Home / Profil / Kisah Sukses / “Potensi untuk Berkembang Lebih Besar dengan Mengambil Posisi Di Tengah”

“Potensi untuk Berkembang Lebih Besar dengan Mengambil Posisi Di Tengah”

Bambang Subagio Hadiwidjojo (Owner Double Dipps)

Dengan mengambil posisi di kelas menengah dalam bisnis donat, menurut Bagio, potensi Double Dipps jauh lebih besar ketimbang berada di kelas atas, yang sampai sekarang “pemainnya” tetap hanya beberapa gelintir. Dan, apa yang dikatakan pemilik jaringan gerai Double Dipps Donuts & Coffee itu benar. Terbukti, Double Dipps bisa leluasa merambah ke seluruh Indonesia dengan ratusan gerai. Selain itu, tidak head to head dengan siapa pun

e-preneur.co. Tidak banyak orang yang mengetahui seperti apa peluang usaha itu, serta bagaimana menangkap, mengolah, dan lalu menyajikannya sedemikian rupa kepada konsumen. Hingga, akhirnya, mampu menarik perhatian, serta bersemayam dalam hati dan benak mereka. Di antara segelintir orang itu, tersebutlah Bambang Subagio Hadiwidjojo, pemilik jaringan gerai Double Dipps Donuts & Coffee.

Saat itu, Bagio, begitu ia akrab disapa, melihat bahwa dalam dunia bisnis donat di Indonesia terdapat dua pemain besar yaitu Dunkin’ Donuts (baca: Dunkin, red.) dan J.Co Donuts (baca: J.Co, red.). “Tapi, Dunkin merupakan master franchise dari Amerika Serikat. Sementara J.Co, sekali pun produk lokal, tapi menyasar pada masyarakat kelas atas hingga premium. Dalam arti, hanya dapat ditemui di berbagai pusat perbelanjaan besar dengan outlet/space besar pula,” tuturnya.

Sedangkan pemain lokal dengan sasaran masyarakat kelas menengah, ia melanjutkan, tidak ada. Berkaitan dengan itu, lantas ia meluncurkan Double Dipps Donuts & Coffee (baca: Double Dipps, red.) pada tahun 2008.

Dengan mengambil posisi di kelas menengah, menurutnya, potensi yang dimiliki Double Dipps jauh lebih besar ketimbang berada di kelas atas, yang sampai sekarang pemainnya tetap hanya beberapa gelintir. “Double Dipps bisa merambah ke seluruh Indonesia. Mengingat, masyarakat kelas menengah selalu ada di kota mana saja,” ungkapnya.

Meski begitu, Bagio menyadari jika posisi di tengah juga memunculkan kemungkinan akan turun ke bawah atau naik ke atas. Seandainya yang terjadi naik ke atas, dipastikan akan bertemu dengan para pemain kelas atas tersebut.

Perlu diingat bahwa Dunkin telah bercokol selama lebih dari 35 tahun di Indonesia dan J.Co dengan kelas premiumnya sudah menguasai beberapa pusat perbelanjaan besar. “Saya pernah melihat beberapa pemain lain yang bermain seperti J.Co dan akhirnya tumbang. Tapi, hal ini jangan diartikan Double Dipps takut atau menghindar, melainkan telah menetapkan target market sendiri dan juga diferensiasinya,” jelas kelahiran Tulungagung, 13 Mei 1964 ini.

akan tetap bertahan di kelas menengah, sekali pun nantinya bertambah besar

Selain itu, ia menambahkan, kue untuk masuk ke kelas premium sudah terlalu kecil dan sangat terbatas. Dalam arti, hanya dapat dijalankan di kota-kota besar.

“Pada prinsipnya, Double Dipps akan tetap bertahan di kelas menengah. Sekali pun, nantinya bertambah besar. Dengan demikian, Double Dipps tidak akan pernah head to head dengan mereka. Sementara di kelas menengah, Double Dipps  tidak head to head dengan siapa pun!” tegasnya.

Setelah konsep matang disusun, Double Dipps beralih ke produknya. Bagio memilih donat sebagai bisnisnya. Lantaran, ia melihat tren secara global.

Sekadar informasi, Dunkin sudah hadir sejak tahun 1950 dan sampai sekarang masih eksis. “Hal itu menunjukkan jika bisnis donat itu life circle-nya panjang. Kemudian, saya mengombinasikannya dengan kopi yang memiliki sejarah yang kurang lebih sama, di samping merupakan kombinasi yang luar biasa. Di sisi lain, kalau nantinya bisnis ini saya franchise-kan sudah memenuhi salah satu syaratnya yaitu harus berumur panjang,” paparnya.

Donat itu sendiri, ia menambahkan, ternyata dalam pembuatannya mempunyai tingkat kesulitan yang tinggi dan sangat luar biasa struggle-nya. Sehingga, hal ini sesuai dengan prinsip bisnisnya yaitu jangan membuat produk yang mudah ditiru.

Tingkat kesulitan yang dimaksud yaitu untuk memperoleh resep seperti yang diinginkan, dibutuhkan trial & error hingga enam bulan. “Donatnya Double Dipps bukan sekadar donat. Di sini, ada 20 ingredients. Donatnya Double Dipps bertaraf internasional, tapi 100% lokal. Hal ini kami lakukan, karena setelah usaha ini berumur lima tahun, saya akan membawanya ke luar. Dan, inilah bedanya kami dengan Dunkin dan J.Co,” katanya.

Perbedaan lainnya yaitu sejak awal Double Dipps diposisikan sebagai donat sehat. Dalam arti, pertama, tanpa bahan pengawet. Kedua, less sugar. Karena itu, Double Dipps diterima di beberapa rumah sakit. Bahkan, kementerian kesehatan sudah pula mengakuinya.

Ketiga, sudah mendapat sertifikasi halal dari Majelis Ulama Indonesia. “Double Dipps merupakan donat kedua setelah Dunkin yang memperoleh sertifikasi halal,” ujarnya.

Sementara dari segi bentuk, mirip dengan J.Co, tapi dengan tingkat kepadatan mendekati Dunkin. Sedangkan dari segi harga, lebih murah 20% dari Dunkin dan 10% dari J.Co. Untuk kopinya, 30%–40% lebih murah daripada mereka.

Tahun 2010, usaha dengan tagline: The Original Donuts & Coffee ini, menawarkan kemitraan yang terbagi menjadi lima tipe yaitu tipe Island dengan luas outlet 8 m²−15 m², tipe Express (15 m²−20 m²), tipe Mini Café (30 m²−35 m²), dan tipe Café (65 m²−70 m²), serta tipe Open Kitchen.

“Tiga tipe pertama tidak dijumpai dalam Dunkin dan J.Co. Hal ini, juga menjadi pembeda Double Dipps dengan mereka. Imbasnya, jika mereka hanya bisa membuka satu counter dalam satu tempat, maka kami bisa membuka banyak counter yang meski berukuran lebih kecil, tapi lebih mendekati konsumen,” ucapnya.

Namun, Bagio mengakui bahwa bukan perkara mudah bisa bertahan sampai sekarang, dengan ratusan cabang dan kukuh dengan target masyarakat kelas menengah. Kecuali, memiliki tim yang lahir dan tumbuh bersama-sama.

Untuk itu, ia membangun hubungan yang bukan sekadar antara pimpinan dengan karyawan, melainkan juga menjadikan para karyawan tersebut bagian dari perusahaan. Sehingga, pada akhirnya tumbuh sense of belonging.

Salah satu caranya yaitu adanya jenjang karir. Tak pelak, dari semula cuma 10–15 karyawan, kini membengkak menjadi ratusan orang yang tersebar di Jakarta dan Surabaya.

“Sebagai pribadi, saya tidak membangun bisnis ini dengan tujuan finansial semata, saya tidak mau berbisnis secara instan, dan tidak membajak karyawan dari bisnis sejenis. Sebagai pimpinan, saya harus memiliki visi dan misi akan dibawa ke mana perusahaan ini. Sehingga, mereka merasa nyaman bekerja,” katanya.

Contoh, setelah mencapai umur tiga tahun, Double Dipps akan menawarkan franchise ke mancanegara. “Untuk itu, saya mendatangkan konsultan franchise yang mengajarkan kepada semua karyawan bagaimana menjadi perusahaan franchise. Dengan demikian, mereka bukan hanya bekerja, melainkan juga memperoleh ilmu,” ia menambahkan.

Namun, dengan beralih menjadi franchisor, ia melanjutkan, tidak berarti cabang-cabang yang sudah ada akan dibubarkan begitu saja. Mengingat, masa kerja sama dengan mereka berlangsung selama lima tahun.

“Setelah masa kerja sama berakhir, semuanya saya kembalikan kepada mitra apakah mereka akan beralih menjadi franchisee atau bertahan dengan sistem kemitraan, dengan syarat sistem ini masih visible,” ungkap sarjana teknik sipil dari Universitas Brawijaya, Malang, ini.

Di samping melangkah menjadi perusahaan franchise, Double Dipps yang awalnya hanya bergerak dalam bidang donat dan kopi ini, pada tahun 2010 itu juga membuka counter Double Dipps Coffee dengan konsep seperti Starbucks. Disusul Double Dipps Resto & Café pada Oktober 2011.

“Hal ini, kembali berpulang pada kejelian melihat peluang. Saya melihat banyak kafe hanyalah kafe dan resto hanyalah resto. Terlintas dalam benak saya untuk membuka resto yang dikombinasikan dengan kafe, dalam satu tempat. Sehingga, konsumen tidak perlu berpindah-pindah tempat hanya untuk bersantap,” kata pecinta kuliner ini.

Double Dipps Resto & Café yang dibuka di City Plaza, Jakarta, ini diposisikan head to head dengan Solaria namun dengan menu yang simple dan porsi meski lebih kecil, tapi dijamin tetap mengenyangkan. Imbasnya, ia mendapat sambutannya luar biasa bukan hanya dari konsumen, melainkan juga dari orang-orang yang ingin membeli lisensinya.

Rencana ke depan? “Kami ingin Double Dipps menjadi The Best Local Franchise di bidang food & beverage. Kami juga ingin bukan hanya brand internasional yang masuk ke Indonesia, tapi, suatu saat, brand lokal juga akan merambah ke luar negeri,” pungkas Bagio.

Check Also

“Dibandingkan Bisnis Pendidikan, Bisnis Makanan Dimungkinkan Menggenjot Laba Lebih Tinggi”

Susanty Widjaya (Bakmi Naga) Pengalaman adalah guru paling berharga. Hal itu, setidaknya telah dibuktikan oleh …