Home / Agro Bisnis / Produksi Meningkat Minimal 30%

Produksi Meningkat Minimal 30%

Galesia

Dengan menggunakan Galesia, varietas unggul kencur yang direkomendasi Balittro, maka terjadi peningkatan produksi minimal 30%. Imbasnya, masalah produktivitas kencur yang masih sangat rendah―hingga tidak mampu memenuhi kebutuhan pasar―pun teratasi

e-preneur.co. Dikenal sebagai salah satu jenis empon-empon atau tanaman obat yang memiliki prospek pasar yang sangat baik. Itulah, kencur (Kaempferia galanga L.).

Dikatakan begitu, sebab, tanaman mungil yang tergolong suku temu-temuan (Zingiberaceae) ini termasuk bahan baku penting dalam industri obat tradisional, kosmetika, obat herbal terstandar, saus rokok, bumbu masakan, bahan makanan, dan bahan minuman penyegar di negeri ini. Bahkan, dalam industri jamu, kencur (beserta dengan jahe, kunyit, dan temulawak) diibaratkan sebagai nasinya.

Di samping itu, tanaman yang sudah dapat dipanen 10 bulan setelah benihnya ditanam ini juga dikenal “pandai menabung”. Maksudnya, jika harga sedang jatuh saat akan dipanen, maka waktu pemanenan bisa ditunda dengan tetap membiarkannya di dalam tanah hingga berumur tiga tahun.

Manfaatnya tidak akan berkurang. Bahkan, jumlah produksi akan bertambah banyak. Sebab, dari satu rimpang (batang di dalam tanah yang membesar, red.) kencur akan tumbuh rimpang berikutnya di atas rimpang sebelumnya setiap tahun, meski ukurannya lebih kecil. Selain itu, dengan bertambahnya umur, patinya juga akan semakin tinggi.

Kencur dalam kondisi basah yang dipanen saat berumur lebih dari 10 bulan, dapat disimpan dalam gudang selama 3–4 bulan. Sedangkan dalam kondisi kering, bisa disimpan dalam gudang selama 3–4 tahun dengan manfaat yang sama dengan kencur segar. Bahkan, harganya jauh lebih mahal, meski ukurannya menyusut, kadar airnya berkurang, dan baunya berubah.

Sayang, tanaman dengan bau yang khas ini sangat rendah produktivitasnya. “Kemungkinan, ini terjadi karena gagal panen, gangguan musim, atau petani kencur beralih ke komoditas lain ketika harga sedang jatuh, dan adanya permainan pasar,” kataOtih Rostiana.

Di samping itu, peneliti dari Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatropika (Balittro), Bogor, ini melanjutkan, pada umumnya para petani tanaman obat hanya memiliki lahan seluas pekarangan dan kencur hanya dijadikan tanaman sisipan (tumpangsari), atau masih menanam kencur dengan cara tradisional. “Jadi, produksinya ya cuma segitu,” ujarnya.

Dengan sistem tanam tradisional, ia menambahkan, berarti pula menggunakan bibit asal-asalan. Sehingga, kencur yang dihasilkan tidak seragam.

Selain itu, biasanya menggunakan pupuk seadanya atau pupuk kandang (pukan) dengan takaran sekenanya. Imbasnya, sentra produksi kencur hanya mampu menghasilkan rata-rata 6–8 ton/ha.

Untuk mengatasi kondisi itu, Balittro berupaya mengubah pola tanam dari tradisional menjadi menurut Standard Operating Procedure (SOP). “Kencur yang ditanam mengikuti SOP berarti menggunakan bibit terpilih, serta cara berbudidaya dan cara pengolahan yang lebih baik. Sehingga, terjadi peningkatan minimal 30%,” jelas perempuan bergelar doktor itu. 

Bibit terpilih yang dimaksud yakni varietas unggul kencur yang dinamai Galesia 1, Galesia 2, dan Galesia 3. Sekadar informasi, orang bule menyebut kencur dengan istilah Indian Galanga. Istilah itu, kemudian diindonesiakan menjadi Galanga Indonesia atau disingkat Galesia.

Galesia 1 cenderung lebih baik digunakan untuk minuman kesehatan, sedangkan Galesia 2 dan Galesia 3 untuk jamu dan kosmetika

Dengan Galesia, ternyata, terjadi peningkatan produksi lebih dari 10 ton/ha. Bahkan, Galesia 1 yang menggunakan pukan, mampu menghasilkan lebih dari 16 ton/ha.

Di samping itu, Galesia yang memiliki asal-muasal yang jelas, nantinya dapat diekspor. Sebab, telah memenuhi Good Agricultural Practice atau standar internasional untuk ekspor tanaman obat.

Menurut Otih, Galesia 1, Galesia 2, dan Galesia 3 dibedakan dari bentuk rimpangnya. Bentuk rimpang Galesia 1 lebih besar dan mampu berproduksi lebih banyak daripada Galesia 2 dan Galesia 3. Sedangkan Galesia 2 dan Galesia 3 memiliki kandungan minyak atsiri lebih tinggi dan relatif lebih mudah beradaptasi di daerah baru dibandingkan Galesia 1.

“Galesia 1 cenderung lebih baik digunakan untuk minuman kesehatan, sedangkan Galesia 2 dan Galesia 3 untuk jamu dan kosmetika,” jelasnya.

Namun, ia melanjutkan, ketiganya rentan terhadap penyakit Bakteri Layu. Dan, sejauh ini, belum dapat diantisipasi. Sebab, belum ada “kerabatnya”. Sekadar informasi, untuk menciptakan varietas unggul yang tahan penyakit, varietas tersebut harus dikawinkan dengan varietas lain atau “kerabatnya” yang tahan penyakit.

Balittro, ia menambahkan, hanya dapat menyarankan, pertama, jangan membeli bibit yang sudah berbentuk rimpang atau sudah dipanen. Tapi, belilah yang masih di dalam tanah. Kalau terpaksa membeli yang sudah dipanen, seleksilah satu persatu dengan cara dibaui atau dipatahkan.

Kedua, jangan menggunakan lahan yang bekas dipakai menanam temu-temuan. Terutama, yang ada penyakitnya. Karena, Bakteri Layu mudah menular. “Bila kedua hal ini sudah dilakukan tapi kencur tetap terkena Bakteri Layu, cepat cabut dan bakar atau semprot dengan bakterisida,” ujarnya.

Sekadar informasi, Bakteri Layu juga menyebabkan gagal panen. Sebab itu, lahan hanya diperbolehkan dua kali ditanami kencur dan temu-temuan lain. “Setelah itu, harus diistirahatkan atau dirotasi dengan tanaman lain selama 2–3 tahun, untuk mematikan penyakit tersebut,” pungkasnya.

Catatan:

Cara budidaya sangat menentukan hasil yang akan diperoleh. Berikut SOP yang harus diikuti dalam berbudidaya kencur:

  1. Persiapan lahan.
  2. Jarak tanam.
  3. Pemupukan
  4. Pemeliharaan
  5. Penyiangan gulma (tanaman yang tidak dikendaki).
  6. Penyulaman (penggantian tanaman yang tidak dapat tumbuh semestinya).
  7. Pembumbunan (membuat lahan yang ditanami lebih tinggi daripada lahan yang tidak ditanami).

Check Also

Menyehatkan Konsumennya, Menguntungkan Petaninya

Beras Hitam Organik Meski buruk rupa, tapi kaya manfaat kesehatan. Tidak mengherankan, bila peminat Beras …