Home / Celah / Dapat Diproduksi dalam Skala UKM

Dapat Diproduksi dalam Skala UKM

Garam Mandi

 

Sama halnya dengan susu dan madu, garam pun dapat digunakan untuk mandi. Sebab, Garam Mandi, begitu istilahnya, juga memiliki manfaat yang baik bagi kulit. Lebih dari itu, Garam Mandi dapat diproduksi dalam skala usaha kecil menengah dan tidak kalah kualitasnya dengan produk impor. Bahkan, BPPT sudah menawarkan formulanya agar kualitasnya meningkat

 

e-preneur.co. Garam, berdasarkan tujuan pemakaiannya, terbagi menjadi, pertama, Garam Dapur atau yang lebih keren disebut Garam Konsumsi. Sesuai namanya, garam ini digunakan untuk konsumsi rumah tangga sehari-hari atau kebutuhan pangan. Karena itu, Garam Dapur harus mengandung yodium dan disyaratkan memiliki kandungan natrium klorida (NaCl) sebanyak 94%–98%.

Kedua, Garam Industri yakni garam yang digunakan dalam pengeboran minyak, pengasinan ikan, dan lain-lain. Garam ini, memiliki kadar NaCl sebesar 95%–99%.

Ketiga, Garam Farmasetis atau yang populer dengan nama Garam Farmasi. Sesuai pula dengan namanya, garam yang berkadar NaCl minimal 99,5% ini lebih banyak digunakan untuk industri farmasi dan kosmetika. Di samping itu, Garam Farmasi juga dapat dimasukkan ke dalam “kelompok” Garam Industri. Secara umum, baik Garam Industri maupun Garam Farmasi, lebih tahan lama atau bahkan tanpa kadaluarsa.

Garam-garam tersebut, dapat diolah lagi menjadi apa yang disebut sebagai produk turunan. Misalnya, Garam Refine yang merupakan produk turunan Garam Farmasi, tapi berfungsi laiknya Garam Konsumsi.

Garam Refine atau yang lebih dikenal dengan nama Garam Meja ini, menurut produsennya yaitu PT Garam, memiliki kadar NaCl sebesar 60%. Sehingga, tidak terlalu asin (low sodium salt) dan cenderung ditujukan bagi para penderita hipertensi. Garam yang dikemas dengan bagus, berwarna putih bersih, serta tidak cepat menggumpal ini sudah dapat dijumpai di pasar.

Namun, untuk memproduksi Refine Salt ini dibutuhkan modal yang sangat besar. Sehingga, hanya usaha dalam kapasitas pabrikan saja yang mampu memproduksinya. Berbeda dengan Garam Mandi, yang dapat diproduksi dalam skala usaha kecil menengah.

Garam Mandi? Ya. Mungkin sebagian dari Anda belum mengetahui bahwa garam pun dapat digunakan untuk mandi, sama halnya dengan susu atau madu. Sementara manfaatnya yakni untuk membuat kulit lebih halus, mengurangi rasa sakit pada otot, atau sekadar relaksasi, dan sebagainya.

Produk turunan ini terbuat dari olahan air Laut Mati, yang sudah terkenal karena memiliki kadar mineral yang jauh lebih tinggi ketimbang air laut “biasa”. Sehingga, efeknya pun jauh lebih bagus.

“Padahal, Garam Mandi buatan Indonesia tidak kalah bagusnya. Sebab, sebenarnya, Garam Mandi itu ‘kan hanya garam yang terbuat dari garam konsumsi atau garam industri. Kemudian, ditambahi beberapa bahan kimia anorganik yang mudah larut, minyak esensial, senyawa enzim, pewarna, dan lain-lain,” kata Eriawan Rismana, Peneliti Madya dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Keharuman dan manfaatnya bagi kulit lebih tahan lama dan terjaga

Bahkan, Bambang Srijanto, Perekayasa Madya BPPT, menambahkan, BPPT pun pernah membuatnya. Lalu, diperkenalkan kepada masyarakat melalui berbagai pameran sebagai ajakan kerja sama.

“Mengingat, kami tidak diizinkan untuk memproduksi dan menjualnya. Kecuali, hanya membuat formulanya dan lantas menyebarluaskannya ke masyarakat,” jelas Bambang.

Di sisi lain, ternyata, masyarakat telah membuat garam yang dapat digunakan sebagai perontok kulit mati (scrub), mencegah keriput, dan penuaan dini ini. Meski, tanpa bantuan teknologi temuan BPPT.

“Ya, beberapa spa sudah memproduksi Garam Mandi mereka sendiri. Harganya tentu jauh lebih mahal. Karena, biasanya dikemas secara eye catching. Selain itu, pasarnya hotel, spa, dan salon untuk kalangan atas,” ujarnya.

Sementara, sarjana teknik kimia dari Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, ini melanjutkan, posisi BPPT di sini “sekadar” meningkatkan kualitasnya. Sehingga, masa hidupnya lebih lama atau tidak mudah rusak.

Berdasarkan pengamatan, Garam Mandi yang telah beredar di negara ini tidak tahan lama (bertahan sekitar dua tahun, red.). Lantaran, garam yang biasa digunakan untuk mandi oleh Cleopatra ini, mengandung (di antaranya) senyawa enzim dan minyak esensial.

Sehingga, lambat laun, produk turunan ini akan mengalami kerusakan. Hal ini, ditandai oleh, salah satunya, aroma yang tidak sedap lagi. Sebab itu, Garam Mandi harus mencantumkan tanggal kadaluarsa.

“Berbeda dengan Garam Mandi buatan BPPT yang mampu bertahan 4 tahun−5 tahun. Sementara, dari segi keharuman dan manfaatnya bagi kulit lebih tahan lama dan terjaga,” pungkasnya. Tertarik dengan formula yang ditawarkan BPPT?

Check Also

Banyak Peminatnya

Rental Portable Toilet Kehadiran toilet umum—terutama yang bersih, nyaman, wangi, dan sehat—menjadi salah satu kebutuhan …