Home / Celah / Pasar Menanggapi dengan Positif

Pasar Menanggapi dengan Positif

Tanaman Hias Mini

(Midori)

 

Parsel buah-buahan itu biasa, tapi tidak dengan parsel umbi dan rimpang. Sebab, selain tahan lama dan bentuknya unik, jika ditanam umbi dan rimpang akan tumbuh. Imbasnya, dari “sekadar” seminar penulisan karya ilmiah, Midori pun berkembang menjadi bisnis berbasis cinta tanaman yang ditanggapi positif oleh pasar

 

e-preneur.co. Sebagian pecinta tanaman hias berpendapat bahwa tanaman hias yang unik, haruslah memiliki ukuran sangat besar atau sangat tinggi. Sedangkan sebagian yang lain, berpikir bahwa semakin mungil tanaman hias itu, semakin unik dan tentu saja semakin mahal.

Berkaitan dengan itu, banyak tanaman hias yang “bertubuh normal” dihilangkan sifat genetikanya. Sehingga, akan tumbuh sesuai dengan keinginan pasar. Imbasnya, muncullah istilah tanaman hias mini baik yang dihasilkan melalui rekayasa genetika (baca: dikerdilkan, red.), hasil teknik budidaya (terrarium, misalnya), maupun memang sudah dari sononya begitu.

Salah satu―mungkin juga satu-satunya hingga saat ini―tanaman hias mini yang memang sudah dari sononya begitu yaitu Midori. Perlu diketahui bahwa Midori tidak mengacu kepada segala hal yang berbau Jepang, tapi kependekan dari Miniature Doll in Agribouquet.

Istilah yang diciptakan Desty Dwi Sulistyowati ini merupakan rangkaian tanaman hidup, yang memiliki aksen penyemarak berupa umbi dan rimpang yang dihias menjadi boneka. Sehingga, menambah unik rangkaian.

Midori, menurut Desty yang waktu itu masih berstatus mahasiswa Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, menggunakan perpaduan antara tanaman utama (kalanchoe, syngonium, sansiviera, peperomia, dan hypoestes), tanaman pelengkap (ivy, fittonia, chryptanhtus, kucai mini, dan lili paris), serta umbi dan rimpang (ubi jalar, bawang bombay, curcuma, dan lain-lain). “Karena, tanaman-tanaman tersebut memiliki adaptasi yang cukup baik sebagai tanaman indoor dan outdoor,” jelasnya.

Namun, gadis berjilbab ini melanjutkan, Midori juga dimungkinkan menggunakan tanaman-tanaman lain. Asalkan, memenuhi persyaratan tumbuh.

Dengan buket hidup ini, masyarakat bisa belajar merawat tanaman dan menikmati setiap fase pertumbuhannya

Sebenarnya, Midori merupakan contoh pengembangan prinsip ATM (Amati, Tiru, Modifikasi) dari terrarium, parcel tanaman, dan buket bunga. “Umbi dan rimpang yang dihias tersebut terinspirasi dari slide yang ditampilkan dosen saya, ketika seminar penulisan karya ilmiah,” kisahnya.

Ketika itu, ia menambahkan, slide-nya berisi gambar buah-buahan yang dihias. Tapi, jika buah-buahan yang diletakkan sebagai boneka hias di dalam keranjang, tentu tidak akan bertahan lama.

“Solusinya, saya menggunakan umbi dan rimpang. Selain tahan lama dan memiliki bentuk yang unik, jika ditanam umbi dan rimpang akan tumbuh,” paparnya.

Dari sekadar ATM, lalu muncul keinginan untuk membuat produk yang “pertanian banget”. “Saya ingin menyumbangkan sesuatu hal ‘kecil’ untuk perkembangan pertanian Indonesia,” katanya.

Melalui Midori, Desty ingin mengajak masyarakat supaya mencintai tanaman dengan budidaya tanaman praktis. “Dengan sebuah buket hidup seperti itu, masyarakat bisa belajar merawat tanaman dan menikmati setiap fase pertumbuhannya,” lanjutnya.

Keinginan itu meningkat menjadi sebuah bisnis, yang kemudian direalisasikannya pada Februari 2007. Hal ini, berawal dari Program Kreativitas Mahasiswa bidang Kewirausahaan (PKMK) di kampusnya yang sering mengadakan semacam kompetisi bisnis.

Di sini, mahasiswa ditantang untuk mengelola dana hibah, menjadi sebuah usaha yang menguntungkan. Selanjutnya, dengan dana hibah sebesar Rp6 juta dari DIKTI (Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi) yang diperoleh melalui PKMK, Desty pun memulai “bisnis” ini.

Dalam perkembangannya, ia melihat adanya peluang dan respon pasar yang positif terhadap Midori. Sehingga, ia berpikir untuk terus melanjutkan usaha ini.

Apalagi, di awal membangun bisnis ini, Midori mampu meraup omset rata-rata Rp800 ribu/bulan dari penjualan Midori berbentuk keranjang. “Biasanya, untuk suvenir atau parcel dengan ukuran small, medium, dan large,” ungkapnya.

Dalam berproduksi, Tim Midori yang terdiri dari Desty Dwi Sulistyowati, Putri Jasari Dona, Bambang Kurniawan, Arnita Rayendra, dan Ratih Pusparani ini, dibantu masyarakat sekitar kampus dan beberapa adik tingkat yang magang. Sementara hasil produksinya, dipasarkan di Bogor dan sekitarnya, serta diperkenalkan melalui berbagai pameran.

Laiknya sebuah bisnis, Midori juga mengalami kendala. Apalagi, bisnis ini belum pernah ada sebelumnya. Sehingga, setiap masalah yang muncul harus segera dipecahkan dengan banyak cara.

“Salah satu kendala yang berhasil kami pecahkan yaitu pengemasan. Midori memiliki karakter produk dish plant (mudah hancur). Karena itu, sebelum diangkut ke tempat tujuan dan dikemas, Midori kami lapisi dengan wrapping,” ungkapnya.

Ke depannya? “Kami berencana melakukan inovasi produk, membuat one stop shopping of agriculture (sebuah factory outlet khas pertanian yang selaras dengan alam atau tempat-tempat belanja berbagai produk pertanian, red.),” katanya.

Di tempat itu, ia melanjutkan, antara peminat dan pemerhati pertanian bisa saling berbagi informasi. Sehingga, bisa menjadi wadah untuk mengasah skill entrepreneur generasi muda, yang ingin memajukan pertanian Indonesia. “Berikutnya, mengadakan pelatihan dan penyuluhan ke masyarakat, khususnya anak-anak, supaya lebih dekat dengan alam,” imbuhnya.

Dan, ia telah mewujudkan sebagian dari rencananya dengan menambah kreasinya pada tahun 2008, dengan memunculkan Tanobi (Tanaman Ornamental Ubi). Disusul Creative Shop (Cresh), pada tahun 2009.

Check Also

Banyak Peminatnya

Rental Portable Toilet Kehadiran toilet umum—terutama yang bersih, nyaman, wangi, dan sehat—menjadi salah satu kebutuhan …