Home / Senggang / Resto Area / Ada Tiga Jenis Masakan yang Dibuat dari Satu Bahan Baku

Ada Tiga Jenis Masakan yang Dibuat dari Satu Bahan Baku

Torani

 

Hanya dipromosikan melalui medsos, tapi banyak orang ingin bersantap di Torani. Ternyata, itu karena rumah makan ini menyediakan makanan berbahan baku bandeng tanpa duri. Padahal, Balikpapan identik dengan kepiting. Bukan cuma itu, tapi juga tersedia tiga jenis masakan yang berasal dari satu bahan baku

 

e-preneur.com. Setiap rumah makan harus mempunyai ciri khas. Begitu kata Sundusing Madia, pemilik Rumah Makan Torani (baca: Torani, red.).

Karena itu, pada awal membuka Torani, ia hanya menawarkan menu bandeng tanpa duri. Sekali pun, Balikpapan identik dengan kepiting. Bahkan, hingga saat ini, bandeng tanpa duri masih menjadi menu andalan rumah makan yang terletak di Jalan Sudirman atau tepatnya di depan Pengadilan Negeri Balikpapan, Kalimantan Timur (Kaltim), ini.

“Jadi, kalau berbicara tentang bandeng tanpa duri (dan juga pepes kepiting) di Balikpapan berarti itu Torani,” ujar pria yang akrab disapa Jaka ini.

Sementara Torani itu sendiri merupakan sejenis Ikan Terbang. Digunakannya satwa air ini sebagai nama rumah makan seluas 1.300 m² tersebut, lantaran nilai filosofi yang terkandung di dalamnya di mana saat sedang berenang secara berkelompok, mereka membentuk anak panah. Itu artinya, di dalam kelompok ikan ini sudah terbentuk pola kepemimpinan.

“Saat itu, saya berharap Torani akan menjadi pelopor (baca: pemimpin, red.) rumah makan sejenis. Dan, hal itu terwujud. Torani merupakan rumah makan seafood pertama atau pelopor di Kaltim,” ucapnya.

Merunut ke belakang. Torani hadir pada tahun 2006 dalam bentuk warung tenda (warten, red.), di area parkir Mal Fantasi. Pada malam pertama dan kedua, warten ini belum menghasilkan pemasukan. Tapi pada malam ketiga, Torani meraup omset mencapai Rp800 ribu dan omset ini membengkak menjadi minimal Rp2,5 juta pada malam-malam selanjutnya.

Dengan jam buka warung 17.00–21.00, rata-rata 250 ekor bandeng tandas. Bahkan, ketika Bupati Balikpapan dan wakilnya menjadi tamu warten ini, para “pengikut” Torani pun bermunculan.

“Sebenarnya, banyak orang yang tidak mau makan bandeng. Karena, banyak durinya. Lalu, saya mempromosikannya dengan menyapa setiap pengunjung mal dan meminta mereka mencicipinya, gratis,” kisahnya.

Namun, tetap susah sekali. Lantaran, mereka masih berpikir ini bandeng presto. “Tapi, begitu mereka merasakan dan yakin, mereka pun memesan dan memesan lagi pada malam-malam berikutnya,” lanjutnya.

Torani = bandeng tanpa duri

Setelah empat bulan bertahan dalam bentuk warten dan dengan omset terakhir rata-rata Rp6 juta/malam, Torani pun pindah lokasi dan berubah menjadi rumah makan. Bukan cuma itu, menu yang semula hanya bandeng bakar dan pepes kepiting, berkembang menjadi seafood untuk memenuhi permintaan konsumen.

“Namun, Torani tetap dikenal karena bandengnya. Dari sekian menu yang dipesan dalam satu meja, selalu ada bandeng,” ucapnya.

Kini, sebenarnya, Torani tinggal ongkang-ongkang kaki. Tapi, rumah makan yang mampu menampung sekitar 450 tamu ini, ternyata masih terus bersiasat agar bisa bertahan dan berkembang.

Caranya, pertama, dengan menjadikan para pelanggan sebagai bagian dari keluarga besar Torani. “Upaya ini sudah terwujud. Buktinya, telepon kami terus berdering, kalau pada hari libur kami tutup. Dulu, kami memiliki program tutup tiga bulan sekali untuk refreshing bersama para karyawan. Sekarang, kami buka setiap hari,” ungkapnya.

Torani juga mempersilahkan konsumen untuk mengambil sendiri nasi, lalap, dan sambal. Tujuannya, agar konsumen merasa seperti sedang di rumah sendiri. Selain itu, sejak beberapa waktu lalu, atas inisiatif mereka sendiri, dua karyawan senior Torani mengadakan pendekatan personal dan kekeluargaan dengan menghampiri meja-meja para tamu yang sudah selesai bersantap.

Kedua, untuk meningkatkan omset, rumah makan yang mampu menyajikan semua menu dalam tempo maksimal 15 menit ini, meniru apa yang dilakukan rumah makan Padang yaitu dengan menyediakan nasi kotak. Imbasnya, omset Torani pun melonjak secara fantastis.

“Menurut saya, bisnis makanan itu gaib. Jika Sabtu dan Minggu selalu ramai itu biasa. Tapi, jika Selasa yang kami pikir sepi, bisa saja tiba-tiba pengunjungnya membludak. Demikian pula dengan jam-jam sepi yaitu jam 15.00–17.00, tiba-tiba datang konsumen secara berombongan,” kata kelahiran Bone, 25 Agustus 1973 ini.

Mungkin, itu lantaran rumah makan yang dipromosikan melalui media sosial itu memiliki menu andalan berupa bandeng bakar dan aneka menu kepiting, di samping juga menyediakan tiga jenis masakan yang terbuat dari satu bahan yaitu ikan kakap merah atau kerapu. Maksudnya, bagian kepala ikan dimasak Palumara, bagian badan dimasak saos asam manis, dan bagian ekor dibakar.

Prospeknya? “Orang-orang zaman sekarang semakin sibuk dengan kehidupan mereka. Sehingga, semakin malas memasak. Imbasnya, mereka lebih suka membeli masakan matang atau makan di tempat. Kondisi ini, membuat bisnis tempat makan semakin ‘hidup’,” ujarnya.

Imbasnya, rumah makan yang menyasar konsumen dari kalangan keluarga ini berani menawarkan franchise. “Saat akan membuka franchise, saya hanya ingin agar Torani ada di setiap provinsi,” pungkas alumnus Sekolah Tinggi Perikanan, Jakarta, ini. Dan, kini, Torani juga dapat dijumpai di Banjarbaru dan Batulincin (Kalimantan Selatan), Sampit (Kalimantan Tengah), dan Pandaan (Jawa Timur).

Check Also

Ketika Para Perantau Kangen dengan Kampung Halamannya

Bubur Samin Bubur Samin bukanlah makanan tradisional Solo, tapi menjadi menu takjil yang ikonik di …