Home / Agro Bisnis / Pembibitannya Saja Menguntungkan

Pembibitannya Saja Menguntungkan

Gurame Jepang

Varietas gurame semakin lama semakin banyak dan masing-masing mempunyai keunggulan. Salah satunya, Gurame Jepang yang dalam pembibitannya sudah dapat dipanen dalam waktu 2 bulan–3 bulan. Sementara anakannya yang baru berumur dua bulan, sudah laku dijual

e-preneur.co. Gurame (Latin: Osphronemus Goramy, red.) merupakan ikan konsumsi yang sangat populer di Asia Tenggara dan Asia Selatan. Di Indonesia, ikan yang memiliki daging padat, duri besar, dan rasa yang gurih ini menjadi hidangan wajib di restoran-restoran.

Selain memiliki pangsa pasar yang tinggi, dalam pembudidayaannya sama seperti ikan air tawar yang lain alias tidak ribet. Sebab, gurame bisa bertahan hidup di sembarang tempat.

Meski begitu, untuk menjaga kualitas ikan, pemilihan lokasi budidaya perlu diperhatikan. Gurame, baik jenis Soang maupun Jepang, mampu hidup dan berkembang biak dengan baik di lokasi dengan ketinggian 20‒400 mdpl dan suhu  25°C‒28°C.

Namun, menurut Sjamsi, salah satu penyedia bibit Gurame Jepang berkualitas di  Madiun dan sekitarnya, Gurame Jepang memiliki daya tahan yang lebih baik dan daging yang lebih gurih daripada Gurame Soang. Meski, ukuran tubuhnya masih di bawah Gurame Soang.

Tapi, manakah yang lebih menguntungkan: pembibitan atau pembesaran gurame? Menurut Sjamsi, sama-sama menguntungkan.

“Kesulitan dalam melakukan pembibitan gurame yaitu kita harus memilih telur yang baik dan matang. Telur yang matang, memiliki tingkat keberhasilan dalam menetas hingga 80% dari satu paket yang berisi sekitar 10.000 butir telur gurame,” katanya.

Jika telur yang dipilih kurang baik, maka tingkat keberhasilannya hanya 50%. “Meski di angka 50% pun, kita tetap mendapat keuntungan,” lanjut pria, yang memiliki tiga kolam yang masing-masing berukuran 500 m2, 700 m2, dan 800 m2 ini.

Telur yang baik dan matang, ia menambahkan, diperoleh dari Induk gurame berumur 2‒4 tahun. Selain itu, tempat hidup Induk gurame juga mempengaruhi kualitas telur. “Dari pengalaman saya, Banyumas dan Purwokerto merupakan tempat yang menghasilkan kualitas telur Gurame Soang dan Gurame Jepang yang paling baik,” ujar Sjamsi, yang dalam mengurusi kolamnya dibantu oleh seorang pegawai ini.

Tingkat keberhasilan dalam menetas hingga 80%

Gurame memiliki masa panen singkat yaitu 2–3 bulan. Selanjutnya, anakan gurame yang baru berumur dua bulan, sudah laku dijual dengan harga per ekornya tergantung ukurannya.

Sementara untuk keberhasilan memperoleh anakan gurame, Sjamsi melanjutkan, dipengaruhi oleh perbandingan luas kolam dan jumlah ikan. Untuk pembibitan, perbandingan yang ideal yaitu untuk setiap 1 m2  kolam diisi 150 ekor calon anakan.

“Jika per 1 m2 kolam diisi dengan 500 ekor anakan gurame, maka dua bulan kemudian, gurame yang dihasilkan tidak maksimal kualitasnya. Seperti, tubuhnya tidak berkembang atau membesar dengan baik,” paparnya.

Sedangkan untuk pembesaran, perbandingan luas kolam dengan jumlah ikan yang baik yaitu untuk setiap 1 m2 kolam diisi 10 ekor gurame. “Sebenarnya, bisa juga diisi 20 ekor per 1 m2. Tapi, nanti hasilnya pasti tidak maksimal dan rentan terhadap penyakit,” lanjutnya.

Selanjutnya, pada umur 2 minggu–1 bulan, anakan gurame diberi makan Cacing Lur atau Cacing Benang. Setelah mencapai umur satu bulan lebih, pakan ditambah dengan pellet.

Kendala yang sering dihadapi para petani gurame yaitu datangnya udara dingin saat pancaroba. Di saat itu, banyak gurame yang mati atau terserang penyakit. Selain itu, banyak telur gurame yang tidak mau menetas. Sehingga, bisa menimbulkan kelangkaan gurame di pasaran.

Dari berbagai eksperimen yang telah dilakukan, Sjamsi menemukan probiotik tradisional yaitu sebuah formula untuk memperkuat daya tahan anakan gurame ketika menghadapi udara dingin. Probiotik tradisional ini juga diklaim mampu menjadi jamu, yang efektif mencegah penyakit pada gurame maupun ikan air tawar lainnya. Untuk itu, selain dipakai sendiri, ramuan ini juga seringkali dipesan oleh para petani gurame yang mengambil bibit gurame di tempatnya.

Di samping itu, Sjamsi juga membuat pupuk sebagai tambahan pakan untuk gurame maupun ikan air tawar lainnya. Pupuk yang terbuat dari kotoran sapi yang dikeringkan, kemudian diformulasikan secara khusus dengan probiotik ini, dikemas per 5 kg dan dibungkus karung beras.

“Bungkusan karung ini, kemudian diikat di dalam kolam hingga terendam. Beberapa hari kemudian, akan muncul cacing-cacing halus di sekitar karung tersebut yang menjadi makanan gurame,” ucap Sjamsi, yang memiliki sekitar 100.000 bibit Gurame Jepang di kolamnya.

 Penggunaan pupuk ini, ia menambahkan, juga menghemat pemakaian pakan dari pabrik. Jika satu kolam biasanya menggunakan pakan 10 kg, maka dengan menggunakan pupuk ini, pemakaian pakan hanya 5 kg.

Permintaan akan gurame di pasar yang semakin meningkat, jelas menunjukkan prospek bisnis budidaya ikan ini masih terbuka lebar. Bagi Sjamsi sendiri, setiap bulan, ia meraup omset yang tidak sedikit.

Check Also

Menyehatkan Konsumennya, Menguntungkan Petaninya

Beras Hitam Organik Meski buruk rupa, tapi kaya manfaat kesehatan. Tidak mengherankan, bila peminat Beras …