Home / Inovasi / Tinggal Disantap

Tinggal Disantap

King Bumbu Rujak

Di zaman serba instan ini, kita tidak perlu repot-repot membuat sendiri segala sesuatunya. Termasuk, membuat bumbu rujak. Ida telah membuatkannya dalam bentuk kemasan dengan merek “King”, yang bisa bertahan hingga setahun. Imbasnya 70% bumbu rujak siap santap ini diserap pasar supermarket, bahkan merambah negeri jiran

e-preneur.co. Menjawab tantangan pasar yang ingin serba praktis, termasuk dalam makan rujak, Nuraidawati pun membuat bumbu rujak kemasan dengan masa kadaluarsa mencapai satu tahun.

Untuk itu, ia membuatnya dari campuran sirsak dan gula aren plus cabe rawit untuk rasa original. Sedangkan untuk rasa terasi, ia menambahkan sedikit terasi.

“Saat itu, saya ingin membuat bumbu rujak sendiri yang berbeda daripada biasanya. Dalam arti, yang sehat dan dapat dinikmati oleh semua kalangan,” tutur Ida, sapaan akrabnya.

Ya, selama ini, bumbu rujak memang hanya dibuat dengan campuran kacang tanah atau pisang. “Saya mencoba menggunakan sirrsak. Ternyata, rasanya enak,” lanjutnya.

Mendapat dukungan dari orang-orang terdekatnya, Ida pun terpacu untuk menyertakan produknya dalam berbagai pameran. Untuk itu, ia mengemas bumbu rujak buatannya dalam botol dengan bobot 330 ml.

“Saya mulai membuatnya dengan tujuan untuk dibisniskan. Karena itu, saya meramunya dengan bahan baku berkualitas. Seperti, gula aren yang saya ambil dari Jawa, sementara sirsaknya pilihan karena kalau asal-asalan akan menimbulkan rasa pahit. Selanjutnya, dicampur dengan cabe rawit dan garam. Selain itu, tanpa bahan pengawet tambahan dan bisa bertahan sampai setahun bila disimpan dalam kulkas,” paparnya.

Enak, sehat, dan dapat dinikmati semua kalangan

Tanpa diduga, setiap kali mengikuti pameran, peminatnya luar biasa. Terutama, dari mereka yang mengetahui manfaat sirsak (buah ini bermanfaat untuk melancarkan peredaran darah dan menormalkan tekanan darah, red.).

Dalam perjalananannya, bumbu rujak yang diberi merek “King” ini mampu menembus Carrefour dan beberapa supermarket. “Bahkan, ada pelanggan dari Malaysia dan Singapura yang rutin membeli untuk kemudian dijual lagi di negara mereka,” ungkap Ida, yang sebagian besar konsumennya berasal dari kalangan Ibu-ibu.

Dalam berproduksi, perempuan yang merintis usahanya pada tahun 2011 ini tidak menemui kesulitan dalam persediaan bahan baku. Berbeda dengan kemasan botolnya, yang membuatnya harus belanja ke Jakarta.

“Saya sudah mencoba mencarinya di Medan, tapi saya tidak menemukan yang kualitasnya bagus. Jadi, saya harus membelinya ke Jakarta. Perlu dicatat, kemasan sangat penting dalam mendukung produk yang ada di dalamnya,” ujar perempuan, yang membuka usahanya di Jalan Brigjend Katamso, Medan, ini.

Kini, usaha yang dibangun dengan modal awal ratusan ribu rupiah ini, telah menjual ribuan botol setiap bulannya. Untuk itu, perempuan yang hanya lulusan Sekolah Menengah Pertama ini membukukan omset puluhan juta rupiah. “70% produk saya diserap di berbagai supermarket, sementara yang 30% dari pembelian langsung ke rumah produksi,” jelasnya.

Dengan cukup lancarnya penjualan di berbagai supermarket dan Carrefour, ia terpacu untuk terus menjaga pelanggannya. “Lidah mereka sudah akrab dengan bumbu rujak buatan saya. Sebagai pedagang, ini sebuah tantangan. Karena itu, saya akan terus mempertahankan rasanya dan menggunakan bahan baku pilihan,” pungkasnya.

Check Also

Cucian Bersih, Ekosistem Terjaga

Deterjen Minim Busa Isu ramah lingkungan membuat para pelaku usaha terus menggali ide untuk menciptakan …