbing Madu Organik di Sentra Belimbing Madu Puring, Kebumen, Jawa Tengah.

Sementara warna buahnya kuning tua. Tapi, untuk Belimbing Madu yang dibudidayakan secara organik, warna buahnya oranye. “Ini karena pengaruh pupuk yang digunakan,” lanjutnya.

Pada dasarnya, Pohon Belimbing, apa pun varietasnya, sebaiknya ditanam di tanah berpasir, tanah merah, atau tanah yang mengandung banyak zat besi. Paling bagus ditanam di tanah pegunungan atau berbatu-batu. “Sangat baik ditanam di Jakarta, yang termasuk kawasan dengan tanah merah,” ujarnya.

Sementara cara menanamannya, Kemin menambahkan, Pohon Belimbing Madu sama dengan Pohon-pohon Belimbing pada umumnya. Hanya, untuk perawatannya, ia melakukannya secara organik.

“Mantan juragan saya, seorang Cina, pernah menyarankan jika suatu saat saya ingin menanam pohon buah-buahan, diusahakan secara organik. Sebab, buahnya kalau dimakan bagus untuk kesehatan, sementara selisih harga jualnya besar dan bobot buahnya pun lebih berat,” kisahnya.

Untuk itu, ia menggunakan pupuk kandang dari kotoran sapi yang dicampur dengan pupuk organik buatan pabrik. Sementara untuk mengusir—bukan membunuh—hama, ia menggunakan campuran Buah Maja, bratawali, sambiloto, plus gadung dan limbah tembakau yang lalu dicampur air.

Panen pertama hasilkan 1,5 kuintal/pohon

“Campurkan mereka jadi satu. Tunggu sampai satu bulan (semacam difermentasi, red.). Setelah itu, baru dapat digunakan. Saya mendapat ‘resep’ ini dari pemilik pabrik obat hama organik. Karena, sebenarnya, obat ini dapat dibuat sendiri,” ungkapnya.

Untuk tanahnya, mengingat sebelumnya menggunakan sistem anorganik, maka ia juga melakukan olah tanah. “Sebelum menggunakan sistem organik, saat mengukur tanah, ternyata tingkat keasamannya tinggi sekali. Sekarang, setelah menggunakan konsep organik, tingkat keasaman menurun drastis. Selain itu, tanah lebih subur dengan ditandai oleh banyaknya Cacing Tanah. Karena, pupuk organik membuat semua telur cacing menetas,” jelasnya.

Namun, memang membutuhkan waktu yang terbilang lama untuk mengubah dari anorganik menjadi organik. Terutama, saat membuat tanaman mau menerima pupuk organik yang membutuhkan waktu sekitar 1,5 tahun.

Penerimaan itu, ditandai dengan perubahan warna buah dari kuning tua menjadi oranye, rasa lebih manis, dan kadar air lebih banyak sehingga bobot buah menjadi lebih berat. “Biasanya, dalam satu krat/peti, yang dibudidayakan secara organik berbobot 47 kg, sedangkan yang anorganik hanya 37 kg,” lanjutnya.

Kemin mempunyai 93 Pohon Belimbing Madu yang ditanam di atas lahan seluas 150 ubin (1 ubin = 14 meter, red.). Ia menanam pohon itu mulai dari biji. Selain itu, ia juga menjual pohon bibitnya berumur 1,5 tahun dengan harga satuan Rp50 ribu.

Untuk membuat pohon bibit, ia memulainya dengan menanam biji Belimbing Madu. Setahun kemudian, pohon pun tumbuh dan sudah dapat distek. Untuk melihat berhasil atau gagalnya hasil stek, menunggu lagi sekitar 2‒3 bulan. Jika berhasil, jadilah ia pohon bibit yang siap tanam.

“Kalau menanam Pohon Belimbing Madu dengan menggunakan biji, membutuhkan waktu hampir dua tahun. Tapi, jika menggunakan pohon bibit, cukup enam bulan saja sudah dapat memanen buahnya untuk pertama kalinya. Panen pertama per Pohon Belimbing Madu sebanyak 1,5 kuintal,” ujarnya.

Setahun, pohon ini dapat dipanen buahnya minimal tiga kali. “Kemarin, kami baru saja panen raya di mana per minggu memanen sebanyak 5 kuintal selama lima bulan dan berganti-ganti pohon,” tambahnya.

Namun, perlu diketahui, berhasil tidaknya pertumbuhan pohon bibit sangat tergantung pada perawatannya. Perawatan yang dimaksud yakni penyiraman jika melihat tanah sudah terlalu kering dan pemupukan seminggu sekali.

“Di awal menggunakan sistem organik, biaya yang harus dikeluarkan sangat banyak. Hingga, penjualan satu musim panen hanya bisa untuk membeli pupuk organik buatan pabrik. Apalagi, kalau obat semprot hamanya juga membeli dari pabrik. Tapi, sekarang, satu botol pupuk organik buatan pabrik bisa untuk delapan pohon. Karena, kita sudah bisa mengatur sendiri seberapa banyak yang mau dipakai,” tuturnya.

Selama dirawat dengan baik, Pohon Belimbing tidak akan pernah mati. Dalam arti, pohon induknya akan terus-menerus menghasilkan tunas dan tunas-tunas itulah yang menggantikan tugasnya berbuah.

Kemin menjual Belimbing Madu Organiknya ke Yogyakarta dan Tasikmalaya, selain di lapak depan rumahnya. Ia menjualnya dengan harga Rp20 ribu/kg (1 kg = 2‒3 buah, red.). Sementara harga per kilogram Belimbing Madu Anorganik Rp10 ribu‒Rp15 ribu (1 kg = 5‒8 buah, red.).

“Penjualan Belimbing Madu Organik lebih bagus. Tapi, sampai sejauh ini, hanya saya yang menggunakan sistem organik. Mengingat, biayanya mahal. Namun, bagi saya, lebih baik proses budidayanya mahal. Karena, harga jual buahnya juga menjadi lebih mahal. Selain itu, setelah dihitung-hitung, masih ada kok keuntungannya,” pungkasnya.

Check Also

Bisa Dipelihara, Bisa Pula Dibisniskan

Guinea Pig Bukan babi, melainkan sejenis tikus. Tidak berasal dari Guinea, tapi dari Andes. Semula …