Home / Agro Bisnis / Nilai Ekonominya Cukup Tinggi

Nilai Ekonominya Cukup Tinggi

Gladiol

Gladiol lebih banyak dibudidayakan untuk tujuan komersial. Karena, bunga potong ini selain cantik, juga dapat dipakai sebagai sarana dalam berbagai acara atau upacara. Tidak mengherankan, jika dikatakan nilai ekonominya cukup tinggi

e-preneur.co. Gladiol adalah tanaman hias bunga yang berasal dari Afrika Selatan. Lalu, menyebar ke Asia lebih dari 2.000 tahun lampau. Pada tahun 1730, tanaman semusim ini memasuki Daratan Eropa dan selanjutnya berkembang biak di Belanda.

Gladiol berasal dari kata dalam Bahasa Latin “gladius”, yang berarti pedang kecil. Mengingat, tanaman berbentuk herba (tidak berkayu, red.) ini mempunyai bentuk daun seperti pedang kecil.

Tanaman yang termasuk dalam family Iridaceae ini dapat tumbuh dengan baik pada tanah dengan pH 5,8‒6,5 dan dalam suhu 10°C‒25°C. Selain itu, gladiol sangat toleran dengan berbagai struktur tanah, dari tanah yang ringan berpasir dengan bahan organik rendah sampai tanah yang berat berlempung atau liat.

Sementara untuk perbanyakan dapat dilakukan baik secara vegetatif, generatif, maupun kultur jaringan. Tapi, umumnya, pembibitan secara vegetatif dan kultur jaringan lebih cepat dipanen ketimbang perbanyakan dengan cara generatif.

Untuk perbanyakan, bibit yang digunakan harus memenuhi syarat-syarat tertentu. Untuk perbanyakan dengan cara generatif harus menggunakan bibit yang berasal dari induk, yang mempunyai pertumbuhan baik dan sudah cukup umur.

Sementara untuk perbanyakan secara vegetatif, dilakukan dengan menggunakan umbi yang diambil dari gladiol yang sudah dipanen. Sedangkan perbanyakan dengan kultur jaringan, biasanya dilakukan untuk menanggulangi kendala-kendala dalam perbanyakan vegetatif dan generatif.

Dalam penanamannya, usahakan tidak di lahan yang bekas dipakai untuk menanam gladiol atau keluarga dekatnya, seperti iris, ixia, freesia, dan monbretia. Tapi, kalau tetap mau menggunakan lahan tersebut, sebaiknya istirahatkan dulu lahan itu selama setahun. Di Australia dan New Zelaland, lahan bekas penanaman gladiol diistirahatkan sampai tiga tahun sebelum ditanami kembali.

Sama dengan tanaman-tanaman lain, gladiol yang di Indonesia dapat ditanam baik pada musim hujan maupun kemarau memiliki hama dan penyakit. Hama seperti Thrips Gladiol menyerang daun dan bunga gladiol, Kutu Putih menyerang umbi gladiol, dan Ulat Pemakan Daun dapat dibasmi dengan insektisida.

Dapat dibudidayakan dengan cara vegetatif, generatif, maupun kultur jaringan

Sedangkan untuk penyakit di antaranya Layu Fusarium menyerang daun gladiol, serta Busuk Kering dan Busuk Keras menyerang bunga gladiol. Untuk mengatasi penyakit-penyakit yang berasal dari cendawan itu yakni dengan tidak menyimpan umbi di tempat yang lembab dan merendamnya dalam larutan fungsida sebelum ditanam.  

Budidaya gladiol dapat diatur sedemikian rupa. Sehingga, pemanenan dapat dilakukan setiap minggu. Untuk lahan seluas 1 ha dapat dihasilkan kurang lebih 200.000 potong bunga.

Tanaman gladiol akan berbunga sekitar 60‒90 hari setelah tanam. Panen bunga dapat dilakukan setelah kuntum pertama dan kuntum kedua bunga terbawah sudah menunjukkan warnanya, tapi belum mekar. Bila panen dilakukan setelah mekar, bunga gladiol akan mudah rusak pada saat pengangkutan. Sebaliknya, bila bunga dipanen terlalu awal, maka bunga tidak dapat mekar sempurna.

Gladiol tergolong bunga yang mudah kehilangan air. Maka, sebaiknya panen dilakukan pada pagi hari. Selain itu, jangan lakukan pemanenan saat bunga dalam kondisi basah oleh embun, hujan, atau sebab lain. Sebab, bunga yang basah mudah terserang cendawan Botrytis Gladiolorum.

Berdasarkan hasil penelitian tahun 1988, Indonesia mengenal 20 varietas gladiol dari Belanda yang kemudian diuji multi lokasi di kebun percobaan Sub Balai Penelitian Hortikultura Cipanas. Tiga varietas di antaranya memiliki penampilan yang paling indah (warna dan bentuknya berbeda dengan gladiol lama) yaitu White Godness (putih), Tradehorn (merah jingga), dan Priscilla (putih). Sementara Badan Litbang Pertanian melalui Balai Penelitian Tanaman Hias (Balithi), telah menghasilkan empat varietas gladiol yaitu Dayang Sumbi, Kaifa, Clara, dan Nabila.

Bunga yang bisa tumbuh di ketinggian 600‒1400 m dpl ini, mempunyai nilai ekonomis cukup baik. Sebab, gladiol yang diproduksi sebagai bunga potong selain mempunyai nilai estetika, juga dapat digunakan sebagai sarana dalam upacara tradisional, keagamaan, kenegaraan, dan berbagai ritual lainnya.

Di Indonesia, sentra produksi bunga gladiol terdapat di Jawa Barat (Parongpong/Bandung, Salabintana/Sukabumi, dan Cipanas/Cianjur), Jawa tengah (Bandungan/Semarang), dan Jawa Timur (Batu/Malang).

Check Also

Menyehatkan Konsumennya, Menguntungkan Petaninya

Beras Hitam Organik Meski buruk rupa, tapi kaya manfaat kesehatan. Tidak mengherankan, bila peminat Beras …