Home / Kiat / Jangan hanya Menjadi Karyawan

Jangan hanya Menjadi Karyawan

Autofit

Tahukah Anda indikasi seorang karyawan akan berhasil menjadi entrepreneur sukses? Ternyata, jangan cuma menjalankan kewajiban sebagai karyawan. Fitriyanto telah membuktikannya hingga berhasil membangun dan menjalankan Autofit

e-preneur.co. Karyawan pada umumnya bekerja untuk memenuhi kewajibannya, Berbeda dengan karyawan yang berjiwa pengusaha di mana tidak hanya berhenti pada kewajiban sebagai karyawan, tapi terus belajar, mengembangkan jiwa inovatif, memupuk relasi yang luas, hingga menangkap berbagai peluang yang menguntungkan bagi tempat mereka bekerja. Mereka akan turut berpikir dan bertindak, agar perusahaan tempat mereka bekerja bisa atau terus maju.

Imbasnya, perusahaan akan mengganjar mereka dengan karir yang mentereng. Sementara secara pribadi, mereka berpeluang berhasil sangat tinggi jika membuka usaha sejenis dengan perusahaan tempat mereka bekerja.

Setidaknya, itu sudah dibuktikan oleh Fitriyanto. Setelah sukses sebagai marketer sebuah perusahaan otomotif yang bergerak dalam bidang pemasokan chemical perawatan mobil, ia diangkat menjadi orang kepercayaan pemilik perusahaan itu. Untuk itu, ia memperoleh penghasilan hingga puluhan juta rupiah per bulannya.

“Hampir 10 tahun saya bekerja sebagai marketer di perusahaan otomotif tersebut. Saya memiliki banyak kawan, baik yang memproduksi chemical maupun customer chemical perawatan mobil,” tutur Fitri, begitu ia akrab disapa.

Selain itu, ia sempat dipercaya pemilik perusahaan untuk menangani produk-produk impor yang dikemas di Indonesia. “Hingga, akhirnya, saya tahu dari mana produk itu berasal. Dari situ, saya berpikir mengapa tidak mendirikan perusahaan sendiri yang juga bergerak dalam bidang ini,” lanjutnya.

Tahun 2006, Fitri mulai serius membuka usaha sendiri yang juga bermain di bidang yang sama dengan perusahaan tempatnya bekerja. Setahun kemudian, ia menang tender sebagai vendor yang memasok chemical ke semua ATPM (Agen Tunggal Pemegang Merek) yang ada di Indonesia.

Kendati semula terkendala modal, tapi akhirnya ia berhasil mendapat kucuran pinjaman bank. Karena, bank menilai usahanya prospektif.

Usaha yang berbendera PT Vitechindo Perkasa itu pun berjalan, mulai dari berkantor di bengkel motor miliknya hingga berkembang menempati ruko (rumah toko) pribadi di Jalan Raya Malaka, Jakarta Timur. Dan, dari mempekerjakan dua karyawan, berkembang menjadi 21 orang. “Bahkan, modal yang saya pinjam dari bank bisa saya kembalikan dalam waktu enam bulan,” ujar Bapak dua anak ini.

Bangunlah usaha yang tidak jauh berbeda dari perusahaan tempat Anda pernah bekerja

Kendati terlihat gampang dalam membesarkan usaha tersebut, tapi tidak berarti tanpa tantangan. Ia harus bersaing dengan perusahaan tempat ia pernah bekerja dan beberapa perusahaan lain, yang juga bermain di sektor yang sama.

“Waktu itu, saya tidak pernah berhenti belajar tentang pasar. Kami membeli satu-persatu produk pesaing, mulai dari yang murah sampai mahal. Setelah itu, kami membuat produk yang kualitasnya bagus, tapi harganya murah,” ungkap Fitri, yang menamai produknya Autofit.

Untuk itu, ia membeli mesin yang memungkinkan memproduksi chemical sendiri (pada umumnya, para pesaingnya menjual produk impor, red.). Sehingga, dengan mesin tersebut, ia bisa mengambil keuntungan yang jauh lebih besar dibandingkan para pesaing yang rata-rata mantan teman kerjanya di perusahaan otomotif tersebut.

Untuk para karyawan yang ingin mengikuti jejaknya alias pindah kuadran menjadi entrepreneur, ia menyarankan harus melakukan persiapan yang matang dan jangan terburu-buru mengundurkan diri dari tempat kerja mereka. “Kalau belum siap, nanti malah ambruk usahanya. Setidaknya, mulai usaha sampingan yang sesuai dengan hobi, tapi jangan sampai mengganggu aktivitas utama,” ujar kelahiran Purbalingga, Jawa Tengah, ini.

Cara lainnya yaitu dengan membeli usaha franchise. Sebab, tidak sedikit karyawan yang sudah mapan dengan posisi mereka memiliki lebih dari satu usaha franchise. “Belilah usaha franchise yang benar-benar terbukti menguntungkan, brand-nya terkenal, dan sudah lama beroperasi, serta sudah bisa berjalan melalui sebuah sistem atau franchisee hanya sebagai investor,” katanya.

Banyak alasan, ia melanjutkan, yang menyebabkan para karyawan gagal menjadi entrepreneur. Antara lain, kurang fokus menjalankan bisnis mereka dan tidak mau belajar.

“Jangan anggap diri sukses dulu! Belajarlah terus, seperti bagaimana melihat pasar, mengetahui kualitas dan harga pesaing, dan sebagainya. Dari situ, kita bisa memposisikan kualitas dan harga produk kita sendiri sebelum diluncurkan ke pasar,” paparnya.

Sementara cara “bakar kapal”, menurutnya, kurang tepat bagi karyawan yang belum tahan banting. “Kecuali, kalau memang perusahaan sudah mau bangkrut atau kena pemutusan hubungan kerja (PHK), baru pakai jurus nekad tadi. Mengingat, sudah tidak ada pilihan lain,” pungkasnya.

Tips dari Fitriyanto

  • Selama menjadi karyawan, mulailah usaha sampingan yang sesuai dengan hobi, tanpa mengganggu aktivitas pekerjaan utama.
  • Membeli usaha franchise juga merupakan satu solusi menjadi entrepreneur. Karena, risiko gagalnya kecil dan bisa dijadikan ajang untuk terus belajar menjadi entrepreneur.
  • Harus fokus dan jangan setengah-setengah dalam menjalankan usaha.
  • Jangan berhenti belajar, kendati sudah sukses. Karena, pasar selalu berubah kemauannya.
  • Harus memiliki mental yang kuat, tahan banting.
  • Perlu dukungan orang-orang terdekat, seperti istri, anak, dan orang tua.

Check Also

“Naik Kelas” dengan Mengganti Gerobak Dorong dengan Outlet Permanen Berkonsep Restoran

Bakmi Gila Usaha kakilima banyak diminati para pelaku usaha. Selain itu, konsep PKL mempunyai potensi …