Home / Agro Bisnis / Hasil Kerajinannya Diminati Turis Mancanegara

Hasil Kerajinannya Diminati Turis Mancanegara

Pandan Duri

 

Selama ini, cuma dianggap sebagai tanaman liar yang tidak memiliki nilai jual. Padahal, setelah menjadi barang jadi, sangat diminati para turis. Itulah, Pandan Duri yang banyak ditanam di Desa Grenggeng, Kebumen

 

e-preneur.co. Pemerintah Kolonial Belanda ketika hengkang dari Bumi Pertiwi, bukan hanya meninggalkan hal-hal yang menyakitkan, melainkan juga hal-hal yang bermanfaat hingga saat ini. Salah satunya, kebun atau hutan Pandan Duri di Desa Grenggeng, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah.

Dalam perjalanannya, tanaman ini tumbuh begitu saja baik di pekarangan rumah penduduk maupun hutan. Tidak ada perawatan semestinya.

Namun, menurut Maryani, ketika diketahui jika Pandan Duri memiliki nilai komoditas yang menjanjikan, maka pembudidayaan pun dilakukan. Kebetulan, Pandan Duri merupakan tanaman yang mudah tumbuh di mana saja dan bebas hama.

Sehingga, tidak memerlukan perlakuan khusus. Bahkan, pemupukan pun cukup dilakukan dua kali yaitu setelah bibit ditanam dan menjelang pemanenan.

Untuk mendapatkan hasil yang bagus, idealnya dibutuhkan waktu tanam satu tahun. Memang terbilang lama, tapi setelah panen pertama, 10 hari sekali dapat dipanen sanpai berumur 10 tahun. Selain itu, anakannya dapat diperjualbelikan.

Saat usianya mulai menua, panjang daunnya akan berkurang. “Seandainya petani Pandan Duri mengetahui kelemahan dan keunggulannya, hal ini dapat diatasi dengan mengurangi anakannya,” ungkap Ketua Kelompok Usaha Bersama (KUB) Pandan Sari ini.

Di sisi lain, ia menambahkan, sebenarnya Pandan Duri juga dapat dipanen pada umur kurang dari setahun. Tapi, kualitasnya belum bagus. Sehingga, jika akan dijadikan bahan baku kerajinan, daunnya masih kurang lebar.

Mudah tumbuh di mana saja dan bebas hama

Meski dapat ditanam di mana pun, Pandan Duri tidak dapat ditanam di pot. Karena, asupannya akan kurang. Sementara penduduk desa ini, biasanya menanam dengan sistem tumpang sari.

Jika berminat menanamnya, Anda bisa membeli bibitnya dengan harga Rp5.000,-/batang. Sementara lahan yang dibutuhkan, minimal 700 meter dengan jarak tanam ideal 1 meter.

Namun, apa sebenarnya Pandan Duri? Bila kita berbicara tentang pandan, maka yang terlintas di pikiran yakni daun yang biasa kita gunakan sebagai pewangi atau pewarna alami pada masakan/makanan.

Tapi, berbeda dengan Pandan Duri yang biasanya digunakan sebagai bahan baku kerajinan. Ya, meski keduanya berasal dari “keluarga” yang sama, namun berbeda pemanfaatannya.

Dilihat dari kualitasnya, pandan yang memiliki duri di bagian tengah, pinggir kanan, dan pinggir kiri daun ini dibedakan menjadi Pandan Sari, Pandan Jaksi, dan Pandan Jaran. Dibandingkan yang lain, Pandan Sari memiliki kualitas paling bagus. “Sebab, jika sudah diolah menjadi ayaran (bahan siap anyam, red.) akan berubah warna dari hijau ke putih dan lebih ulet, tapi panjang setelah dianyam hanya 1 meter,” jelasnya.

Sementara Pandan Jaksi, ia melanjutkan, lebih panjang yaitu 1,5 meter, tapi warnanya tidak seputih Pandan Sari. Sedangkan Pandan Jaran, cenderung lentur, panjangnya mencukupi, tapi warnanya keabu-abuan.

Seperti telah dikatakan di atas, Pandan Duri sudah ada di desa ini sejak zaman penjajahan Belanda. Demikian pula dengan pemasarannya, yang dari dahulu kala hanya berkutat di Yogyakarta dan Tasikmalaya. Sementara harga belinya, ditentukan oleh tengkulak.

Saat ini, ayaran dijual dengan harga Rp15.000,-/kg. Sedangkan yang sudah diwarnai (dengan pewarna alami), dihargai Rp25.000,-/kg. Biasanya, ayaran dibeli oleh para pengrajin Pandan Duri yang tidak menanam sendiri tumbuhan ini (termasuk para pengrajin dari Yogyakarta dan Tasikamalaya, red.), rata-rata sebanyak 5−10 kg.

“Ketika kami mengetahui jika ayaran dan complong (bahan setengah jadi, red.) yang kami buat, diolah menjadi produk jadi oleh para pengrajin di Yogyakarta dan Taksikmalaya, kami tertarik untuk juga membuat produk jadi. Seperti, tas, sandal, boks, aksesori, dan sebagainya. Hal ini kami lakukan, di samping untuk mendapatkan tambahan pemasukan, juga untuk membuka lapangan kerja bagi mereka yang sedang menganggur,” ujarnya.

Dalam berproduksi (yang baru dimulai pada tahun 1980an, red.), KUB ini memang belum selihai para pengrajin di Yogyakarta dan Tasikmalaya. Selain itu, pasar sudah mereka raih terlebih dulu.

“Sehingga, kami pun sulit bersaing. Sama dengan tidak mudahnya kami memberi tahu pasar, bila pandan yang mereka gunakan berasal dari desa kami,” ungkapnya.

Imbasnya, KUB ini masih belum bisa menolak permintaan complong dari Yogyakarta dan Tasikmalaya. Sekadar informasi, complong-complong yang dibuat dengan ukuran 40 cm, 50 cm, dan 60 cm ini dijual dengan harga Rp8.000,- sampai Rp14.000,- per lembar untuk yang natural. Sedangkan yang motif, terutama yang berwarna hitam dan coklat dijual Rp15.000,-/lembar dan yang dikepang dihargai Rp20.000,-lembar.

Meski begitu, menurut Maryani, prospek bisnisnya cukup bagus. Karena, bisa membuka lapangan kerja. Kendati, untuk itu, modalnya tidak sedikit.

“Tapi, kami siap memenuhi permintan dalam jumlah yang sangat banyak,” pungkas Maryani, Saat ini, pasar produk jadi Pandan Duri ada di Yogyakarta, Tasikmalaya, Solo, dan Jakarta, serta Bali. Selanjutnya, melalui buyer, dijual ke Jepang, Filipina, Korea, serta sebagian Belanda dan Prancis.

Check Also

Menyehatkan Konsumennya, Menguntungkan Petaninya

Beras Hitam Organik Meski buruk rupa, tapi kaya manfaat kesehatan. Tidak mengherankan, bila peminat Beras …