Home / Profil / Kisah Sukses / “Ada Kekuatan Lain yang Jauh Lebih Kuat yaitu Kekuatan Tuhan”

“Ada Kekuatan Lain yang Jauh Lebih Kuat yaitu Kekuatan Tuhan”

Gideon Hartono (Pendiri Apotek K-24 dan Direktur Utama PT K-24 Indonesia)

Kadangkala, manusia merasa mampu mengandalkan kekuatannya sendiri. Sampai, dengan cara tertentu, Tuhan menegurnya. Itu, yang pernah dialami Gideon dan menyadarkannya bahwa masih ada kekuatan lain yang jauh lebih kuat daripada kekuatan manusia yaitu kekuatan Tuhan. Sejak itu, ia berusaha selalu “melangkah” sesuai dengan rencana Tuhan. Termasuk, dalam mendirikan dan mengembangkan Apotek K-24

e-preneur.co. Ketika duduk di bangku kelas 1 SMA (Sekolah Menengah Atas), Gideon Hartono terkena penyakit gondongan. Hingga, ia tidak bisa makan, sulit berbicara, dan badan meriang.

Dokter yang didatanginya, mampu membuatnya terbebas dari segala penderitaan tersebut hanya dengan sekali suntikan. “Ketika itu, terpikir betapa mulianya tugas seorang dokter. Karena, ia mampu menghilangkan penderitaan (yang ditimbulkan oleh penyakit) semua orang dan membuat mereka bahagia lagi,” Gideon mengisahkan.

Pengalaman itu begitu berkesan baginya. Hingga, seketika ia bercita-cita menjadi dokter.

Hal itu, tidak muskil diwujudkan lulusan SMA Collese De Britto, Yogyakarta, dengan rangking 1 ini. Sebab, dengan ranking itu, ia berhak masuk perguruan tinggi negeri melalui Jalur Khusus, yang sekarang dikenal dengan nama Jalur Undangan.

Namun, di tengah jalan, minat penggemar fisika ini bercabang. Karena, pria yang bersama kedua teman SMA-nya pernah membuat buku soal-soal fisika dengan judul The Green Book of Physics Problems ini, juga tertarik masuk ke Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (F-MIPA).

Manusia berencana Tuhan menentukan. Karena satu dan lain hal, ia gagal masuk ke Fakultas Kedokteran (FK) yang merupakan satu-satunya fakultas yang ia pilih.

Padahal, sebagai siswa di jurusan paspal (sekarang: IPA, red.), ia berhak memilih tiga fakultas yang berbeda. Dengan demikian, F-MIPA yang juga diminati tapi tidak pernah dipilihnya, lepas pula dari genggaman.

“Setelah kejadian itu, saya merasa seperti diperingatkan agar jangan hanya mengandalkan kekuatan sendiri. Masih ada kekuatan lain yang jauh lebih kuat yaitu kekuatan Tuhan,” tuturnya.

Untuk mengisi waktu yang ada, sebelum mendaftar kembali di tahun berikutnya, anak kelima dari tujuh bersaudara ini kuliah di PAT (Pendidikan Ahli Teknik, milik Fakultas Teknik-Universitas Gajah Mada/UGM, red.). “Soalnya, masih berhubungan dengan fisika,” lanjutnya, sambil tersenyum.

Tahun 1983, ia mendaftar kembali dan diterima di FK-UGM. Setahun setelah meraih gelar sarjana kedokteran (tahun 1990), ia harus mengikuti peraturan pemerintah yang berlaku saat itu yaitu menjadi pegawai negeri sipil (PNS) di bawah Departemen Kesehatan RI (sekarang: Kementerian Kesehatan, red.).

Hal ini, wajar saja kalau Gideon adalah pribumi asli. “Saya merasa beruntung. Padahal, saat itu zaman Orde Baru loh,” ucap lelaki, yang nenek buyutnya baik dari pihak Ibu maupun Ayahnya berdarah Jawa asli.

Tapi, keberuntungannya ternyata hanya berhenti sampai di situ. Meski memperoleh dukungan penuh dari orang-orang di sekitarnya, mantan Kepala Puskesmas (Pusat Kesehatan Masyarakat) Umbulharjo I, Yogyakarta, ini gagal mengambil program dokter spesialis. Lantaran, darah Cina yang mengalir di tubuhnya.

Hiduplah sesuai amanah Tuhan

Namun, kelahiran Yogyakarta, 10 Oktober 1963 ini tidak mau berlama-lama tenggelam dalam kekecewaan. Mengingat tidak pernah membuka praktik dokter di rumah dan hanya mengandalkan gaji sebagai dokter di Puskesmas Gondokusuman II, Yogyakarta, ia segera mewujudkan plan B yaitu membuka usaha fotografi yang lebih moderen.

Sekadar informasi, saat masih duduk di bangku kelas 2 SMP (Sekolah Menengah Pertama), Gideon dan adik bungsunya pernah membangun bisnis studio foto secara apa adanya di garasi rumah mereka. Bisnis yang dinamai Agatha Photo ini, kemudian dikembangkannya menjadi lebih moderen sekaligus sebagai ladang nafkah sampingannya.

“Dari SMP, saya sudah menyukai dan menekuni dunia fotografi. Saya memiliki 30 piala dan medali sebagai hasil berbagai lomba foto yang saya ikuti, baik di tingkat regional maupun nasional. Hadiah memenangkan lomba-lomba foto dan utang ke Paman saya itulah, modal saya membangun Agatha Photo,” ungkap pria, yang masih menyimpan obsesi sebagai dokter spesialis mata ini.

Dalam perkembangannya, ia membangun Agatha Video bersama Inge Santoso, dokter gigi yang kemudian menjadi istrinya. “Saya menjadikan Agatha Photo sebagai bisnis keluarga, yang lalu saya serahkan kepemilikannya kepada orang tua dan adik bungsu saya. Sedangkan Agatha Video, sepenuhnya bisnis saya dengan (waktu itu) calon istri saya. Kini, keduanya berkembang sama bagusnya. Bahkan, Agatha Video sudah memiliki cabang di Semarang,” tambahnya.

Untuk menambah lagi keuangan keluarganya, Bapak dua putra ini juga melirik bisnis apotek yang beroperasi 24 jam. Tapi, harga obat-obatan yang dijual sama dengan apotek “biasa”.

“Saya ingat, dulu, sulit sekali mencari obat di apotek pada tengah malam buta. Kalau pun ada apotek yang beroperasi 24 jam, maka harga obat-obatan yang dijual jauh lebih mahal,” kata Gideon, yang karena kesibukannya sebagai entrepreneur, akhirnya mengundurkan diri sebagai PNS.

Melalui bisnis apotek yang dinamainya Apotek K-24, ia ingin menularkan harmoni di tengah kemajemukan bangsa. “Apotek merupakan wahana bertemunya orang-orang dari berbagai latar belakang. Hal ini, juga terlihat dari logo Apotek K-24 yang didominasi warna hijau sebagai penggambaran Islam yang merupakan agama yang dianut sebagian besar rakyat Indonesia. Merah berarti Nasrani yaitu agama kedua terbanyak penganutnya di negara ini. Kuning untuk menggambarkan Cina sebagai etnis yang mendominasi perekonomian negara. Sedangkan putih merupakan pihak-pihak lain di luar itu yaitu Hindu, Budha, dan etnis-etnis lain di Indonesia,” jelas pendiri Apotek K-24 ini.

Apotek K-24 dibuka untuk pertama kalinya di Jalan Magelang, Yogyakarta, pada 24 Oktober 2002. Apotek K-24 merupakan singkatan dari Apotek Komplet 24 jam, yang memberikan lima jaminan pasti yaitu komplet 24 jam, pagi-siang-malam-libur harga sama, hanya menjual obat asli, layanan konsultasi apoteker gratis, dan layanan antar.

Tahun 2005, apotek ini diwaralabakan dan membuka cabang di Semarang, Jawa Tengah. Kini, Apotek K-24 telah memiliki 450 gerai (dan akan terus bertambah jumlahnya) yang tersebar di 115 kota/kabupaten dan 24 provinsi di Indonesia.

Sementara itu, di luar bisnisnya, atas usulan sekelompok masyarakat, Gideon pernah mengikuti Pilkada (Pemilihan Kepala Daerah) sebagai Wakil Walikota Yogyakarta dan gagal. “Apakah saya akan mencobanya lagi nanti? Bagaimana rencana Tuhan sajalah,” pungkas Direktur Utama PT K-24 Indonesia ini. Ya, hidup manusia memang bagian dari rencana Tuhan.

Check Also

“Dibandingkan Bisnis Pendidikan, Bisnis Makanan Dimungkinkan Menggenjot Laba Lebih Tinggi”

Susanty Widjaya (Bakmi Naga) Pengalaman adalah guru paling berharga. Hal itu, setidaknya telah dibuktikan oleh …