Home / Inovasi / Kertas Ramah Lingkungan

Kertas Ramah Lingkungan

Banana Paper

 

Ternyata, bukan hanya kayu yang dapat dijadikan bahan baku pembuatan kertas, melainkan juga Batang Pohon Pisang. Hasilnya, Banana Paper yang mempunyai banyak keunggulan. Salah satunya, ramah lingkungan

 

e-preneur.co. Satu pohon sejuta manfaat. Itulah Pohon Kelapa. Namun, dalam perjalanannya, filosofi yang digaungkan Komunitas Pohon Indonesia (KPI) itu juga berlaku bagi Pohon Pisang.

Sebab, Pohon tersebut tidak hanya dapat dimanfaatkan buah, tapi juga daun dan batangnya. Meski, selama ini, orang-orang baru mengolahnya sebagai makanan.

Misalnya, Daun Pisang untuk membungkus makanan, Batang Pohon Pisang dijadikan lauk khas Bali, dan Buah Pisang diolah menjadi makanan yang sudah sangat lazim dikonsumsi. Namun, berkat kejelian M. Syafiq, manfaat lain Batang Pohon Pisang (Jawa: gedebog, red.) pun terkuak.

Ya, pria ini menjadikan Batang Pohon Pisang sebagai bahan baku untuk membuat kertas. Tapi, bukan kertas biasa yang sering dipakai sehari-hari, melainkan mirip dengan kertas daur ulang dengan warna lebih natural dan kedap air (memiliki kandungan bahan anti air alamiah, red.).

Banana Paper, begitu Syafiq mengistilahkan, juga jauh lebih unggul dari segi kekuatan dan lebih ramah lingkungan ketimbang kertas biasa. Sementara tekstur permukaan kertas, lebih halus dan tidak mudah sobek.

Dari sisi gradasi warna pun lebih menarik, terkesan natural. Sebab, serat-serat dari bahan baku utama masih sedikit kentara. Sehingga, sangat cocok dijadikan bahan untuk membuat aneka kerajinan dari kertas.

Untuk setiap ukuran dan warna, Syafiq membaginya menjadi dua jenis kertas yakni pertama, dengan pemakaian 100% Batang Pohon Pisang. Kedua, dengan campuran gambir, Bunga Matahari, Daun Kelengkeng, Daun Asparagus, Daun Bambu, kepompong, rumput, Merang Padi, eceng gondok, Daun Pinus, jerami, dan Bunga Bougenville.

Semua bahan tersebut diperoleh dari alam. Sehingga, limbahnya tidak akan merusak lingkungan. “Limbahnya bisa terurai dengan sendirinya,” jelasnya.

Sementara proses pembuatannya, tidak terlalu rumit. Sama seperti mendaur ulang kertas atau membuat kertas baru dari kayu (bahan baku utama untuk membuat kertas, red.). “Hanya, pada Banana Paper, bahan-bahan utamanya mesti melewati proses pemasakan 3−4 jam agar lebih lunak dan mudah dicetak,” paparnya.

Bahan bakunya cepat diperbarui dan mudah terurai

Syafiq pun menjabarkan pembuatan Banana Paper di mana pertama-tama Batang Pohon Pisang dipotong kecil-kecil, lalu dikeringkan. Selanjutnya, direbus hingga lunak untuk memudahkan penghancuran. Berikutnya, digiling hingga benar-benar halus atau sampai menjadi bubur. Lantas, dicetak dan dijemur. Setelah kering, Banana Paper pun bisa langsung dipakai.

Kertas yang dihasilkan Syafiq berukuran standar (A4 atau 21 cm x 29,7 cm). Dari situ, dapat diolah menjadi map, box file, folder, buku jurnal, atau agenda. Di samping itu, juga bisa dibuat menjadi jam meja, jam dinding, photo album, frame photo, paper bag, box, lampu partisi, dan sebagainya.

“Ada beberapa produk turunan Banana Paper yang saya hasilkan, tapi yang utama tetap kertas polosnya,” kata Syafiq, yang membangun usahanya di Jalan Sadang Serang, Bandung.

Banana paper yang sudah sampai ke Negeri Matahari Terbit dan negeri jiran itu, diproduksi secara rutin sebanyak kurang lebih 6.000 helai/bulan. Untuk itu, Syafiq membutuhkan kurang lebih 1,5 ton bahan baku.

Namun, pria yang membawahi sekitar 10 karyawan ini tidak pernah kesulitan pasokan bahan baku. Lantaran, persediaannya memang sangat berlimpah. Apalagi, beberapa di antaranya merupakan hasil limbah pertanian.

Selain itu, berbagai komunitas pecinta lingkungan juga sangat mendukung keberadaan Banana Paper. Mereka berharap, Banana Paper dapat menggeser posisi kertas dari kayu yang limbahnya kian mengotori lingkungan.

“Apalagi, Pohon Pisang lebih cepat tumbuh dibandingkan kayu. Lebih dari itu, manfaat Banana Paper sangat berantai. Artinya, efek positif keberadaan kertas ini seperti efek domino,” pungkasnya.

Check Also

Cucian Bersih, Ekosistem Terjaga

Deterjen Minim Busa Isu ramah lingkungan membuat para pelaku usaha terus menggali ide untuk menciptakan …