Home / Kiat / Harus Ada Diferensiasinya

Harus Ada Diferensiasinya

Mie Ayam Grobakan

Jika sebuah usaha baru di bidang mie ayam muncul dan tidak ada diferensiasinya, maka itu sekadar usaha mie ayam. Wahyu tidak ingin Mie Ayam Grobakan-nya seperti itu dan ia ingin usahanya terus ada. Maka, ia menjadikan mie buatannya sebagai pembeda dan keunggulan. Hasinya, ia memiliki ratusan mitra dan membukukan omset puluhan juta rupiah setiap bulannya

e-preneur.co. Fakta menunjukkan, meski penjual mie ayam sangat banyak, tapi semuanya laku. Kondisi ini, menginspirasi penggila mie ayam seperti Wahyu Indra, untuk membangun usaha yang berhubungan dengan mie ayam.

Padahal, Wahyu dan sang istri, sama sekali buta dengan dunia mie ayam baik itu cara membuat mie, topping, dan sebagainya. “Akhirnya, kami melakukan riset, trial & error, mencari informasi ke sana kemari, dan lain-lain selama setahun,” kisah Wahyu.

Kebetulan Wahyu juga suka melakukan riset pasar tentang mie ayam. Misalnya, mie ayam yang enak itu yang bagaimana, bentuknya bagaimana, harganya berapa, topping-nya apa saja, harga mesin untuk membuatnya berapa, market-nya siapa, dan sebagainya.

“Sehingga, nantinya, kami mempunyai diferensiasi. Sebab, kalau tidak mempunyai diferensiasi yang terjadi justru nothing,” lanjut kelahiran Jakarta, 3 Mei 1972 ini.

Kemudian, ia membeli mesin untuk membuat mie. “Banyak yang meremehkan usaha saya, dengan mengatakan baru akan membangun usaha mie ayam saja kok sudah membeli mesin,” tuturnya.

Namun, ia berpikir kalau tidak menggunakan mesin, produksi tidak akan terpenuhi. Selanjutnya, ia membagi-bagikan mie buatannya ke para tetangga dan mengundang para koki untuk icip-icip.

Dalam dunia mie ayam, ia menambahkan, sebenarnya, market-nya sudah jelas. “Karena itu, jika tidak ada diferensiasi, maka mie ayam kami akan sama dengan berbagai mie ayam yang sudah lebih dulu ada,” ujarnya.

Diferensiasi itu, ia letakkan pada mie yang dibuatnya sendiri. Mie yang dimaksud memiliki bentuk kecil-kecil dan teksturnya tidak berubah meski sudah dalam kondisi dingin, rasanya gurih, tidak menggunakan bahan kimia sama sekali, tanpa air, dan full telur.

Berikutnya, pada hari kedua Ramadhan 2008, Wahyu pun membuka usahanya yang diberi nama “Mie Ayam Grobakan”. “Bagi saya, masalah pembukaan ini penting sekali. Karena, jika sudah menancap di kepala konsumen, pasti usaha ini long lasting,” kata sarjana periklanan dari Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Jakarta, ini.

Ia juga membuat brosur dan menyebarkannya ke mana-mana. Hal itu, sampai sekarang, masih ia lakukan setiap tiga bulan sekali.

Namun, ada satu hal yang ia lupakan saat membuka usahanya yakni bahwa saat Ramadhan banyak tempat makan yang tutup. Sehingga, Mie Ayam Grobakan bukan hanya laku, melainkan diserbu pembeli.

Hingga, persediaan mie untuk satu minggu habis hanya dalam tempo satu hari. “Dan, kami pun keteteran,” ujarnya.

Masalah, kalau boleh dibilang begitu, berikutnya yang harus ia hadapi yaitu saat itu masih bekerja di sebuah production house (PH). Sehingga, ia belum fokus di usaha ini. Imbasnya, Mie Ayam Grobakan sempat berhenti dan Wahyu cuma terus-menerus menyuntikkan modal.

Mie-nya berbentuk kecil-kecil dan teksturnya tidak berubah meski sudah dalam kondisi dingin, rasanya gurih, tidak menggunakan bahan kimia sama sekali, tanpa air, dan full telur

Bukan hanya itu, antara tahun 2009 hingga pertengahan tahun 2010, karena kurang pengawasan, terjadi kebocoran dalam keuangan. Tapi, ternyata, dari sini muncul ilmu baru yaitu bagi hasil dengan karyawan.

Sumber Daya Manusia (SDM), menurut Wahyu, faktor yang menyebalkan tapi dibutuhkan. Contoh, para koki pindah ke tempat lain tentu karena menginginkan gaji yang lebih tinggi. Padahal, kenaikan gaji itu signifikan dengan gaji sebelumnya. Selain itu, kalau ada bos, mereka bekerja dengan baik. Sebaliknya, jika bos sedang tidak ada di tempat, mereka bekerja seenaknya.

Ia juga mulai mengamati para kokinya, yang hidup terpisah dengan anak dan istrinya. Ketika mereka pulang kampung, maka usaha yang ia jalankan pun keteteran. Akhirnya, ia meminta para istri dan anak kokinya untuk tinggal di outlet. Sehingga, bisa terus berkumpul dan tidak perlu mengeluarkan uang sewa.

“Kemudian, kami bagi hasil di mana 40% hak saya dan 60% hak mereka. Dengan demikian, mereka bukan sekadar karyawan saya, melainkan juga pemilik Mie Ayam Grobakan. Sementara, untuk para karyawan yang telah bekerja selama lima tahun, saya buatkan Mie Ayam Grobakan sendiri,” ungkapnya.

Dalam perjalanannya, Wahyu memutuskan resign dengan alasan stamina sudah tidak kuat lagi mengikuti ritme kerja di PH, Selanjutnya, ia fokus di usahanya. Hasilnya, omset kembali normal. Sebulan, Mie Ayam Grobakan bisa membukukan Rp6 juta.

Namun, akhirnya, ia menyadari jika omset sebesar itu tidak mencukupi lagi untuk biaya hidup. Ia berpikir untuk membuka cabang. Tapi, ketika menyadari risikonya, ia mempertimbangkan beberapa alternatif.

Pertama, menjual mie-nya saja ke pasaran. “Tapi, harga mie ini lebih mahal ketimbang mie yang lain. Bisa jadi, nantinya cuma ‘dilalerin’,” ucap pria, yang membuka usahanya di pinggir Jalan Merpati 6, Perumnas Depok I ini.

Kedua, memitrakan usahanya. Dan, pada tahun 2010, Mie Ayam Grobagan pun menawatkan kemitraan dengan harga Rp8,5 juta. Karena, modal awal membuka usaha ini hanya Rp27 juta.

 “Kalau saya mahalkan, kasihan mitra saya. Modal mereka lama kembalinya. Selain itu, kepada calon mitra yang datang, selalu saya informasikan yang serba jelek di usaha ini. Agar, mereka aware jika usaha ini tidak gampang. Sekali pun, bagi sebagian mitra, nilai kemitraan ini dianggap kecil,” ucapnya.

Dari hasil riset, dengan perhitungan sewa tempat dan besarnya penjualan, akan diketahui kapan balik modalnya. Seperti, penjualan 25 porsi maka akan balik modal empat bulan, 50 porsi (dua bulan), 75 porsi (sebulan), dan pada penjualan 100 porsi maka 25 hari sudah balik modal.

Di samping itu, dalam usaha yang dapat dijalankan tanpa pegawai ini tidak dibebankan royalty fee. Mitra justru akan mendapat supporting melalui gathering yang diadakan setiap tahun.

Imbasnya, dalam tempo tiga tahun, Mie Ayam Grobakan telah memiliki 252 mitra yang tersebar di Aceh, Makassar, Bali, Lombok, dan Jabodetabek. Namun, tidak berarti kemitraan ini berjalan dengan mulus. Sebab, ada yang terus buka, ada juga yang kemudian tutup, tapi kemudian buka lagi di lokasi yang lain. Sehingga, total hanya 60% mitra yang aktif.

Ketiga, menyediakan fasilitas pesan‒antar. Ide ini, muncul saat Ramadhan 2010 di mana Mie Ayam Grobakan membuka outlet-nya pada jam 16.00 hingga 04.00.

Outlet kami memang tidak bagus. Meski, sudah kami pasangi wi-fi, konsumen tetap tertarik untuk datang. Ternyata, mereka lebih menyukai konsep pesan‒antar. Dalam perjalanannya, 95% pasar kami ada di pesan‒antar. Untuk itu, kami tidak membebankan minimum order dan tanpa fee, tapi hanya untuk radius 2 km,” jelasnya.

Rencana ke depan? “Let it flow sajalah. Tapi, saya lebih suka menambah varian menu daripada mengembangkan diri. Misalnya, dengan membuat mie goreng Grobakan,” ucap Wahyu, yang di awal usahanya membukukan omset rata-rata Rp25 juta per bulan.

Sebab, ia melanjutkan, di tengah ramainya bisnis mie, serbuan mie dari luar negeri seperti ramen, bulgogi, dan sebagainya membuat seolah-olah Indonesia tidak mempunyai mie sendiri. Karena itu, ia memunculkan mie goreng Grobakan pada Ramadhan 2014 lalu.

“Saya ingin menunjukkan kalau Indonesia mempunyai mie yang 100% berbahan mie dari seluruh Nusantara. Di sisi lain, berbeda dengan mie ayam yang jika harganya naik sedikit saja sudah dapat membuat konsumen kelimpungan, mie goreng dengan harga berapa pun bisa diterima konsumen,” pungkasnya.

Indra berbagi tips untuk usahanya:

  1. Harus dijalani dengan fokus.
  2. Dalam mencari mitra harus jujur, apa adanya.
  3. Dari sisi produk harus yang terbaik dari yang paling baik.
  4. Setiap tahun, harus mengeluarkan sesuatu yang baru. Dalam arti, menambah varian menu.

Check Also

“Naik Kelas” dengan Mengganti Gerobak Dorong dengan Outlet Permanen Berkonsep Restoran

Bakmi Gila Usaha kakilima banyak diminati para pelaku usaha. Selain itu, konsep PKL mempunyai potensi …