Home / Inovasi / Dikemas Rapi dan Menarik, Menggunakan Bumbu Racikan Sendiri, serta Diproses Tanpa Minyak

Dikemas Rapi dan Menarik, Menggunakan Bumbu Racikan Sendiri, serta Diproses Tanpa Minyak

Kacang Brusli

 

Camilan sejuta umat. Itulah, kacang. Jadi, sebanyak apa pun kacang diproduksi berikut aneka keunggulannya, hampir semua kalangan menerimanya dengan baik. Termasuk, ketika Kacang Brusli hadir. Imbasnya, omset yang dibukukan sedahsyat tendangan Bruce Lee

 

e-preneur.co. Kacang, ternyata mengandung protein yang baik bagi kesehatan. Bahkan, mampu memperlancar ASI (Air Susu Ibu) pada Ibu yang sedang menyusui.

Tidak mengherankan, jika banyak bermunculan produk kacang dengan berbagai keunggulannya. Termasuk, kemasannya yang menarik.

Seperti, yang dilakukan Muhammad Burhanuddin Rusli. “Saya senang ngobrol di warung kopi. Di warung itu, biasanya ada kacang yang dibungkus plastik yang dijual dengan harga seribuan rupiah. Dari situ, saya menangkap sebuah celah bisnis dengan hanya membungkus kacang dalam kemasan yang lebih bagus lagi,” kisahnya.

Dengan modal awal Rp5 juta, Brusli, begitu sapaan akrabnya, membuat terobosan dengan membuat kacang tanpa kulit siap makan dengan kemasan rapi dan menarik. Ia juga menggunakan bumbu khusus racikannya sendiri. Sehingga, berbeda dengan kacang tanpa kulit pada umumnya.

“Proses pembuatan kacang kami sama sekali tidak menggunakan minyak. Karena, kami memakai oven,” tambahnya.

Sebelum “melempar” produknya ke pasar, Brusli memperkenalkan kacang buatannya dengan memberikan ke para tetangga dan teman-temannya. Mereka memberikan tanggapan positif.

Sementara untuk namanya, ia menamai produknya Kacang Brusli. Sesuai dengan singkatan namanya. “Saya sempat kebingungan menamakan produk ini. Lalu, saya terpikir dengan nama panjang saya, yang saya singkat menjadi Brusli dan kebetulan juga panggilan akrab saya di kalangan teman-teman. Jadi, selain mudah diingat, juga agar menjadi berkah,” kata kelahiran 16 Desember 1982 ini.

Namun, tidak berarti usaha yang dijalankan sejak tahun 2007 itu berjalan mulus. Brusli sempat mengalami kegagalan. Karena, para agen yang notabene perpanjangan tangannya dalam usaha ini tidak mau memberikan tester kepada para konsumen.

“Mereka menjualnya begitu saja. Akhirnya, calon konsumen tidak jadi membeli. Sedihnya lagi, banyak kacang yang menumpuk di gudang. Lantaran, tidak bisa berjalan dengan semestinya,” ujarnya.

Tapi, sarjana pendidikan Bahasa Arab dari Universitas Muhammadiyah, Sidoarjo, Jawa Timur, ini bangkit lagi. Pada tahun 2010, ia membuat rasa yang lebih berkualitas (tersedia dalam rasa manis, asin, dan pedas manis) dan tentunya dengan kemasan yang lebih menarik lagi.

Berbeda dengan kacang tanpa kulit pada umumnya

“Setelah usaha saya bangkit kembali, saya bertekad terus memajukannya dengan pemasaran yang lebih luas dan pendekatan kepada konsumen,” lanjutnya.

Kini, dalam satu bulan, Brusli membeli kacang mentah dari supplier sekitar 2 ton. Menjelang lebaran, pasokan bisa meningkat 3 ton–4 ton.

Pada awal menjalankan usahanya, Brusli menjual produknya dengan harga Rp25 ribu/bungkus ukuran 222 gram. Untuk itu, ia mampu membukukan omset lebih dari Rp50 juta/bulan. Omset itu bisa melonjak berkali-kali lipat, menjelang lebaran.

Sementara untuk pemasaran produk dengan motto “Kacang Brusli Nendang Banget” ini dilakukan melalui agen, yang tersebar di Surabaya, Blitar, Sidoarjo, Bogor, Palembang, Bekasi, dan Malang. Semua agen itu diharuskan memberikan tester kepada calon pembeli.

“Saya berencana mengembangkan agen ke seluruh Indonesia, khususnya di kota-kota besar. Sehingga, nantinya juga mampu bersaing hingga ke mancanegara,” pungkasnya.

Check Also

Cucian Bersih, Ekosistem Terjaga

Deterjen Minim Busa Isu ramah lingkungan membuat para pelaku usaha terus menggali ide untuk menciptakan …