Home / Inovasi / Untuk Urusan Religi Bisa, Untuk Kesehatan Boleh, Untuk Aksesori Tidak Masalah

Untuk Urusan Religi Bisa, Untuk Kesehatan Boleh, Untuk Aksesori Tidak Masalah

Aksesori Jenitri

(Hury Accessories)

 

Sejauh ini, belum banyak yang mengenal apa itu jenitri. Kalau pun ada yang mengetahuinya, hanya sebatas dalam bentuk biji tasbih. Padahal, dalam perkembangannya, jenitri juga sudah dibuat menjadi aksesori yang mengandung unsur kesehatan. Seperti, yang dibuat Hury Accessories. Imbasnya, pasarnya pun berkembang luas, tanpa persaingan

 

e-preneur.co. Konon, Pohon Jenitri masuk ke Indonesia lantaran dibawa oleh seseorang yang berasal dari India. Lalu, yang bersangkutan menanamnya di Kebumen, Jawa Tengah. Itu sebabnya, Biji Jenitri (baca: jenitri, red.) Kebumen memiliki kualitas lebih baik dan nilai jual lebih tinggi ketimbang jenitri di daerah-daerah lain.

Selain itu, dengan produksi yang melimpah, Jenitri Kebumen menjadi penyumbang terbesar ekspor jenitri. Hingga, Indonesia dikenal sebagai negara pengekspor jenitri terbanyak di dunia.

Dalam perjalanannya, semakin banyak Pohon Jenitri yang ditanam. Penanaman yang dilakukan dengan sistem okulasi itu, menghasilkan panen yang membludak.

Tapi, adanya pergantian musim, menyebabkan jenitri yang dihasilkan, pertama, mempunyai jumlah mukhi yang berbeda-beda. Sekadar informasi, mukhi yakni garis belah yang terdapat pada jenitri. Sementara jumlahnya dari 1 sampai dengan 21 dan masing-masing mukhi memiliki filosofi.

Selain dibedakan oleh mukhi, jenis-jenis jenitri juga dibedakan berdasarkan nama penemu atau tempat pertama kalinya ditemukan. Seperti, jenitri Kiswanto yang berwarna putih, Dulhamid (berbentuk bulat), Medana (berbentuk gepeng dan ber-mukhi banyak), serta Cilacapan (berbentuk lancip).

Kedua, hal ini berpengaruh pada naik−turunnya harga. Contoh, Medana yang dulu baru dihasilkan dari satu atau dua pohon, dihargai Rp25 ribu/biji. Saat ini, Medana hanya dihargai Rp100,- atau Rp200,- per biji. Sedangkan mukhi 21, bisa dibandrol dengan harga Rp20 juta−Rp30 juta per biji.

Di sisi lain, panen yang melimpah memunculkan perkembangan dalam olahan jenitri. Jika sebelumnya berkutat dengan hal-hal yang berkaitan dengan ritual dalam Agama Hindu, selanjutnya berkembang ke pembuatan aksesori. Meski, jumlah pengrajinnya baru sekitar 50 orang.

Pasarnya terus berkembang

“Jadi, di sini ada dua pasar di mana yang satu pasar religi dan yang lain pasar aksesori. Pangsa pasar religi memang sedikit dan tertentu, tapi membutuhkan bahan baku yang sangat banyak dan harganya sangat bagus. Sedangkan pangsa pasar aksesori atau modifikasi (biasanya dibarengi unsur kesehatan, red.) sangat luas—karena semua orang dapat memakainya—dan setiap jenitri dapat digunakan, meski biasanya mukhi lima yang paling banyak digunakan. Tapi, harganya standar,” ungkap Nanang Wahidin Yusuf.

Pemilik Hury Accessories ini mengisahkan, semula ia adalah pengrajin aksesori dari mote atau akrilik (payet, red.) yang memulai usahanya pada tahun 2010. Lantas, selama kurun 2010−2014, ia mengikuti berbagai pameran di berbagai tempat.

Suatu ketika, dinas perindustian dan perdagangan setempat mengharuskan para pengikut pameran atas nama kabupaten membawa produk asli Kebumen. Nanang pun berinisiatif mengkonversi aksesori buatannya dengan jenitri.

“Mengingat Kutosari merupakan pengepul jenitri yang paling bagus, maka saya mengambil jenitri dari para tetangga saya. Selanjutnya, mencoba memadukannya dengan aksesori buatan saya dan ternyata cocok. Dalam perjalanannya, aksesori dari akrilik tidak saya buat lagi dan hanya membuat aksesori dari jenitri,” tutur warga Gang Asem, Desa Kutosari, Kebumen, ini.

Untuk itu, ia membangun usaha yang diberi nama Hury Accessories pada tahun 2014. Lalu, dengan modal awal Rp3 juta−Rp5 juta, ia membeli jenitri hingga akhirnya memiliki pemasok dari Krakal dan Klirong.

Menurutnya, jenitri dari kedua tempat itu harganya bagus dan ketersediaan barang sesuai dengan permintaannya, serta kualitasnya bagus. Selain itu, demi efisiensi waktu dan menghemat biaya, ia membelinya dalam bentuk mala (asbih dalam Agama Hindu, red.).

Selanjutnya, setiap hari (25 hari kerja) ia dan para karyawannya membuat gelang dan tasbih, serta turunannya yang jumlahnya sangat banyak. Mengingat, aksesori harus selalu update.

“Untuk gelang sebanyak 50−100 pieces dan untuk tasbih 30−50 pieces. Rata-rata terserap pasar 50%−60% nya dan sisanya untuk stok. Sementara harganya Rp10 ribu−Rp200 ribu untuk gelang, untuk tasbih Rp30 ribu−Rp125 ribu, dan untuk kalung Rp50 ribu−Rp150 ribu,” ujarnya.

Nanang yang menyasar mereka yang berumur 30−45 tahun baik wanita maupun pria sebagai konsumennya, memasarkan hasil karyanya dengan menggunakan media sosial maupun melalui konsinyasi dengan beberapa outlet di Roemah Martha Tilaar−Gombong, Griya Pamer Dekranasda Kebumen, PLUT Kebumen, Taman Kupu-kupu Kebumen, serta mengikuti pameran dan penjualan langsung/reseller. Sementara untuk penjualan ke luar Kebumen (produk ini telah merambah Medan hingga Papua, red.), dilakukan melalui Dekranas Provinsi.

Namun, tidak berarti usaha ini berjalan mulus, melainkan masih terhalang oleh promo dan pengenalan tentang jenitri. “Orang-orang Kebumen saja masih banyak yang belum tahu apa itu jenitri. Mengingat, dari panen, diolah, sampai ditumpuk, jenitri langsung dikirim ke India alias tidak melewati Kebumen. Sehingga, dengan adanya jenitri aksesori ini sekaligus memperkenalkan bahwa jenitri mempunyai manfaat lain selain religi,” ungkapnya.

Prospeknya? “Bagus banget. Hal ini terlihat dari semakin banyaknya pengrajin jenitri, yang berarti mereka melihat pasarnya ada dan pasar itu masih sangat luas. Jadi, tidak akan ada persaingan,” ucap kelahiran Kebumen, 5 Juni 1981 ini.

Di sisi lain, dengan semakin banyak yang berkecimpung dalam usaha pembuatan aksesori jenitri, maka misi mengangkat nama Kebumen akan segera terwujud. “Untuk Hury Accessories, saya berharap dapat mengembangkannya ke arah home décor seperti tempat tisu, hiasan dinding, tas, dan sebagainya dalam batas-batas tertentu yang tidak menyimpang dari unsur religi,” pungkasnya.

Check Also

Cucian Bersih, Ekosistem Terjaga

Deterjen Minim Busa Isu ramah lingkungan membuat para pelaku usaha terus menggali ide untuk menciptakan …