Home / Inovasi / Menyatukan Penggemar Tas Unik dengan Penghobi Foto

Menyatukan Penggemar Tas Unik dengan Penghobi Foto

Tas Foto

 

Tas dengan gambar tokoh kartun, binatang, atau bunga sudah lumrah di pasaran. Tapi, tas dengan gambar/foto pemiliknya baru Zulasmi yang membuatnya. Sehingga, Tas Foto itu terkesan eksklusif. Apalagi, terbuat dari kain Satin Korea yang tebal dan kulit sapi asli. Sehingga, semakin berbeda dengan produk para pesaingnya

 

e-preneur.co. Para pelaku usaha cenderung “mengidap” pola pikir statis. Dalam arti, ketika produk yang mereka pasarkan makin lama makin laku, mereka akan terus berkutat di produk tersebut.

Padahal, waktu terus berjalan. Seiring dengan itu, terjadi banyak perubahan hingga produk tersebut tidak diinginkan lagi oleh para konsumennya.

Jika tidak segera banting kemudi, bisa dipastikan produk itu akan akan ditinggalkan para konsumennya. Sementara pelaku usahanya akan tergilas oleh para pelaku usaha yang lain, yang notabene aktif mengikuti perkembangan zaman, tapi juga tetap fokus pada jalur bisnisnya.

Tidak ingin mengalami kondisi seperti itu, Zulasmi memutuskan banting setir ketika melihat bahwa usaha produksi tas yang sudah dijalaninya selama 17 tahun tidak mengalami perkembangan. Ia berinisiatif membuat tas bergambar foto diri sendiri, keluarga, kerabat, karib, atau hewan peliharaan yang dicomot dari kamera digital.

“Ide ini muncul, saat saya membaca koran. Dalam pikiran saya, kaos bergambar (bersablon, red.) itu biasa, begitu juga dengan tas bergambar atau bermotif. Tapi, jika gambar-gambar yang melekat pada tas tersebut merupakan foto pribadi, tentu itu padu padan yang unik,” tutur Zul, sapaan akrabnya.

Namun, tidaklah mudah mewujudkan ide ini. Mengingat, untuk membeli mesin press, komputer, printer, dan sebagainya membutuhkan modal yang terbilang besar.

“Apalagi, belum tahu barangnya mau dipasarkan ke mana. Karena, konsumen tidak menyambut dengan antusias. Maklum, harga produk ini mahal. Sedangkan konsumen saya, berasal dari kalangan menengah ke bawah,” ujarnya.

Tak pelak, dengan dua tenaga kerjanya, ia hanya mampu membuat 4‒5 tas. “Itu pun, susah pemasarannya,” tambah Zul, yang selama tiga bulan pertama produknya sama sekali tidak laku.

Enam bulan kemudian, ia mendapat partner yang mengajarinya untuk mengubah segmen konsumennya dari masyarakat menengah ke bawah menjadi masyarakat menengah ke atas. “Saya melihat partner saya menjual produk saya dengan harga 10 kali lipat lebih mahal daripada harga yang saya patok. Lalu, saya menaikkan harga produk saya, tapi dia tidak setuju,” kisah pria, yang menyebut produknya dengan nama Tas Foto.

Gambar tidak akan luntur atau pudar bila tas sedang dicuci

Lantas, mereka pun putus hubungan kerja sama. “Namun, saya sudah mendapatkan ilmu dari dia tentang apa, siapa, di mana, dan bagaimana pasar produk saya,” lanjutnya.

Dengan ilmu itu dan dibantu tenaga kerjanya yang kini berjumlah puluhan orang, rata-rata mampu diproduksi 100 Tas Foto/hari. “80% Tas Foto itu untuk memenuhi pesanan dari Batam, Manado, dan Jakarta. Sedangkan sisanya, untuk persediaan,” katanya. Untuk itu, per bulan, omset ratusan juta rupiah mampu diraupnya.

Dalam menjual Tas Fotonya, Zul memberi harga yang berbeda untuk tas yang sudah jadi dengan tas yang dipesan. “Perbedaan harga ini, berkaitan dengan setting ulang untuk foto yang diberikan konsumen. Sedangkan untuk dokumentasi foto yang kami miliki kan tinggal dicetak,” imbuhnya.

Untuk memesan Tas Foto, konsumen cukup memberikan atau mengirimkan dokumentasi foto pribadinya yang diambil dari kamera digital, dengan ukuran 3R‒5R. Sedangkan untuk jenis dan ukuran tas, tergantung dari keinginan konsumen.

“Untuk model tasnya, konsumen juga dipersilahkan memilih, tanpa charge. Berbeda dengan pengrajin Tas Foto yang lain, yang mengenakan charge untuk pemilihan model tas,” ucap Zul, yang dalam kondisi urgent mampu membuat Tas Foto ukuran standar dalam tempo tiga jam (normalnya satu minggu, red.).

Di workshop-nya, Zul dan anak buahnya biasa membuat Tas Foto berukuran 42 cm x 30 cm hingga yang seukuran travel bag (koper, red.). Di samping itu, dia juga memproduksi berbagai Tas Foto dengan ukuran kecil, seperti dompet handphone, tas untuk menyimpan peralatan make up, dompet perempuan, dan lain-lain.

Apa sih istimewanya? “Tas Foto buatan saya menggunakan kain Satin Korea yang cukup tebal. Para pesaing saya juga menggunakan jenis kain yang sama, tapi yang tipis. Padahal, harga jual produk mereka lebih mahal. Selain itu, produk saya juga menggunakan kulit sapi asli dan tidak luntur atau pudar gambarnya bila dicuci,” katanya.

Demikian yakin Zul dengan kualitas bahan baku produknya, sehingga ia tidak merasa terganggu sama sekali dengan kehadiran para pelaku usaha sejenis. “Kami ikut arus saja. Sebab, meski di pasar kemungkinan akan dijumpai dua produk yang sama dari dua pengrajin Tas Foto yang berbeda, tapi kualitas bahan baku produklah yang menentukan mana yang paling diminati konsumen,” ujar Zul, yang tidak menempelkan merek dagang pada produknya, karena belum memiliki outlet.

Zul juga memberi garansi enam bulan kepada konsumennya. Dalam arti, setiap kerusakan yang terjadi pada Tas Fotonya dapat diperbaiki tanpa charge. “Tapi, lewat enam bulan, setiap perbaikan ada biayanya,” pungkas Zul, yang yakin usaha ini mempunyai prospek yang menjanjikan, selama manusia masih masih hobi berfoto.

Check Also

Cucian Bersih, Ekosistem Terjaga

Deterjen Minim Busa Isu ramah lingkungan membuat para pelaku usaha terus menggali ide untuk menciptakan …