Home / Kiat / Ubah Tampilan Kemasan untuk Ancang-ancang Tembus Pasar Internasional

Ubah Tampilan Kemasan untuk Ancang-ancang Tembus Pasar Internasional

Bandrek Latam

Mengembalikan bandrek ke resep aslinya dan mengemasnya dalam sachet, bukan sekadar inovasi produk yang dilakukan Budhi. Ia juga ingin menjadikannya jalan untuk menembus pasar internasional. Karena itu, bandrek lada hitam yang dilabeli Latam pun hanya dapat dijumpai melalui reseller dan agen

e-preneur.co. Bandrek merupakan salah satu minuman khas Masyarakat Sunda. Biasanya, minuman ini dihidangkan ketika cuaca sedang dingin. Sebab, mampu menghangatkan tubuh.

Sementara bagi mereka yang percaya, bandrek juga bisa digunakan untuk meringankan sakit tenggorokan. Bahkan, beberapa daerah memodifikasi racikannya agar khasiatnya semakin bertambah, seperti meringankan gejala flu dan mengembalikan stamina tubuh,

Ya, dalam perjalanannya, bandrek tidak hanya milik Masyarakat Sunda. Begitu berkhasiatnya minuman berbahan dasar jahe dan gula merah ini, hingga dapat dijumpai hampir di seluruh Indonesia.

Bukan hanya itu, minuman tradisional ini juga sudah tersedia dalam bentuk siap seduh. Dengan kondisi instan tersebut, bandrek ini dapat dicampuri kopi atau susu. Sehingga, juga aman diminum oleh anak-anak.

Adalah Budhi Hendarto, salah satu pelaku usaha pembuatan bandrek instan. Dalam membuat bandrek, ia mengganti bahan dasar bandrek yaitu jahe dengan lada hitam.

Menurutnya, ia terinspirasi oleh resep membuat bandrek yang dilakukan Masyarakat Sunda zaman dulu. Di sisi lain, lada hitam memberi efek lebih panas ketimbang jahe. 

“Dulu, sebenarnya, resep asli Sunda kuno dalam membuat bandrek menggunakan lada hitam. Tapi, karena harganya mahal dan tidak semua pembuat bandrek mampu membelinya, maka diganti jahe hingga sekarang. Saya mencoba mengangkat kembali resep kuno tersebut dan membuatnya dalam bentuk instan agar lebih praktis,” jelasnya.

Namun, lantaran lada hitam memiliki rasa yang pedas, bahkan bagi orang dewasa, maka anak-anak tidak bisa ikut meminumnya. Padahal, Budhi berharap khasiat bandrek juga dapat dirasakan oleh semua orang.

Akhirnya, ia membuat versi yang “kalem” untuk anak-anak dan mereka yang tidak begitu menyukai pedasnya lada hitam. “Racikan bandrek lada hitam tanpa campuran cocok untuk generasi tua yang pada umumnya suka pedas dan hangatnya ekstra. Sedangkan untuk generasi muda yang tidak tahan dengan efek panasnya, saya membuatkan yang sudah dicampuri susu. Sehingga, hangatnya sedang,” paparnya.

Dibutuhkan sedikit penjelasan tentang produk ini. Dan, itu tugas tambahan para reseller dan agen tunggal

Latam, begitu ia menamai bandrek instan buatannya, dikemas dalam bentuk sachet. Selain agar lebih praktis, juga lebih mudah dalam penyajiannya yakni satu sachet untuk satu gelas.

 Kepraktisan itulah yang menjadi target utama Budhi. Sebab, ia mempunyai misi khusus yaitu memperkenalkan bandrek ke kancah internasional. Menurutnya, jika minuman tradisional sudah dibuat dengan kompisisi dan takaran yang pas atau sesuai dengan standar pangan internasional, serta dikemas dalam kantong yang higienis dan menarik, tentu minuman masyarakat kelas bawah ini dapat diterima oleh kalangan atas.

“Saya mencoba mengorganisasikan usaha produksi bandrek ini agar dapat menembus pasar mancanegara. Sebab, saya ingin menduniakan minuman tradisional Indonesia. Tapi, untuk mencapai target itu, saya tidak ingin menggunakan sistem tembak langsung. Saya ingin melakukannya pelan-pelan dan merintis dari bawah,” ungkapnya.

Kendala yang lumrah dihadapi para pelaku usaha yang ingin memasarkan produk mereka ke luar negeri yaitu produk tersebut kurang memenuhi standar pangan internasional. Misalnya, produk tidak dikemas dengan menarik, komposisi dan takaran bahan baku kurang tepat, bahan baku tidak higienis, keamanan produk kurang memadai, dan prosedur produksi yang tidak distandarisasi. Sehingga, produk tersebut pada akhirnya dicekal ketika memasuki pasar luar negeri.

Namun, Budhi sudah mempersiapkan dengan matang untuk mengatasi masalah itu. Caranya yakni dengan mengubah tampilan produknya dalam kemasan berstandar internasional.

Selain itu, ia juga menggandeng sebuah pabrik jamu di Solo, yang mempunyai kapasitas produksi berskala besar. Sehingga, bisa membantunya memproduksi Latam dalam jumlah yang lumayan besar.

Untuk mendukung produksi di pabrik jamu itu, ia mendirikan home industry dengan mengkaryakan warga setempat. “Untuk mengatasi penanaman modal yang besar di awal usaha, saya bekerja sama dengan pemilik pabrik jamu. Sementara sebagai pendukung produksi, saya membangun home industry di Sukabumi,” jelasnya.

Dalam sehari, pabrik jamu itu menghasilkan 10.000 sachet Latam, sementara home industry menyokong 3.000 sachet. Selanjutnya, Latam dipasarkan dengan sistem keagenan dan reseller. “Karena, Latam tidak bisa dijual begitu saja. Dibutuhkan sedikit penjelasan tentang produk ini. Untuk itu, para reseller dan agen tunggal juga mendapat tugas menjelaskan tentang Latam,” pungkasnya.

Check Also

“Naik Kelas” dengan Mengganti Gerobak Dorong dengan Outlet Permanen Berkonsep Restoran

Bakmi Gila Usaha kakilima banyak diminati para pelaku usaha. Selain itu, konsep PKL mempunyai potensi …