Home / Agro Bisnis / Belum Mampu Memenuhi Kebutuhan Pasar

Belum Mampu Memenuhi Kebutuhan Pasar

Lele Sangkuriang

 

Besarnya tingkat konsumsi lele, membuat peluang menekuni budidaya ikan ini masih terbuka lebar. Khususnya pada Lele Sangkuriang, yang mempunyai banyak kelebihan dibandingkan moyangnya yakni Lele Dumbo. Sayang, kebutuhan yang tinggi itu tetap belum bisa diikuti oleh jumlah pasokannya

 

e-preneur.co. Lele Sangkuriang adalah ikan lele hasil perkawinan antara Lele Dumbo betina gerenasi kedua (F2) dengan Lele Dumbo jantan generasi keenam (F6), yang dilakukan oleh Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi, Jawa Barat. Dibandingkan “moyangnya”, Lele Sangkuriang memiliki lebih banyak keunggulan.

“Jika dibandingkan Lele Dumbo, Lele Sangkuriang memiliki produktivitas lebih tinggi, masa panen lebih cepat, daya tetas telur lebih tinggi, daya tahan terhadap penyakit lebih tinggi, dan rasa daging lebih gurih,” ujar Fauzan Hangriawan, owner Sylvafarm.

Lele Sangkuriang, Fauzan melanjutkan, sudah dapat dipanen dalam tempo 50‒60 hari. “Bagi pemula, mungkin membutuhkan waktu 60 hari. Tapi, setelah 2‒3 kali budidaya, mereka bisa mempersingkat waktu panen menjadi 50 hari,” imbuh sarjana hukum ini.

Dengan masa panen yang lebih singkat, otomatis biaya pakan dan perawatan juga akan berkurang. Sehingga, bisa memperkecil pengeluaran.

Masa panen lebih cepat, tanpa mengurangi kualitas dan citarasa dagingnya

Padahal tingkat konversi pakan pada budidaya Lele Sangkuriang juga tidak tinggi. Jika konversi pakan pada Lele Dumbo 1,2:1, maka pada Lele Sangkuriang 1:1. Artinya, untuk menghasilkan 1 kg daging Lele Sangkuriang, cuma dibutuhkan pakan 1 kg.

“Bahkan, teman kami yang sedang menimba ilmu di Malaysia menggunakan konversi pakan 0,8:1. Artinya, untuk menghasilkan 1 kg daging Lele Sangkuriang hanya membutuhkan pakan 0,8 kg,” jelasnya.

Selain itu, induk Lele Sangkuriang sudah bisa bertelur untuk pertama kalinya pada usia sembilan bulan (induk Lele Dumbo pada usia lebih dari 10 bulan, red.). Sementara dilihat dari jumlah telurnya, induk Lele Sangkuriang mampu bertelur hingga 20.000 butir, induk Lele Dumbo hanya mampu bertelur sebanyak 2.000‒15.000 butir.

Dilihat dari hasil produksinya, daging Lele Sangkuriang memiliki tekstur lebih lembut dan rasa lebih gurih. “Karena itu, Lele Sangkuriang bisa digoreng sampai garing,” katanya.

Dalam perjalanannya, kemajuan teknologi turut serta mempercepat masa panen dan ternyata tetap tidak membuat pasar menjadi jenuh. Mengingat, pasokan daging lele pada umumnya masih jauh dari mencukupi.

Sebagai gambaran, untuk Jakarta dan sekitarnya saja kebutuhan daging lele mencapai 80 ton/hari. Sementara kemampuan memasok baru 60 ton/hari. “Itu pun, sudah termasuk pasokan yang diambil dari Indramayu, misalnya,” ungkapnya.

Karena itu, menurut Fauzan, peluang budidaya lele (khususnya Lele Sangkurian, red.) masih terbuka lebar. “Agar bisa mengakselerasi produksi, saya menawarkan kerja sama kemitraan atau semacam skema plasma,” paparnya.

Untuk itu, ia siap menjual benih Lele Sangkuriang bersertifikat, memberikan teknologi pembesarannya (termasuk manajemen kolam), dan siap membeli hasil panen dari mitra. “Saya berupaya harganya lebih tinggi dari pasar. Meski begitu, mitra boleh menjual ke tempat lain jika harganya lebih baik,” lanjutnya.

Dalam budidaya Lele Sangkuriang, Fauzan menyarankan kepada para pemula untuk memulainya dengan membesarkan 1.000 ekor Lele Sangkuriang terlebih dulu. Kendati, untuk pembesaran ikan ini dalam skala bisnis, seharusnya minimal sebanyak 3.000 ekor.

Sementara untuk kolamnya, ia menyarankan menggunakan kolam terpal. Alasannya, dengan kolam terpal, pemanenan lebih gampang dan hasil panen juga lebih mudah diprediksi. “Sebaiknya menggunakan terpal yang dipres, bukan dijahit, supaya air tidak merembes,” ujarnya.

Populasi ikan disarankan tidak lebih dari 100 ekor per meter persegi. Selain agar ikan mengalami pertumbuhan yang maksimal, juga meminimalkan kanibalisme yang merupakan sifat dasar lele. “Pemberian pakan yang tepat waktu dan populasi yang tidak terlalu padat akan mengurangi kanibalisme,” ucapnya.

Budidaya ini, dimulai dengan mengisi kolam terpal dengan air setinggi 50 cm, lalu diberi pupuk kandang atau kompos. Setelah delapan hari, akan muncul jentik-jentik. Lantas, benih ikan berukuran 4‒6 cm ditebarkan ke dalam kolam.

Selama masa pembesaran itu, pakan akan berganti sekitar empat kali sesuai dengan pertumbuhan ikan. Setiap pergantian jenis pakan, kolam ditambah air setinggi 20 cm. Sehingga, pada saat siap panen tinggi air kira-kira 120 cm.

Kondisi Ph air juga harus selalu dikontrol. Terutama, setiap habis hujan. Karena, biasanya, derajat keasaman air meningkat. “Saya memiliki obat herbalnya dan saya berikan gratis kepada para mitra,” katanya.

Last but not least, harus selalu menjaga kondisi emosi. Sebab, sangat berpengaruh terhadap hasil panen Lele Sangkuriang. “Itu sebabnya selain harus menguasai faktor teknis, kita juga harus selalu berkomunikasi dengan pencipta lele (Tuhan). Karena, banyak faktor non teknis yang juga berpengaruh terhadap keberhasilan budidaya lele pada umumnya,” pungkasnya.

Check Also

Menyehatkan Konsumennya, Menguntungkan Petaninya

Beras Hitam Organik Meski buruk rupa, tapi kaya manfaat kesehatan. Tidak mengherankan, bila peminat Beras …