Home / Agro Bisnis / Dihargai Jutaan Rupiah

Dihargai Jutaan Rupiah

Ayam Cemani

Dengan warnanya yang hitam pekat, Ayam Cemani dianggap ayam keramat, sekaligus juga ayam hias yang langka. Imbasnya, ayam khas Indonesia ini dihargai relatif sangat mahal. Dan, keuntungan materi yang diperoleh peternaknya luar biasa

e-preneur.co. Ayam Cemani merupakan salah satu jenis Ayam Kedu atau ayam yang berasal dari Kedu, Temanggung, Jawa Tengah. Secara fisik, semua bagian tubuh ayam ini berwarna hitam. Bahkan, darahnya pun diyakini berwarna hitam.

Namun, Anda jangan terkecoh dengan Ayam Kedu Hitam. Sebab, jika Ayam Cemani adalah Ayam Kedu Hitam, maka Ayam Kedu Hitam belum tentu Ayam Cemani. 

Pertama, karena Ayam Kedu Hitam mempunyai sebaran warna hitam hanya pada bulunya. Kedua, Ayam Kedu Hitam kemungkinan hasil perkawinan dengan “kerabatnya” yang berwarna hitam.

Lantaran serba hitam itulah, Ayam Cemani dianggap memiliki unsur magis. Sehingga, sering digunakan sebagai media tolak bala atau sebagai tumbal, nazar, sesaji, dan sebagainya. Imbasnya, banyak diburu dan harganya menjadi sangat mahal. 

Ayam Cemani, menurut Nur Faizin, merupakan plasma nuftah dan menjadi ikon Temanggung yang memiliki nilai ekonomi sangat tinggi. Karena itu, ayam ini banyak diternakkan oleh penduduk setempat.

Mereka menternakkan ayam ini, selain karena harga jualnya mahal, juga sebagai upaya untuk melestarikan dan mengembangkannya. Apalagi, konon, Ayam Cemani merupakan warisan dari Ki Ageng Makukuhan yang diyakini sebagai lelulur Penduduk Kedu.

“Beternak Ayam Cemani tak ubahnya dengan beternak ayam kampung, baik dari pembuatan kandang, pemberian pakan, maupun tata cara pemeliharaannya. Tapi, untuk menghasilkan Ayam Cemani yang yang berkualitas tinggi diperlukan tambahan pakan, seperti Beras Hitam dan suplemen makanan lainnya. Sementara ntuk menjaga kesehatan ayam, harus dilakukan vaksinasi secara rutin dan menyemprot kandangnya dengan disinfektan,” ujar Ketua Paguyuban Peternak Ayam Cemani Makukuhan Mandiri tersebut.

Tak ubahnya beternak ayam kampung

Karena itu, menurut Raharjo, Ayam Cemani pun dapat dipelihara dengan cara diumbar dari pagi sampai sore dan mencari makanannya sendiri. “Meski, kadang, pemiliknya memberi dedak sebagai makanan tambahan,” kata pedagang Ayam Kedu di Pasar Pramuka, Jakarta, itu.

Sementara menurut Muhammad Basyori, beternak Ayam Cemani lebih menguntungkan ketimbang berbagai unggas yang lain. Sebab, tanpa dipelihara dalam jumlah banyak, tapi pemasukan yang diperoleh bisa berlipat-lipat banyaknya.

“Kalau ayam biasa harus dipelihara dalam jumlah banyak, untuk mendapatkan omset yang banyak pula. Berbeda dengan Ayam Cemani, yang harga jual satu ekornya saja bisa setara dengan puluhan ayam biasa,” ujar peternak Ayam Cemani dari Jatibarang, Semarang, itu.

Ya, ayam gempal yang juga tahan penyakit ini, Raharjo menambahkan, memang dihargai sangat mahal. Bisa mencapai jutaan, bahkan puluhan rupiah per ekornya.

“Untuk Ayam Cemani yang tidak berkelas dihargai Rp250 ribu‒Rp500 ribu per ekor. Sedangkan yang berkelas, bisa mencapai puluhan juta rupiah per ekor. Bahkan, telurnya bisa laku Rp50 ribu per butir dan kuthuk (Jawa: anak ayam, red.)nya laku sampai Rp300 ribu,” kata Nur Faizin.

Namun, menurut Raharjo, kolektor pemula lebih suka membeli Ayam Cemani yang masih remaja atau seharga Rp500 ribu‒Rp750 ribu. Karena, setelah dewasa akan berperilaku jinak. Sedangkan kolektor serius, lebih suka dengan yang sudah dewasa. Sebab, sudah bisa diketahui kualitasnya, dalam arti, apakah berbulu hitam pekat atau ada variasi warna lain.

Di atas dikatakan bahwa bulu hitam legam yang dimiliki Ayam Cemani menimbulkan kesan mistis. Tapi, seiring berjalannya waktu, kepercayaan itu semakin menipis. Orang-orang lebih menganggapnya sebagai ayam hias yang eksotis dan langka. Sehingga, “diburu” oleh para hobiis dalam maupun luar negeri.

“Kalau pagi-pagi dia berkokok, suaranya lantang. Bikin hati damai,” kata Ibnu Saptaji. Hobiis yang tinggal di Pondok Gede, Bekasi, ini tidak percaya tentang cerita gaib di seputar ayam ini. Ia lebih melihatnya sebagai sarana penghilang stres.

Begitu pula, Jan Steverink. Warga Belanda ini beberapa kali datang ke Indonesia hanya untuk “berburu” Ayam Cemani, untuk nantinya dipelihara di negaranya, sekaligus melestarikan (dengan membuat jalur murni) dan  memperkenalkan ayam khas Indonesia ini ke Eropa.

Sekadar informasi, jumlah Ayam Cemani pernah melorot drastis. Lantaran, peternaknya kurang dibekali pengetahuan tentang beternak Ayam Cemani. Sehingga, ketika muncul wabah, mereka tidak mengetahui bagaimana menangkalnya. Imbasnya, Ayam Cemani tinggal 2 ribu ekor.

Namun, kini, setelah pemerintah daerah setempat memberi penyuluhan dan mendirikan kelompok peternak yang dinamai Paguyuban Peternak Ayam Cemani Makukuhan Mandiri, jumlah ayam ini meningkat. Hingga, anggota paguyuban ini pun dapat hidup layak.

Check Also

Menyehatkan Konsumennya, Menguntungkan Petaninya

Beras Hitam Organik Meski buruk rupa, tapi kaya manfaat kesehatan. Tidak mengherankan, bila peminat Beras …