Home / Inovasi / Padu Padankan Etnik dengan Moderen Melalui Kemeja dan Tas

Padu Padankan Etnik dengan Moderen Melalui Kemeja dan Tas

Ti2n Collection

Ada pemikiran bahwa kain-kain tradisional Indonesia (songket, ulos, batik, dan lain-lain) hanya pantas dipakai pada momen-momen tertentu. Tapi, Titin, melalui Ti2n Collection, mematahkan pandangan itu dengan membuat dan memasarkan kemeja dari kain songket dan tas berbahan ulos. Padu padan enik dengan moderen yang menghasilkan produk fashionable itu, ditanggapi dengan bagus oleh pasar

e-preneur.co. Setelah bertahun-tahun menjadi reseller berbagai barang impor seperti pakaian dan tas, suatu ketika Tien Reihani mulai bertanya-tanya: mengapa barang impor yang ia jual? Padahal, banyak bahan baku khas Sumatra Utara yang dapat dijadikan tas dan pakaian.

Lalu, perempuan yang akrab disapa Titin itu mengikuti ajakan seorang teman untuk mengikuti pelatihan membuat pakaian, yang diselenggarakan Dinas Koperasi setempat. Di sini, tanpa disengaja ia “bertemu” dengan berbagai kain tenun, yang dalam perjalanannya menjadi bahan baku bisnisnya. 

“Walau, sebenarnya, ide memanfaatkan kain songket menjadi pakaian sudah terpikir lama. Tapi, belum sempat diaplikasikan,” tuturnya.

 Menurutnya, kain songket itu unik dan menarik. Sehingga, akan sangat bagus bila dibuat menjadi pakaian. “Karena itulah, kemudian saya berusaha membuatnya,” lanjutnya.

Dalam perjalanannya, ia membuka outlet yang dinamai Ti2n Collection di Jalan Tuasan, Medan. Ia juga meninggalkan pekerjaan berdagang barang-barang impor.

Dengan modal awal Rp500 ribu, Titin membuat 10 pakaian dalam tempo dua minggu. Saat itu, ia membuat kemeja berkerah untuk pria dengan beragam warna, yang dijualnya dengan harga Rp150 ribu–Rp200-an ribu.

Ternyata, pasar menanggapi dengan sangat bagus. Hingga, ia semakin serius menjalankan bisnisnya.

Tetap modis, tanpa perlu menghilangkan nuansa kedaerahannya

Setelah berhasil “mengubah” kain songket menjadi pakaian, lalu Titin mengembangkan sayap dengan membuat tas dari ulos. Tas-tas ini agak berbeda dengan tas-tas berbahan ulos pada umumnya, yang cenderung sederhana.

“Saya pikir, jika tas-tas impor dipadupadankan dengan ulos tentu hasilnya akan keren. Apalagi, ulos sudah gampang dijumpai di pasaran dan harganya terjangkau,” jelasnya.

Di sisi lain, tas ulos buatannya membuat bisnisnya berbeda dengan pesaing. Sebab, selain kualitasnya, baik unsur etnis maupun moderen masih kelihatan pada produknya.

“Ketika saya memperkenalkan tas ulos ini, ternyata banyak yang suka. Sehingga, tidak merasa ‘malu’ menggunakan produk-produk etnik, yang selama ini terkesan hanya untuk momen-momen tertentu. Dengan memakai tas ulos ini, baik di acara formal, kondangan, maupun arisan masih kelihatan fashionable,” ungkapnya.

Namun, Titin belum berhenti sampai di situ. Kali itu, ia membuat produk berbahan Batik Medan. “Karena, pada dasarnya, semua yang berbau etnik bisa tetap modis, tanpa menghilangkan nuansa kedaerahannya,” lanjutnya.

Dalam pemasarannya, ia memanfaatkan outlet-outlet di lokasi wisata Istana Maimun, di samping rajin mengikuti berbagai pameran. “Saya juga memasarkannya by online agar konsumen di luar Medan bisa melihat produk-produk saya dan memesannya,” kata Titin, yang dalam sebulan rata-rata 30 tas dan pakaian hasil karyanya laku terjual. Sementara pelanggannya, sudah merambah ke Jakarta.

Namun, bukan berarti bahwa usaha yang dijalankan Titin ini tanpa halangan. Ketersediaan bahan baku (kain songket) menjadi kendala satu-satunya. Dalam sebulan, ia membutuhkan 200 lembar kain songket. Sementara pasokan hanya 50%-nya.

Saking sulitnya memperoleh kain songket, ia kerap tidak mampu memenuhi pesanan. Untuk itu, ia terus berusaha mencari supplier kain songket.

Di luar itu, Titin sudah bisa merasakan nikmatnya menjadi pebisnis dengan produk hasil karyanya sendiri. Bukan hanya soal keuntungan yang diperoleh, melainkan juga kepuasan pribadi lantaran ada unsur edukasi dalam produknya.

 “Kalau dulu menjual barang-barang impor, kesannya murni sebagai pedagang yang ingin barangnya laku. Kini, selain sebagai pedagang, juga merasa sebagai bagian dari mereka yang turut melestarikan budaya sendiri. Bahkan, sekarang, saya berencana mengekspor produk-produk saya,” pungkasnya.

Check Also

Bukan Sekadar Rekam Jejak Sebuah Perjalanan Cinta

Animasi Wedding Lebih hemat biaya dan waktu, serta tingkat kemiripan wajah dengan aslinya mencapai 85%. …