Home / Inovasi / Mantau pun Menjadi Lebih Istimewa

Mantau pun Menjadi Lebih Istimewa

Mantau Sapi Lada Hitam

(Pondok Mantau)

Jangan abaikan keampuhan inovasi produk untuk mempertahankan dan mengembangkan sebuah bisnis. Fauzi melalui Pondok Mantau telah membuktikannya, dengan melakukan modifikasi pada mantau hingga menjadi Mantau Sapi Lada Hitam. Imbasnya, menjadi oleh-oleh khas Balikpapan yang disukai

e-preneur.co. Mantau yaitu kue semacam atau mirip dengan bakpao yang disajikan bersama dengan olahan daging rusa. Mantau menjadi menu favorit para tamu hotel bintang lima di Balikpapan, Kalimantan Timur.

Dalam perkembangannya, harga daging rusa dirasa terlalu mahal. Selain itu, perburuannya sudah dilarang dan kehalalannya masih diragukan. Untuk itu, jika hanya untuk konsumsi pribadi, harus dilakukan modifikasi.

Dari sini, Kayin Fauzi melihat adanya celah bisnis. Lalu, bersama sang istri yang hobi memasak, pasangan ini menghadirkan Pondok Mantau pada tahun 2007, dengan modal sekitar Rp20 juta. Modal tersebut, lebih banyak digunakan untuk membeli aset, seperti mesin, freezer, chiller, serta kompor dan dandang khusus agar proses pengerjaannya lebih cepat dan akurat.

“Saya mengganti daging rusa dengan daging sapi impor dari Australia dan New Zealand, yang kemudian diolah menjadi masakan sapi lada hitam,” kata Fauzi, sapaan akrabnya.

Pemilik Pondok Mantau yang dalam usaha ini menangani bagian developing dan marketing memilih menggunakan daging sapi ketimbang daging kambing. Karena, tekstur daging kambing dinilainya kurang pas, di samping tidak semua orang bisa makan daging ini. Sementara daging ayam, biasanya akan hancur ketika di-slice.

“Kami menggunakan mesin khusus untuk mengiris daging sapi agar ukurannya standar. Mesin ini tidak dapat digunakan untuk daging ayam,” jelas sarjana Sastra Inggris dari Universitas Muhammadiyah, Surabaya, ini.

Bisa dimakan berbarengan, seperti nasi dengan lauknya

Sebenarnya, ia melanjutkan, mantau yang rasanya manis dan harus digoreng dulu sebelum dimakan untuk memunculkan sensasi kres ini dapat dinikmati tanpa tambahan apa pun. Tapi, dengan adanya sapi lada hitam, maka menjadi lebih istimewa.

Inovasi ini dilakukan Fauzi bukan tanpa sebab. Salah satunya yakni Balikpapan tidak memiliki makanan ringan yang khas yang bisa dibawa sebagai oleh-oleh.

“Sebagai oleh-oleh, dalam satu kemasan mantau (1 kemasan = 10 buah mantau, red.), kami tambahkan sapi lada hitam sudah dalam kondisi matang dan dikemas dalam aluminium foil plus kacang mete sebagai garnish. Nantinya, mantaunya tinggal digoreng dan sapi lada hitamnya dipanaskan, lalu dimakan berbarengan. Seperti nasi dengan lauknya,” jelas kelahiran Ponorogo, 6 April 1968 ini.

Di samping itu, Pondok Mantau juga menyediakan mantau polos. “Mantau polos ini kami buat, karena kami bekerja sama dengan katering yang pada umumnya hanya menginginkan mantaunya,” imbuhnya.

Namun, dalam perjalanannya, ada konsumen yang merasa harga yang dibandrol terlalu mahal. Sehingga, akhirnya, memutuskan untuk membeli yang polos saja.

“Padahal, yang saya tonjolkan yang memakai sapi lada hitam. Berkaitan dengan itu, jumlah mantau dalam satu kemasan saya kurangi dari 10 buah menjadi delapan atau lima buah agar harga bisa turun,” katanya.

Prospeknya? “Bagus. Camilan, apalagi oleh-oleh, seberapa kecil ukurannya dan seberapa murah harganya sangat berarti bagi orang-orang yang sedang menunggu kedatangan kita. Sementara khusus untuk mantau, prospeknya bagus dan ke depannya akan semakin banyak yang ‘bermain’ di sini. Kami tinggal menambah outlet. Semakin banyak outlet, semakin besar omset,” pungkasnya.

Untuk membelinya, selain datang ke rumah produksinya yang berlokasi di Jalan A. Yani, GSI, Balikpapan, konsumen juga dapat memesannya melalui website-nya atau berkunjung ke Balikpapan Trade Center (BTC). Di samping itu, Mantau Sapi Lada Hitam, begitu namanya, juga dapat dijumpai di semua lorong Bandara Internasional Sepinggan (Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan International Airport).

Check Also

Cucian Bersih, Ekosistem Terjaga

Deterjen Minim Busa Isu ramah lingkungan membuat para pelaku usaha terus menggali ide untuk menciptakan …