Home / Profil / Kisah Sukses / “Bisnis Hortikultura adalah Bisnis yang Tahan Krisis”

“Bisnis Hortikultura adalah Bisnis yang Tahan Krisis”

T. Hadinata (PT Saung Mirwan)

Bisnis hortikultura, boleh dibilang, adalah bisnis yang tahan krisis, Sepanjang bisnis ini tidak memiliki utang di bank. Namun, bila pada akhirnya juga terkena krisis, maka harus membuat berbagai planning. Selain itu, selalulah mendekat pada bisnis makanan yang dikenal sebagai bisnis yang tahan banting. Dan, itulah yang dilakukan oleh Saung Mirwan hingga lolos dari krismon 1, krismon 2, dan kenaikan BBM

e-preneur.co. Saung Mirwan merupakan perusahaan yang bergerak di bidang hortikultura yaitu sayuran dan tanaman hias (bunga potong, red.). Sedangkan main business-nya yakni menjual stek Bunga Krisan ke Jepang.

Berdiri pada tahun 1984, dengan modal awal Rp600 juta. Kehadiran Saung Mirwan, bermula dari hobi T. Hadinata dalam bertanam sayuran.

“Awalnya, Saung Mirwan hanya sebuah kegiatan yang saya lakukan di belakang rumah. Kala itu, anak-anak saya masih kecil dan saya ingin selalu berada di samping mereka. Mengingat, istri saya seorang wanita karir,” tutur pemilik dan direktur PT Saung Mirwan itu.

Menurutnya, kalau mereka berdua bekerja di luar rumah, maka anak-anak tidak ada yang menjaga. “Jadi, kami sepakat: istri saya bekerja di luar rumah, sedangkan saya di rumah saja sambil mengurus kebun kami, yang ketika itu cuma seluas 1 ha dengan lima atau enam jenis sayuran,” lanjutnya.

Namun, kemudian, muncul pertimbangan bisnis ketika merasa Saung Mirwan sebagai leader dalam kualitas produk dan produk itu banyak dicari orang. “Akhirnya, kami jadikanlah bisnis,” tambah Theo, sapaan akrabnya.

Informasi tentang bagusnya kualitas produk Saung Mirwan sampai ke telinga Soeharto. Imbasnya, pada tahun 1991, Presiden Republik Indonesia kedua tersebut mengunjungi Saung Mirwan. Hal ini, di-blow up media.

Kondisi itu, “memaksa” Saung Mirwan dari perusahaan yang berbasis hobi berubah menjadi perusahaan profesional, dengan embel-embel perseroan terbatas. Bukan hanya itu, lahan Saung Mirwan pun berkembang menjadi 9 ha di mana 4 ha di antaranya digunakan sebagai greenhouse untuk menanam pohon indukan krisan, kantor pusat, dan ruang pengemasan untuk Fresh Cuts (produk sayuran potong, red.). Selain itu, juga memiliki kebun plasma di Garut, Lembang, Cipanas, dan Lemah Neundeut.

Kurangi pinjaman sebanyak-banyaknya dan gantilah dengan fresh money dari investor

“Sementara saya, yang pada mulanya cuma pemilik dan direktur perkebunan merangkap petaninya, maka sejak tahun 1996 hingga sekarang, dengan hasil perkebunan berlipat-lipat, omset yang terus membubung, dan karyawan yang makin lama makin banyak, hanya duduk-duduk di ruang kerja atau tiga hari sekali kontrol ke lapangan,” kisahnya. Saat itu, Saung Mirwan mampu membukukan omset mencapai Rp20 milyar per tahun.

Tahun 1998, terjadi krisis moneter (krismon). Imbasnya, banyak perusahaan yang gulung tikar. Namun, Saung Mirwan justru asyik mengeskpor produknya.

“Seharusnya, kita memang mengekspor. Karena, saat itu, dolar sangat mahal dan siapa sih orangnya yang tidak tergiur dengan dolar yang sedang mahal-mahalnya,” ujarnya.

Namun, ia melanjutkan, kita tidak bisa semata-mata mengekspor. Dalam arti, hari ini tidak mengekspor, besok mengekspor. Sementara barangnya, belum kualitas ekspor (exportable). Kalau itu yang terjadi, akan percuma. Krismon menjadi tidak ada gunanya. “Berbeda dengan Saung Mirwan, yang sejak awal produknya sudah berkualitas ekspor,” ucapnya.

Tapi, ia menambahkan, Saung Mirwan tidak berorientasi ekspor hanya ketika dolar sedang naik. Sebab, orientasi bisnis harus cepat-cepat diubah.

“Lantaran, import contain kami kecil, maka ketika dolar naik, efeknya tidak sedahsyat yang dialami bisnis-bisnis lain. Mereka yang bahan bakunya dari luar negeri pasti bisnisnya akan bubar. Atau, yang negara tujuannya luar negeri juga akan bubar,” ucapnya.

Namun, tidak berarti Saung Mirwan tidak goyah sama sekali. Krismon kedua (tahun 2008), membuat perusahaan yang berlokasi di Desa Sukamanah, Megamendung, Bogor, ini berkurang profit-nya. Di samping itu, karena bank tidak mau menguncurkan pinjaman, maka bunga bank menjadi tinggi.

Tapi, Theo sama sekali tidak pernah berpikir untuk pindah ke bisnis lain. Ia hanya menurunkan pengiriman kapasitas Bunga Krisan. Atau, mengalihkan dari produk yang tidak terlalu banyak dikejar ke produk yang banyak dikejar

“Saung Mirwan meningkatkan atau melakukan diversifikasi penjualan sayuran yaitu dari semula menjual dalam kondisi whole, kemudian dalam bentuk fresh cuts,” jelasnya.

Justru, ia melanjutkan, dalam kondisi seperti itu, kita harus kreatif. Sebab, jika hanya menunggu sampai ekonomi pulih, maka kita akan terlambat.

Dibandingkan dengan krismon, kenaikan BBM (Bahan Bakar Minyak), justru lebih menggoyahkan perusahaan ini. Mengingat, kapasitas listrik yang digunakan Saung Mirwan sangat besar yakni sebesar 400 kva (genset).

Untuk mengatasinya, Saung Mirwan menggantinya dengan lampu hemat energi (18 watt). Untuk itu, Saung Mirwan mengeluarkan dana Rp100 juta. Tapi, dana itu tertutupi dalam tempo 2‒3 bulan.

“Meski, banyak lampu kami yang berkapasitas 100 watt tidak terpakai. Selain itu, pencurian lampu menjadi meningkat,” ujarnya.

Untuk kenaikan suku bunga, Saung Mirwan berencana mengundang investor. “Jika nanti Saung Mirwan goyah lagi, kami tidak akan meminjam dana ke pihak mana pun, melainkan mengundang investor dalam negeri,” pungkasnya.

Catatan

T. Hadinata memberi tip, bagaimana menghadapi krisis moneter pada khususnya dan krisis ekonomi pada umumnya:

  1. Stay

Jangan pindah ke bisnis lain. Diversifikasi boleh saja, tapi jangan keluar dari line. Misalnya, diversifikasi produk, diversifikasi pelanggan.

  1. Stay

Lakukan berbagai inovasi. Atau, bertahan di tempat yang sama dengan sedikit perubahan di sana-sini. Misalnya, dari whole menjadi fresh cuts, dari supermarket ke hotel/catering service

  1. Sebaiknya, kurangi pinjaman sebanyak-banyaknya dari bank dan gantilah dengan fresh money dari investor.
  2. Bisnis lain yang juga tahan banting yakni bisnis makanan. Jadi, juallah sayuran ke berbagai tempat makan. Meski kecil kapasitasnya, tapi besar omsetnya.

Check Also

Sukses Membangun Kerajaan Bisnis dengan Telaten Merangkai Jaringan

Onny Hendro Adhiaksono (PT Trimatra Group) Dalam bisnis, selain modal, jaringan dan skill mempunyai peran …