Home / Celah / “Dengan Konsep Office Building, Maka Tidak Perlu Marketing Besar, Tapi Traffic Selalu Ada”

“Dengan Konsep Office Building, Maka Tidak Perlu Marketing Besar, Tapi Traffic Selalu Ada”

Ria Ariyanie dan Imam Rachmadi

(Pemilik Roti Shop: Patisserie and Traditional Coffee)

 

Pernahkah Anda mendengar bisnis yang memadukan dua inti food & beverage alias roti dan kopi dengan porsi 50%-50%? Jika belum, Anda bisa menemuinya di Roti Shop. Selain itu, Roti Shop juga ditempatkan di office building atau public crowd, yang menurut Ria tidak memerlukan marketing besar tapi traffic-nya selalu ada. Terbukti, Roti Shop pun ramai dikunjungi pada weekdays baik pagi maupun sore

 

e-preneur.co. Ketika dua teman dekat yang pernah bekerja di industri yang sama bertemu dan ngobrol serius, apa yang akan terjadi? Terbentuknya sebuah bisnis bersama, tentunya.

Itulah yang terjadi pada Imam Rachmadi dan Ria Ariyanie. Mereka pernah bersama-sama bekerja di hotel industry. Ria di bagian PR (public relations) dan Imam di bagian operasional.

Tahun 2015, Imam sempat bekerja di sebuah perusahaan besar yang memproduksi roti. “Suatu ketika, dia datang dengan mengajukan sebuah konsep penjualan. Sementara aku, sejak dulu bermimpi ingin memiliki coffee shop. Pertemuan itu terasa this is it,” kisah Ria, yang pecinta kopi.

Lalu, Ria mengajak Imam membuat sebuah bisnis di mana masing-masing tidak membawa embel-embel tempat di mana mereka bekerja. Bertepatan dengan itu, mereka bertemu investor. Dan, gayung pun bersambut.

Sebuah perusahaan pun dibentuk untuk menaungi bisnis mereka, pada November 2015. Sementara Roti Shop, begitu mereka menamai bisnis mereka, hadir pada 26 september 2016.

“Kami melihat belum ada yang namanya Roti Shop. Jadi, di sini, kami memadukan dua inti food & beverage alias roti dan kopi,” jelas Ria, yang bertindak sebagai konseptor dalam bisnis ini.

Saat membuat business plan, ia melanjutkan, selalu ada competitor mapping. Hasilnya ada dua yaitu coffee shop dan toko roti.

Dari sisi coffee shop, tentunya mereka mengutamakan menu minuman berbahan dasar kopi. Sementara rotinya, hanya untuk menemani si kopi dengan variasi yang tidak banyak. Kehadiran roti hanya sekitar 10% dari keseluruhan menu yang ditawarkan.

Sedangkan dari sisi toko roti, pada mulanya membuka usaha dengan menonjolkan aneka macam roti. Dalam perkembangannya, melebar dengan menyediakan minuman kopi untuk yang ingin nongkrong dan tidak hanya ingin makan roti. Dengan demikian, posisi minuman hanya sekitar 10% dari keseluruhan menu.

“Tapi, yang konsepnya seperti Roti Shop belum ada di mana kopi dan roti porsinya 50%−50%. Karena itu, kami tambahkan kata-kata patisserie and traditional coffee,” paparnya.

Untuk sasaran tembaknya, Ria menekankan untuk membukanya di office building atau public crowd. “Aku tidak mau stand alone! Pilihanku untuk office building, berdasarkan pengalamanku. Jika datang terlalu cepat dalam suatu meeting, aku selalu mencari coffee shop. Atau, jika aku lagi ingin kerja di luar, aku juga selalu mencari coffee shop. Kedua, traffic-nya sudah terjamin. Sebaliknya kalau stand alone, marketing-nya harus ngos-ngosan dan modalnya besar sekali,” ungkapnya.

Justru ramai pengunjung saat weekdays

Selain itu, ia menambahkan, dengan membuka bisnis semacam ini di office building justru akan ramai saat weekdays. Sebab, Roti Shop hadir untuk memenuhi kebutuhan orang-orang yang berada di office building baik untuk bekerja, meeting di luar, dan sebagainya.

Berkaitan dengan itu, Roti Shop yang dibangun dengan modal yang jauh lebih kecil ketimbang coffee shop pada umumnya pun hadir di CIBIS Tower 9, Cilandak, Jakarta Selatan. Dengan luas 25 m², Roti Shop ditata sebagai tempat nongkrong yang menawarkan suasana cozy dengan eksterior yang sedap dipandang mata. Sementara dilihat dari desainnya, di sebelah kanan di-display aneka macam roti, sedangkan di sebelah kiri dipajang bermacam-macam kopi.

“Di sini, kami ingin menunjukkan padu padan konsep kami yaitu kopi dan roti. Tidak ada salah satu yang dimenangkan. Selain itu, bedakan Roti Shop dengan kafe, bahkan coffee shop,” tegasnya.

Roti Shop mengusung tradisional kopi. Di sini, ada Kopi Gayo, Toraja, Mandailing, dan Bali (single origin) dengan harga yang affordable dengan lingkungan sekitarnya. Bukan hanya itu, Roti Shop juga menyediakan kopi-kopi yang belum dikenal, seperti kopi-kopi dari Jawa Barat, Papua, dan sebagainya yang disajikan secara khusus setiap bulannya.

Di samping itu, di sini juga tersedia Latte, Cappuccino, dan Mochaccino. Sementara untuk yang tidak minum kopi, disediakan Lychee Tea dan Macha yang dicampur kopi.

“Kami juga menawarkan paket breakfast, lunch, dan hi-tea. Untuk breakfast, roti yang kami tawarkan berupa pancake atau toast. Sementara untuk lunch berupa aneka macam sandwich,” kata Imam, yang mengendalikan urusan operasional dalam Roti Shop.

Oh ya, roti-roti yang dipasok ke Roti Shop tidak dapat ditemui di tempat-tempat lain. “Di sini, Anda dapat menjumpai Roti Rendang dan Roti Kari lho,” ia melanjutkan.

Di luar itu, Roti Shop juga menyediakan apa yang disebut Outside Catering bagi perusahaan-perusahaan yang akan mengadakan meeting di gedung perkantoran ini. “Roti Shop tidak membebankan minimal order, tapi setidaknya lima kotak,” ucap Ria, yang kala itu sedang menyiapkan pesanan sebanyak 200 kotak untuk Epson sebagai pelanggan pertama Roti Shop.

Sebelum pandemi, Roti Shop memiliki jam-jam “panen” yaitu pada pagi dan sore hari. Mengingat, boleh dikata, setiap pagi hampir semua orang membutuhkan kopi sebagai booster. Demikian pula pada sore hari (jam 15.00).

“Inilah alasanku mengambil konsep di office building: tidak perlu marketing besar, tapi traffic selalu ada!” pungkas Ria. Namun, sayang, kalau boleh dibilang begitu, Roti Shop dibuka sesuai dengan jam kantor dan pada Sabtu−Minggu tutup.

Check Also

Banyak Peminatnya

Rental Portable Toilet Kehadiran toilet umum—terutama yang bersih, nyaman, wangi, dan sehat—menjadi salah satu kebutuhan …